Dassault Suntik Dana $200 Juta ke Startup AI, Mau Bikin Jet Tempur Rafale Jadi Robot Pembunuh Mandiri?
Jet Tempur Canggih Dapat Otak Baru, Pilot Manusia Makin Mirip Penumpang VIP
Kabar besar datang dari Eropa. Produsen jet tempur legendaris, Dassault Aviation, baru saja menyuntikkan dana segar $200 juta ke sebuah startup AI pertahanan bernama Harmattan AI. Langkah ini sontak melambungkan nilai perusahaan rintisan itu menjadi $1.4 miliar, menjadikannya seekor unicorn di industri yang penuh kerahasiaan.
Bagi seorang Majikan, berita ini bukan sekadar angka fantastis. Ini adalah sinyal keras bahwa kendali atas mesin-mesin paling mematikan di dunia sedang bergeser. AI tidak lagi hanya membuat gambar atau menulis puisi; ia sedang dipersiapkan untuk menjadi co-pilot, bahkan pilot utama, di dalam kokpit pesawat tempur. Tugas kita sebagai Majikan adalah memahami di mana batas kemampuan mesin ini, dan di mana akal kita mutlak diperlukan.
Logika di Balik Duit Ratusan Juta Dolar
Mari kita bedah faktanya. Harmattan AI bukanlah startup AI biasa. Mereka spesialis dalam membangun perangkat lunak otonomi dan sistem misi untuk pesawat militer. Sederhananya, mereka membuat “otak” yang memungkinkan drone dan jet tempur untuk berpikir dan bertindak sendiri. Dassault, yang terkenal dengan jet Rafale-nya, melihat ini sebagai masa depan pertempuran udara.
Kesepakatan ini pada dasarnya bertujuan untuk menanamkan kemampuan AI langsung ke dalam generasi terbaru jet Rafale dan drone tempur. Tujuannya? Skalabilitas dan kedaulatan. Perang di Ukraina menjadi lonceng peringatan bagi NATO; pertempuran modern dimenangkan oleh mereka yang bisa mengerahkan drone dan sistem cerdas secara masif dan cepat. Manusia punya batas, tapi AI bisa diproduksi tanpa henti.
Harmattan AI kini punya tugas berat: meningkatkan produksi untuk platform pencegat drone, perang elektronik (electronic warfare), dan sistem Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR). Mereka yang tadinya ingin menjadi pesaing raksasa pertahanan, kini memilih berkolaborasi dengan salah satunya.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.
Apa yang AI Jet Tempur TIDAK BISA Lakukan
Di sinilah akal seorang Majikan berperan. Sebuah AI yang terpasang di jet tempur memang bisa memproses data sensor ribuan kali lebih cepat dari pilot manusia. Ia bisa mengunci target dalam hitungan milidetik dan melakukan manuver yang mustahil bagi tubuh biologis. Tapi, AI itu bodoh secara fundamental.
AI ini seperti seorang asisten yang sangat patuh dan cepat, tapi tidak punya nurani. Ia bisa menghitung probabilitas keberhasilan sebuah serangan, tapi tidak bisa memahami konsekuensi politik jika targetnya keliru. Ia bisa mengidentifikasi pola pergerakan musuh, tapi tidak bisa membuat keputusan etis di zona abu-abu. Apakah target yang bergerak cepat itu konvoi militer atau bus sekolah yang salah jalan? AI hanya melihat data, bukan nyawa.
Melihat AI sudah merambah ke jet tempur, jelas bahwa kemampuan mengendalikan dan memberi perintah pada AI bukan lagi sekadar skill tambahan, tapi skill bertahan hidup. Jika para jenderal saja belajar memerintah AI di medan perang, apalagi kita di ‘medan perang’ bisnis. Inilah saatnya untuk benar-benar menjadi majikan, bukan sekadar pengguna pasif. Anda perlu mengendalikan AI agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.
Kendali Tetap di Tangan Majikan
Jadi, sementara para insinyur sibuk menciptakan “otak” buatan yang semakin canggih, peran manusia sebagai Majikan justru semakin krusial. Kita yang menentukan aturan main, menetapkan batasan moral, dan pada akhirnya, memberikan perintah final. Sebesar apa pun pendanaannya dan secanggih apa pun algoritmanya, AI pertahanan ini tetaplah besi tua dan barisan kode yang diam.
Tanpa seorang Majikan manusia yang memberi target, menyetujui misi, dan menekan tombol ‘GO’, ia tak lebih dari kalkulator paling mahal di dunia yang dipasangi sayap dan rudal.
Ngomong-ngomong, kenapa kerupuk di warteg kalau kena angin jadi alot ya?
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.