Konflik RaksasaMasa DepanRobot KonyolSidang Bot

Nanoleaf Ganti Kulit: Dari Lampu Disko Jadi Robot Medis (Karena Smart Home Sudah Bosan)

Pernah merasa rumah pintar Anda lebih mirip babu teknologi yang nurut-nurut saja ketimbang asisten cerdas? Nah, sepertinya Nanoleaf, perusahaan lampu pintar yang kita kenal dengan panel-panel estetiknya, juga punya keluhan yang sama. Mereka baru saja mengumumkan ‘evolusi merek’ besar-besaran, bukan lagi cuma jualan lampu yang bisa kedap-kedip sesuai irama lagu. Kini, Nanoleaf bertaruh pada robot, terapi cahaya merah, dan… tentu saja, AI. Lalu, bagaimana kita sebagai majikan bisa memanfaatkan pergeseran strategi perusahaan lampu yang mulai ‘kurang piknik’ ini?

Selama dua tahun terakhir, Nanoleaf memang agak adem ayem. Sementara kompetitornya seperti Govee dan Philips Hue rajin meluncurkan produk baru dengan fitur inovatif, Nanoleaf justru sibuk ‘bertapa’. CEO dan cofounder Nanoleaf, Gimmy Chu, blak-blakan bilang, “Dunia smart home mulai membosankan.” Menurutnya, standar terbuka seperti Matter justru membuat lampu pintar jadi komoditas murah, persis seperti yang diprediksi banyak pihak empat tahun lalu saat Matter diluncurkan. Bayangkan, sekarang Ikea saja bisa menjual bohlam pintar warna-warni seharga Rp150 ribuan yang kompatibel dengan banyak platform. Buat apa pusing-pusing inovasi kalau ujung-ujungnya harga jadi medan perang?

Di sinilah peran AI masuk. Chu melihat AI generatif sebagai gelombang inovasi berikutnya, khususnya ’embodied AI’ di mana teknologi bisa eksis dan berinteraksi langsung dengan dunia nyata. Ini bukan cuma menaruh ChatGPT di speaker, tapi “menanamkan kecerdasan ke dalam hardware yang benar-benar berguna,” katanya. Meskipun masih merahasiakan detail, Nanoleaf akan meluncurkan setidaknya tiga produk ’embodied AI’ tahun ini: semacam mainan bertenaga AI, teman meja, dan mikrokontroler robotik. Lucu juga membayangkan mainan AI yang bisa disuruh-suruh, asalkan jangan sampai dia malah curhat soal beban kerjanya atau malah menggilas kaki majikannya seperti robot pemotong rumput yang kena hack.

Selain robot dan AI, Nanoleaf juga melirik pasar produk kesehatan. Masker terapi cahaya merah yang mereka luncurkan pada tahun 2025 ternyata jadi salah satu produk terlaris. Kini, mereka akan merilis empat perangkat terapi cahaya merah baru untuk wajah dan tubuh, lengkap dengan pengaturan pemanas dan pijat. Seperti banyak pasar gadget kesehatan lainnya, terapi cahaya merah konsumen berada di antara sains dan hype. Terlebih lagi, dengan tren raksasa seperti Google yang juga terjun ke AI kesehatan melalui Fitbit Air, pasar ini jelas makin ramai. Nanoleaf mencoba masuk dengan harga yang lebih terjangkau, berkat keahlian mereka di bidang pencahayaan LED dan rantai pasokan.

Meski begitu, Chu menegaskan bahwa lampu pintar masih akan menjadi inti bisnis mereka, menyumbang 80 hingga 90 persen pendapatan. Mereka akan terus merilis form factor baru dan pembaruan, termasuk dukungan untuk Matter 1.4 dan 1.5. Ia mengakui bahwa inovasi di balik pencahayaan rumah dan gaming adalah soal konektivitas yang rumit, dengan “darah, keringat, dan air mata untuk menyelesaikan Thread dan Matter.” Kini, semua upaya R&D itu akan diarahkan ke tantangan baru, termasuk membuat produk pencahayaan lebih kompatibel dengan AI melalui API terbuka.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Namun, antusiasme CEO terhadap ‘hal besar selanjutnya’ ini terkadang bikin pelanggan lama Nanoleaf geleng-geleng kepala. Mereka mungkin lebih berharap Nanoleaf fokus menyempurnakan ekosistem lampu yang sudah ada, ketimbang sibuk bikin robot atau alat terapi cahaya yang belum tentu relevan. Tapi ya sudahlah, namanya juga perusahaan teknologi, kalau tidak ‘ngebut’ inovasi, dibilang ketinggalan kereta.

Jika Anda ingin memastikan bahwa AI yang Anda miliki tidak cuma jadi lampu disko pintar, tapi juga asisten yang bisa diandalkan, penting untuk memahami bagaimana mengendalikan teknologi ini. Untuk mulai memegang kendali penuh, coba intip program AI Master. Dijamin, Anda tidak akan kalah dari AI yang kadang sok tahu. Atau, jika Anda tertarik dengan aspek visual AI yang diisyaratkan oleh Nanoleaf, Belajar AI | Visual AI bisa jadi langkah awal agar Anda tidak cuma bisa menyetel warna lampu, tapi juga merancang masa depan visual dengan AI.

Ingat, sehebat-hebatnya robot atau secanggih-canggihnya AI, mereka tetaplah kumpulan kode yang butuh ‘tangan’ manusia untuk berfungsi. Kaulah Majikan yang Punya Akal.

(Eh, lupa matiin kompor. Semoga si AI rumah pintar saya ingat, ya.)

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Nanoleaf via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *