4 Juta Mobil GM Kini Punya Otak Gemini, Tapi Jangan Harap Bisa Parkir Sendiri di Hati Dia
Para Majikan AI, siapkan telinga (dan dompet) kalian! Dunia otomotif baru saja kedatangan ‘asisten’ baru yang katanya super pintar. General Motors (GM) mengumumkan akan menyematkan asisten AI Google Gemini ke sekitar empat juta kendaraannya di Amerika Serikat. Ini bukan sekadar tempelan stiker ‘AI Inside’, melainkan peningkatan sistem infotainment yang dijanjikan akan membuat pengalaman berkendara lebih ‘cakap’. Tapi, bagaimana kita sebagai majikan bisa benar-benar memanfaatkan kepintaran si robot ini, alih-alih cuma jadi korban fitur pamer yang kurang piknik?
Menurut pengumuman dari GM, mobil-mobil Cadillac, Chevrolet, Buick, dan GMC produksi tahun 2022 ke atas yang sudah dilengkapi Google Built-in akan mendapatkan ‘otak’ Gemini melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air. Mereka mengklaim ini adalah salah satu penyebaran Gemini terbesar di industri, dan pengemudi akan merasakan peningkatan dari Google Assistant yang lama ke asisten AI yang lebih cerdas dan intuitif.
Bayangkan, Anda bisa menyuruh mobil mengirim pesan, mencari rute terbaik (walau macet tetap macet), atau bahkan merekomendasikan musik favorit tanpa harus sentuh layar. Kedengarannya seperti mimpi bukan? Sebuah asisten yang siap sedia, bisa diajak ngobrol santai, tidak kaku seperti robot, dan bahkan belajar dari kebiasaan kita. Ini seperti punya co-pilot yang tidak pernah protes soal pilihan lagu dangdut koplo Anda.
Namun, mari kita letakkan kaki di bumi. Sehebat-hebatnya Gemini yang konon bisa diajak ‘ngobrol’ lebih natural, AI ini tetaplah alat yang butuh perintah. Ia tidak akan pernah bisa merasakan frustrasi saat terjebak kemacetan Jakarta atau memahami kode-kode non-verbal dari pengemudi lain di jalan. Kecerdasan emosional dan intuisi manusia tetap tak tergantikan. Ingat, saat asisten AI di mobil Anda tiba-tiba menyarankan lagu galau karena ia mendeteksi suasana hati Anda yang sedang merana di jalan, ia hanya memproses data, bukan merasakan. Ia hanya “merasa” bodoh.
GM juga membanggakan pencapaian sistem Super Cruise mereka yang sudah menempuh satu miliar mil tanpa tangan di setir. Ini memang pencapaian yang mengagumkan, dan jelas menjadi sinyal perang bagi kompetitor seperti Tesla yang mengkla-kla paling jago soal mobil otonom. Tapi perlu diingat, Super Cruise ini bukan sistem otonom penuh. Pengemudi tetap harus siap mengambil alih kapan saja. Jadi, jangan bayangkan Anda bisa santai tidur di belakang kemudi sambil membiarkan mobil mencari jalan pulang setelah begadang. Kecuali Anda memang ingin “pulang” ke bengkel lebih awal.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Update Algoritma.
Saat kita bicara tentang mengendalikan teknologi canggih seperti ini, penting bagi kita para majikan untuk benar-benar memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI. Jangan sampai kita menyerahkan kendali sepenuhnya, apalagi sampai mobil Anda malah meminta pinjaman online karena merasa butuh ‘upgrade’ ke Gemini Pro Max. Untuk memastikan Anda selalu menjadi majikan yang cerdas dan bukan babu teknologi, kuasai AI dengan program AI Master kami. Belajar cara memberi perintah yang efektif, memahami batasan algoritma, dan memanfaatkan potensi AI tanpa kehilangan akal sehat.
Pada akhirnya, mobil GM dengan Gemini-nya, atau bahkan mobil paling otonom sekalipun, hanyalah tumpukan besi dan kode. Otak sesungguhnya yang memutuskan kapan gas, kapan rem, dan kapan harus maki-maki klakson mobil di depan, tetaplah otak Majikan. Tanpa sentuhan dan logika manusia, AI ini hanya mesin yang berlagak pintar. Jadi, jangan pernah biarkan robot menguasai jalanan, apalagi pikiran Anda.
Omong-omong, tadi pagi saya menemukan sikat gigi saya ada di dalam kulkas. Mungkin itu sinyal bahwa saya juga butuh asisten yang lebih pintar, atau setidaknya lebih tahu tempat barang.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge” dan “General Motors”.
Gambar oleh: General Motors via The Verge