AI Ambil Alih Dapurmu? DoorDash Kini Bisa Order Pakai Foto dan Perintah Suara!
Di tengah hiruk pikuk hidup yang serba cepat, kini ada lagi satu “asisten” baru yang siap melayani kemalasan kita: Ask DoorDash. Ya, aplikasi pesan antar makanan dan belanja ini baru saja meluncurkan chatbot AI yang memungkinkan para majikan sejati untuk memesan makanan atau kebutuhan dapur hanya dengan perintah teks dan bahkan foto! Lupakan scroll-scroll menu sampai mata juling, era “majikan cukup tunjuk” sudah di depan mata. Tapi, apakah ini benar-benar mempermudah, atau justru membuat kita semakin bergantung pada robot yang kadang masih perlu disekolahkan?
ISI (EEAT):
DoorDash, perusahaan pengantar makanan dan kebutuhan sehari-hari, baru-baru ini mengumumkan fitur chatbot AI terbarunya yang diberi nama “Ask DoorDash”. Fitur ini dirancang untuk mengubah cara pengguna berinteraksi dengan aplikasi, dari yang tadinya harus menelusuri daftar panjang restoran dan toko, kini cukup dengan bahasa sehari-hari. Kamu bisa bilang, “Saya lagi pengen makan malam yang mengenyangkan untuk keluarga berempat,” dan AI akan menyajikan daftar restoran yang sesuai.
Yang lebih menarik, AI ini bisa “melihat” dan “memahami”. Bayangkan, kamu bisa memotret resep dari buku masak atau daftar belanjaan tulisan tangan, lalu AI akan secara otomatis memasukkan semua item dengan jumlah yang tepat ke dalam keranjangmu. Bahkan, dia cukup cerdas untuk bertanya, “Sudah punya gula atau mentega di rumah, Majikan?” Lumayan, kan, daripada dobel beli. Fitur ini juga memungkinkanmu untuk memesan ulang keranjang belanja sebelumnya atau meminta rekomendasi berdasarkan riwayat pesananmu yang mungkin kurang piknik.
Tentu saja, DoorDash bukan satu-satunya yang terpukau oleh janji manis AI. Kompetitor seperti Uber Eats juga meluncurkan “Cart Assistant” bertenaga AI, dan Instacart menawarkan “AI shopping assistant” kepada pelanggannya. Ini menunjukkan bahwa raksasa teknologi ini sedang berlomba-lomba menjadikan AI sebagai bagian standar dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan ini, ada satu hal yang tak bisa digantikan: akal sehat dan intuisi majikan (manusia).
Sehebat-hebatnya AI menganalisis “mood” atau “dietary preferences” dari data, dia tidak akan pernah bisa sepenuhnya memahami nuansa selera lidahmu yang kadang berubah-ubah seperti cuaca. AI mungkin bisa menyarankan restoran kid-friendly, tapi dia tidak akan tahu drama di balik keinginan anak bungsu yang tiba-tiba ingin makan brokoli padahal kemarin sumpah-sumpah tak akan menyentuhnya. Dalam hal ini, AI hanyalah asisten yang rajin tapi kaku, selalu butuh bimbingan dan koreksi dari majikan yang punya akal.
Bagaimana AI memahami prompt dan foto-foto yang kita berikan? Ini adalah seni tersendiri. Bagi kamu yang ingin menguasai bagaimana AI menginterpretasikan input visual, mungkin artikel Jurus Jitu Bikin ChatGPT Mikir Keras bisa memberimu pencerahan. Selain itu, kemampuan AI dalam memproses bahasa manusia juga terus berkembang. Untuk memahami lebih jauh, kamu bisa membaca Praktika: Ketika Robot Belajar Ngomong Bahasa Manusia.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
SOFT-SELL:
Agar kamu tidak jadi korban fitur AI yang ‘kurang piknik’ ini, pastikan kamu selalu mengendalikan AI-mu. Pelajari caranya di AI Master. Atau, jika kamu ingin menguasai visual AI seperti fitur canggih ini agar hasil jepretanmu bisa langsung dimengerti robot, intip Belajar AI | Visual AI. Ingat, robot bisa meniru, tapi hanya majikan yang punya visi.
PENUTUP (PUNCHLINE):
Pada akhirnya, fitur-fitur canggih seperti Ask DoorDash adalah bukti bahwa AI terus berevolusi menjadi alat yang semakin berguna. Namun, jangan sampai kita terlena dan menyerahkan sepenuhnya kendali pada algoritma. Tanpa jari manusia yang menekan tombol dan akal manusia yang berpikir kritis, AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu perintah. Kaulah majikan yang punya akal, jangan biarkan robot yang kurang piknik mengambil alih dapurmu.
OUT-OF-THE-BOX:
Ngomong-ngomong, saya baru saja mencoba memesan nasi goreng pakai gestur tangan ke kulkas, tapi sepertinya AI kulkas saya belum update. Mungkin dia masih mikir itu kode morse untuk minta dibersihkan.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Pavlo Gonchar/SOPA Images/LightRocket via Getty Images