Elon Musk dan Janji Ekonomi Surya: Kenapa Sekarang Malah ‘Ngegas’ Pakai Gas Alam?
Dulu, Elon Musk gembar-gembor soal “ekonomi listrik tenaga surya” yang akan menyelamatkan Bumi. Sebuah visi yang, jujur saja, terdengar seperti master plan seorang majikan sejati yang peduli lingkungan. Tapi, seperti pepatah “lidah tak bertulang,” janji-janji itu kini seolah lenyap ditelan kepulan asap gas alam. Berdasarkan laporan terbaru dari IPO SpaceX, perusahaannya, xAI, justru memilih bahan bakar fosil yang kurang piknik itu untuk menggerakkan pusat data AI-nya. Jadi, bagaimana kita para majikan bisa menyikapi drama ini?
Fakta di lapangan menunjukkan, xAI membeli puluhan turbin gas alam dan berencana menginvestasikan miliaran dolar lagi di sana. Sebuah ironi yang membuat dahi mengernyit, mengingat Tesla dibangun di atas fondasi energi bersih. Padahal, SpaceX sendiri menghabiskan ratusan juta dolar untuk Cybertruck dan Megapack Tesla. Lalu, solar panelnya? Entahlah, mungkin sedang hibernasi.
Ini bukan berarti solar power hilang sepenuhnya dari visi Musk. Oh, tidak. Ia hanya dipindahkan ke “tempat yang lebih layak”: luar angkasa. SpaceX kini terobsesi dengan pusat data orbit yang katanya bisa menghasilkan energi lima kali lipat dari yang ada di Bumi. Konsepnya sih, cemerlang. Bayangkan, server AI yang berjemur 24/7 di bawah sinar matahari abadi tanpa protes tetangga soal kebisingan genset. Tapi, coba pikirkan baik-baik, majikan. Apakah semudah itu mengirim pusat data ke orbit? Biaya roket, perlindungan chip dari radiasi luar angkasa, dan tantangan mendistribusikan beban kerja AI di antara satelit-satelit itu, semua ini bukan perkara sepele. Proyek gila Elon Musk ini bisa jadi hanya halusinasi semata.
Bukan cuma biaya, kebutuhan energi AI juga bikin kepala pusing. Musk memprediksi permintaan komputasi AI akan tumbuh terawatt-skala per tahun. Angka yang fantastis, mengingat seluruh pusat data dunia saat ini baru menggunakan sekitar 40 gigawatt. Kalau robot-robot ini terus “haus” daya seperti ini, planet kita bisa “kena getahnya.” Untuk informasi lebih lanjut tentang dilema ini, baca juga artikel kami: Ketika AI Haus Daya: Gas Kembali Berjaya, Bumi Kena Getahnya!
AI memang alat yang luar biasa, tapi ingatlah, ia tidak bisa berpikir sejauh akal manusia. Saat Musk berpikir “first principles” hingga ke luar angkasa, mungkin kita harus mengingatkannya pada prinsip-prinsip dasar di Bumi. Membangun pusat data luar angkasa itu mahal, dan mengirim panel surya dengan truk flatbed jauh lebih efisien daripada mengirimnya dengan roket.
Jadi, di tengah ambisi “antariksawan” sang majikan teknologi, kita harus tetap punya akal sehat. Belajar mengendalikan AI, memahami dampaknya, dan tidak mudah terbawa janji manis yang seolah-olah akan menyelesaikan semua masalah tanpa usaha di Bumi. Jika Anda ingin menjadi majikan yang lebih cerdas dalam mengelola teknologi AI, saatnya Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Karena pada akhirnya, sehebat apapun AI, kaulah yang punya akal.
Penutup:
Dulu ia ingin kita ke ekonomi surya, sekarang malah “ngegas” pakai gas alam. Sepertinya Elon lupa kalau Master Plan Part 3 itu tentang eliminasi bahan bakar fosil, bukan memindahkan masalah ke orbit. Mungkin perlu dikirimi peta jalan Bumi dulu, biar nggak nyasar terus.
Oh ya, jangan lupa juga cek tanggal kedaluwarsa yogurt di kulkas. AI belum tentu bisa memprediksi kebusukan seakurat hidungmu.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Elon Musk has given up on solar power (on Earth) | TechCrunch”
Gambar oleh: Krisztian Bocsi/Bloomberg via Getty Images