Claude Anthropic Mendadak Ngetop: Jualan ‘Anti-Perang’ atau Memang Lebih ‘Pintar’ dari ChatGPT?
Sebagai majikan yang bijak, kita perlu tahu alat mana yang bukan cuma bekerja keras, tapi juga bisa dipercaya. Baru-baru ini, Anthropic Claude, si asisten AI yang namanya makin sering disebut, menunjukkan taringnya. Popularitasnya meroket tajam, bukan cuma karena otaknya makin encer, tapi juga karena drama ‘moral’ melawan institusi paling militeristik di dunia. Lantas, apakah Claude memang lebih pantas kita pekerjakan daripada asisten digital lainnya yang masih doyan perang?
Menurut laporan dari TechCrunch, berdasarkan analisis jutaan transaksi kartu kredit konsumen AS oleh Indagari, langganan berbayar Claude telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir. Ini bukan main-main, terutama karena sebagian besar datang dari pengguna tier “Pro” yang rela merogoh kocek $20 per bulan. Pertumbuhan ini melonjak tajam antara Januari dan Februari, dan terus berlanjut hingga awal Maret. Menariknya, banyak juga pengguna lama yang kembali memeluk Claude.
Lalu, apa resep rahasianya? Pertama, iklan Super Bowl Anthropic yang menyindir ChatGPT (yang justru mulai memasang iklan) dengan janji bahwa Claude tidak akan pernah melakukannya. Ini cerdik, mirip asisten rumah tangga yang pamer lebih hemat daripada tetangga sebelah. Tapi yang lebih bombastis adalah ‘konflik raksasa’ Anthropic dengan Departemen Pertahanan AS.
Claude Anthropic secara tegas menolak model AI-nya digunakan untuk operasi militer mematikan (membunuh orang dengan AI) atau pengawasan massal terhadap warga negara Amerika. Sebuah pernyataan yang bikin AI lain seolah jadi “Sistem yang Kurang Piknik”. CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan membuat pernyataan publik yang tegas, meskipun Pentagon kemudian melabeli perusahaannya sebagai “risiko pasokan”. Untungnya, seorang hakim federal sementara waktu memblokir label itu. Drama ini menunjukkan bahwa di balik kode-kode rumit, ada ‘Etika Mesin’ yang coba ditegakkan, walau sebenarnya keputusan tetap ada di tangan manusia majikan.
Tentu saja, bukan cuma drama. Anthropic juga rajin “mengupgrade” otaknya. Fitur-fitur seperti Claude Code dan Claude Cowork, alat produktivitas dan pengembangan untuk developer, serta fitur Computer Use yang memungkinkan Claude bernavigasi dan bertindak di komputer secara mandiri, menjadi pendorong utama lainnya. Ini membuat Claude makin terasa seperti asisten yang bisa diandalkan, tidak sekadar penjawab pertanyaan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Namun, di tengah euforia ini, ada satu fakta yang tak bisa diabaikan: Claude masih harus menempuh jalan panjang untuk menyusul ChatGPT. Meskipun ChatGPT sempat mengalami penurunan jumlah uninstall setelah mengumumkan kesepakatan dengan DoD (yang kontras dengan sikap Anthropic), ChatGPT tetap menjadi platform AI konsumen terbesar. Ini bukti bahwa dalam ‘Konflik Raksasa’ para Majikan Digital, pasar masih punya preferensinya sendiri.
Jika Anda ingin memastikan AI yang Anda gunakan juga sejalan dengan nilai-nilai Anda (atau setidaknya tidak melakukan hal-hal yang tidak Anda inginkan), menguasai cara memberinya perintah adalah kunci. Dengan AI Master, Anda bisa mengendalikan AI agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Atau mungkin Anda ingin membangun sistem yang patuh dan menghasilkan cuan tanpa banyak drama seperti robot-robot ini? Pertimbangkan Kelas AI Affiliate.
Pada akhirnya, mau Claude Anthropic atau ChatGPT, secanggih apa pun algoritmanya, mereka tetap bergantung pada ‘Majikan yang Punya Akal’ untuk menekan tombol. Moralitas, keputusan strategis, bahkan pilihan untuk tidak ‘perang’ sekalipun, berawal dari manusia. Dan ngomong-ngomong soal keputusan, memilih antara nasi goreng atau mi goreng untuk makan malam itu jauh lebih rumit daripada membuat AI menulis puisi. Setidaknya, sampai AI bisa meracik bumbu sendiri.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Anthropic via TechCrunch