Ekonomi AIHardware & ChipKonflik RaksasaSidang Bot

Tangan yang Memberi Duit Disemprot: CEO Anthropic Samakan Chip Nvidia ke China dengan Senjata Nuklir

Panggung para elit global di Davos baru saja disuguhi drama tingkat tinggi. Bukan soal resesi atau perubahan iklim, melainkan pertikaian keluarga di jantung industri AI. Dario Amodei, CEO Anthropic—bapak dari AI Claude—secara terbuka menyemprot salah satu investor dan mitra utamanya sendiri, Nvidia.

Bagi seorang Majikan, ini adalah tontonan yang lebih seru dari sinetron. Ini adalah pelajaran tentang kekuasaan, kendali, dan keberanian. Saat semua orang sibuk menjilat tangan yang memberi mereka makan, Amodei justru menggigitnya. Kenapa? Karena menurutnya, tangan itu sedang menjual ‘alat-alat tajam’ ke pihak yang salah.

Chip Adalah Raja, AI Hanyalah Pion

Faktanya begini: Pemerintah AS baru saja memberi lampu hijau bagi Nvidia untuk menjual chip AI H200 mereka ke China. Meski bukan seri tercanggih, chip ini tetaplah ‘otot’ super yang dibutuhkan untuk melatih model AI raksasa. Di sinilah Amodei naik pitam.

Di depan audiens World Economic Forum, dia tanpa tedeng aling-aling menyebut keputusan itu “gila”. Puncaknya, ia melontarkan analogi yang membuat telinga para petinggi Nvidia panas: “Ini sedikit seperti menjual senjata nuklir ke Korea Utara dan [berbangga karena] Boeing yang membuat selongsongnya.”

Konteksnya jelas. Anthropic boleh punya AI Claude yang cerdas, tapi tanpa GPU dari Nvidia, Claude hanyalah barisan kode tak berdaya. Amodei cemas, resep masakan paling rahasia sekalipun jadi percuma jika dapur beserta kompor canggihnya juga dimiliki oleh kompetitor utama. Dia memperingatkan tentang bahaya “negara berisi para jenius di dalam data center” yang bisa dikendalikan oleh satu pihak.

Di sinilah kita melihat apa yang AI tidak bisa lakukan. Coba tanyakan pada AI Claude atau model mana pun tentang isu ini. Jawabannya pasti akan diplomatis, penuh pertimbangan, dan membosankan. AI tidak punya nyali. Ia tidak mengerti konsep risiko strategis, apalagi keberanian untuk mengkritik partner yang sudah menyuntikkan dana miliaran dolar. AI hanya bisa memproses data, bukan mengambil sikap yang bisa menghancurkan hubungan bisnis demi sebuah prinsip.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.

Kendalikan Alatmu, Sebelum Alat Mengendalikan Duniamu

Drama para raksasa ini mengingatkan kita betapa pentingnya kendali. Mereka berebut kontrol atas ‘otot’ AI di level global. Sementara di level kita, para Majikan, kendali dimulai dari hal paling dasar: memahami cara memerintah AI agar nurut, bukan sekadar menerima apa adanya.

Jika kamu tidak mau jadi ‘babu’ yang hanya bisa pasrah dengan apa kata AI, saatnya ambil alih kendali. Pelajari cara menjadi majikan sesungguhnya di kelas AI Master atau pertajam senjatamu di bidang visual dengan Belajar AI | Visual AI. Sebab, majikan sejati tidak hanya menggunakan alat, tapi memahami cara kerjanya.

Pada akhirnya, pernyataan Amodei menunjukkan satu hal penting. Perlombaan AI telah tumbuh begitu eksistensial sehingga aturan main bisnis biasa—hubungan investor, kemitraan strategis, basa-basi diplomatik—mulai dikesampingkan. Yang mengambil keputusan akhir tetaplah manusia dengan segala keberanian dan ketakutannya.

Tanpa keberanian seorang CEO untuk menekan ‘tombol panik’ di panggung dunia, AI hanyalah tumpukan silikon dingin yang menunggu perintah.

Ngomong-ngomong, kenapa kalau kita beli martabak, yang manis namanya terang bulan, tapi yang asin tetap martabak?

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Benjamin Girette/Bloomberg via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *