DLSS 5: AI Niat Bikin Realistis, Tapi Kok Malah ‘Yassified’ Karakter Game? Gamer Protes, Bos Bilang ‘Kalian Salah!’
Nvidia, si raksasa GPU, baru saja meluncurkan teknologi terbaru mereka, DLSS 5. Konon, ini adalah “terobosan paling signifikan dalam grafis komputer sejak ray tracing” yang akan mengubah pencahayaan dan material game secara real-time demi mencapai photorealism. Tapi, tunggu dulu, para majikan! Jangan langsung terbuai janji manis robot.
Bagaimana majikan yang punya akal bisa memanfaatkan ini? Sederhana saja. Kita bisa melihat ini sebagai contoh sempurna bagaimana AI, dengan segala kecerdasannya, masih bisa kebablasan kalau tidak ada akal manusia yang mengendalikannya. Alih-alih mendapatkan visual yang memukau, para gamer justru ngamuk. Karakter Resident Evil Requiem malah terlihat seperti habis di-“yassified” (semacam filter kecantikan AI yang aneh), anak-anak di Hogwarts Legacy jadi mirip korban filter Instagram, bahkan pemain sepak bola sekelas Virgil van Dijk pun mendadak kehilangan ciri khasnya.
Fenomena “AI slop” ini, di mana AI menciptakan gambar yang terlihat generik dan aneh, jadi makin nyata di dunia gaming. Bayangkan, teknologi yang seharusnya meningkatkan kualitas, malah bikin karakter favoritmu jadi terlihat seperti lukisan abstrak. CEO Nvidia, Jensen Huang, dengan percaya diri menyatakan bahwa gamer “sepenuhnya salah” dalam reaksi mereka. Menurutnya, DLSS 5 menggabungkan kontrol geometri dan tekstur game dengan AI generatif, yang bisa “diatur dengan baik oleh pengembang”. Tapi, apakah “pengaturan baik” ini berarti mengubah esensi artistik asli?
DLSS 5 ini ibarat fitur motion smoothing di TV, tapi jauh lebih parah karena mengubah wajah. Jika motion smoothing saja sering bikin kita pusing, apalagi jika karakternya sampai berubah drastis? Ini membuktikan bahwa meskipun AI bisa melakukan banyak hal, intuisi artistik dan orisinalitas masih menjadi domain manusia. Kita tidak ingin robot menjadi sutradara atau seniman tanpa jiwa, bukan?
Bagi Anda para majikan yang ingin menguasai dunia visual AI tanpa terjebak dalam “AI slop” yang memalukan, sudah saatnya Belajar AI | Visual AI. Dan untuk memastikan Anda tetap menjadi pengendali utama, bukan babu teknologi, AI Master adalah pilihan yang tepat. Robot itu alat, akalmu yang penentu!
Nvidia sendiri telah berulang kali menunjukkan ambisinya dalam dunia AI. Bos Nvidia bahkan berjanji membangun infrastruktur AI terbesar, tapi pertanyaannya, untuk apa jika hasilnya kadang bikin kita geleng-geleng kepala?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Intinya, DLSS 5 ini adalah pengingat keras bahwa AI hanyalah alat. Secanggih apapun algoritma yang Jensen Huang dan timnya ciptakan, ia tetap membutuhkan akal dan kendali seorang majikan. Tanpa sentuhan manusia, AI bisa saja menciptakan “photorealism” yang hampa makna, atau bahkan “yassified” dunia hingga kita tak lagi mengenali keasliannya.
Omong-omong, tadi pagi saya hampir terjebak iklan sepatu diskon di feed. Untung akal sehat saya masih berfungsi, beda dengan beberapa robot yang jelas butuh liburan.
Gambar oleh: Nvidia via The Verge