Valuasi Preply Tembus $1,2 Miliar: Bukti AI Canggih Pun Butuh Majikan Manusia
Startup EdTech Preply baru saja mengamankan pendanaan Seri D sebesar $150 juta, melambungkan valuasinya hingga $1,2 miliar. Angka yang fantastis, tapi bukan itu berita utamanya. Poin terpenting bagi kita, para Majikan, adalah bagaimana mereka mencapainya: dengan menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusia.
Preply, sebuah marketplace yang menghubungkan guru bahasa dengan murid di seluruh dunia, membuktikan sebuah tesis sederhana: secanggih apa pun algoritma, ia tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan manusia seutuhnya. Alih-alih memecat para tutornya seperti yang dilakukan beberapa perusahaan lain yang mabuk teknologi, Preply justru menggunakan AI untuk memberdayakan mereka.
AI Sebagai Asisten, Bukan Tuan
Faktanya, Preply telah mencapai profitabilitas EBITDA selama 12 bulan terakhir. Keberhasilan ini bukan kebetulan. Mereka secara cerdas mengintegrasikan AI untuk menangani tugas-tugas administratif yang membosankan. AI dipekerjakan untuk membuat rangkuman pelajaran, menyiapkan pekerjaan rumah, dan yang terpenting, menjadi mak comblang digital yang mencocokkan murid dengan guru yang paling sesuai.
Ini adalah strategi yang sangat berbeda dengan Duolingo, yang sempat membuat gaduh karena ingin menjadi “perusahaan AI-first” dan menuai kritik. Preply sadar betul bahwa AI hanyalah asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku. Ia bisa membersihkan data dan mengatur jadwal dengan presisi, tapi ia tidak punya empati, tidak bisa membaca nuansa candaan murid, dan jelas tidak bisa memberikan motivasi tulus saat murid sedang frustrasi belajar konjugasi kata kerja.
Kecerdasan buatan di Preply tidak pernah duduk di kursi guru. Kursi itu tetap milik 100.000 lebih tutor manusia mereka. AI hanya memastikan kursi itu nyaman dan semua peralatan mengajarnya tertata rapi. Inilah esensi sejati dari hubungan Manusia-AI: Manusia sebagai pembuat keputusan strategis, AI sebagai eksekutor perintah yang efisien.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Strategi Startup.
Ini adalah contoh sempurna bagaimana seorang Majikan mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Jika kamu ingin menguasai cara-cara seperti ini untuk bisnismu, penting untuk punya fondasi yang kuat. Kursus seperti AI Master dirancang agar kamu tidak menjadi babu teknologi, melainkan tetap menjadi komandan yang memegang kendali penuh. Strategi bisnis yang cerdas, seperti yang diterapkan Preply, butuh marketing yang juga cerdas dan tidak terdengar seperti robot. Untuk itu, mempertajam ilmu di Creative AI Marketing bisa menjadi langkah berikutnya.
Ketangguhan Manusia yang Tak Tergantikan
Yang lebih mengagumkan, Preply didirikan oleh orang Ukraina dan masih mempertahankan kantor besar dengan 150 karyawan di Kyiv, di tengah situasi perang. CEO Kirill Bigai mengatakan bahwa kesulitan justru melahirkan kreativitas dan ketahanan. Ini adalah variabel yang tidak akan pernah bisa diprogram ke dalam model AI mana pun. Mesin hanya bisa memproses data, ia tidak bisa merasakan harapan atau membangun kekuatan dari keterpurukan.
Pada akhirnya, kisah Preply bukan sekadar berita pendanaan. Ini adalah pengingat keras bahwa di puncak segala kecanggihan kode dan algoritma, nilai terbesar tetap terletak pada akal, empati, dan ketangguhan manusia. Tanpa manusia yang menekan tombol dan memberikan arahan strategis, AI hanyalah tumpukan silikon yang menunggu perintah.
Ngomong-ngomong, kenapa kalau beli kopi susu, gulanya selalu diaduk di akhir ya?
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Preply via TechCrunch