Midjourney Banting Setir! Dari Bikin Gambar Estetik ke Scan Tubuh Manusia: AI Udah Mulai Nyeleneh?
Siapa yang sangka, Midjourney, sang jagoan pembuat gambar-gambar estetik nan absurd, kini banting setir ke dunia medis. Dari menciptakan naga terbang di lanskap digital, sekarang mereka mau mengintip isi perut kita. Ya, Anda tidak salah baca! Perusahaan AI yang selama ini dikenal karena kemampuannya menghasilkan visual tingkat tinggi, kini mengembangkan sebuah proyek pemindai ultrasonik seluruh tubuh. Ini bukan lelucon April Mop, ini serius.
Sebagai majikan akal, tentu kita bertanya-tanya: bagaimana ini bisa menguntungkan kita? Bayangkan, pemeriksaan kesehatan yang biasanya memakan waktu berjam-jam, kini bisa selesai hanya dalam 60 detik! Jauh lebih cepat dari MRI tradisional yang butuh 60 hingga 90 menit hanya untuk satu kali pindai. Cukup berdiri di atas platform, tubuh Anda perlahan dicelupkan ke dalam air, dan serangkaian sensor ultrasonik di sekeliling akan memindai setiap inci tubuh Anda. Mirip cara lumba-lumba mencari ikan di laut, hanya saja ini untuk mencari tahu kenapa perut Anda mules setelah makan seblak level 5.
Lalu, di mana peran AI dalam proses ini? Di sinilah kejeniusan Midjourney bermain. Pemindai ini akan menghasilkan terabyte data setiap detiknya. Nah, AI Midjourney akan bekerja keras untuk mengubah gelombang suara itu menjadi peta 3D tubuh yang sangat presisi. Jadi, bukan cuma bisa bikin gambar kucing bertopi koboi, tapi juga bisa melihat ginjal Anda lagi ngopi atau tidak.
Tentu saja, Midjourney tidak sendirian dalam kegilaan ini. Mereka bekerja sama dengan Butterfly Network, spesialis pemindai ultrasonik genggam. Selain itu, ada juga Ahmad Abbas, kepala hardware Midjourney yang dulunya bekerja di proyek Vision Pro Apple. Jadi, ini bukan proyek ‘coba-coba’ ala robot yang kurang piknik. Mereka serius, seolah-olah dunia medis sudah bosan dengan cara lama yang kaku.
Ambisi Midjourney juga tidak main-main. Mereka berencana membuka “Midjourney Spa” pertama di San Francisco pada tahun 2027. Di sana, Anda bisa menikmati fasilitas spa biasa, plus pulang dengan hasil pindaian tubuh lengkap dan “perpustakaan data kesehatan yang sangat besar”. Targetnya? 50.000 pemindai di seluruh dunia pada tahun 2031, dengan kapasitas satu miliar pindaian per bulan. Sebuah target yang bikin bos Nvidia pun geleng-geleng kepala. Ngomong-ngomong soal infrastruktur AI, pernahkah Anda berpikir seberapa besar “otot” yang dibutuhkan untuk proyek ambisius seperti ini? Baca juga tentang bagaimana Bos Nvidia Bangun Infrastruktur AI Terbesar Sepanjang Sejarah. Tentunya, semua ini butuh persetujuan FDA, lho, bukan cuma janji manis robot.
Namun, di tengah semua kecanggihan ini, kita harus ingat: AI hanyalah alat. Kaulah majikan yang punya akal. Data kesehatan yang dihasilkan AI itu luar biasa, tapi siapa yang menganalisisnya? Siapa yang membuat diagnosis? Siapa yang memutuskan tindakan medis selanjutnya? Tentu saja, manusia. Robot bisa memroses data, tapi empati, intuisi, dan kebijaksanaan seorang dokter takkan bisa tergantikan. Jangan sampai kita terlena dengan janji ‘kesehatan otomatis’ hingga lupa bahwa akal sehat kita adalah penentu utama.
Ini adalah saat yang tepat untuk Anda mengasah kemampuan Anda dalam mengendalikan AI. Agar tidak kalah canggih dari robot yang kini mulai merambah dunia medis, kuasai visual AI dan jadilah majikan sejati dengan Belajar AI | Visual AI. Atau, jika Anda ingin benar-benar mengendalikan setiap aspek teknologi, termasuk AI, agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi, coba AI Master.
Lagipula, kita tidak mau kan, nanti dokter Anda cuma mengandalkan diagnosis dari AI yang kurang piknik dan malah membuat Anda salah minum obat? Sama seperti robot dokter yang cuma bisa menyarankan parasetamol untuk semua penyakit, padahal Anda sudah terbiasa dengan “halusinasi” AI lain di ranah kesehatan. Kalau Anda penasaran dengan “halusinasi” robot di dunia medis, Anda bisa membaca artikel ChatGPT Jadi Dokter Dadakan: Beri Data Medismu? Siap-Siap Kena Diagnosis Halusinasi dan Bocornya Privasi!
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pada akhirnya, secanggih apapun robot ini, ia tidak akan bisa menekan tombol ‘On’ atau ‘Off’ tanpa perintah manusia. Mereka hanyalah tumpukan kode yang menunggu sentuhan majikan. Dan ingat, sikat gigi itu penting, bahkan kalau gigimu cuma ada satu.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Midjourney via TechCrunch