Insinyur Uber Bikin AI Bos Sendiri: Latihan Presentasi atau Curhat ke Robot yang Kurang Piknik?
Pernah membayangkan bisa berlatih presentasi dengan replika AI dari bos Anda yang paling galak? Nah, para insinyur di Uber, perusahaan ride-hailing raksasa, sepertinya sudah mencapai level halu itu. CEO Uber, Dara Khosrowshahi, dengan bangga (atau mungkin sedikit cemas) mengungkapkan bahwa timnya telah menciptakan versi AI dirinya sendiri. Tujuannya? Bukan untuk mengganti sang bos, tentu saja, melainkan sebagai sparring partner virtual untuk mengasah presentasi sebelum berhadapan langsung dengan Dara yang asli. Ini menunjukkan bagaimana majikan yang cerdas bisa memanfaatkan AI bukan cuma untuk hal-hal besar, tapi juga untuk detail yang bikin kepala pening.
Dara Khosrowshahi selalu melihat Uber lebih dari sekadar aplikasi naik mobil atau pesan makanan; baginya, Uber adalah ‘basis kode raksasa’ dan para insinyurnya adalah ‘pembangun sejati perusahaan’. Ungkapan ini semakin relevan saat ia menceritakan fenomena ‘Dara AI’ di internal perusahaannya.
Bayangkan saja, Anda punya ide brilian, tapi perlu melewati saringan ketat presentasi ke direksi. Daripada deg-degan di depan bos sungguhan, mengapa tidak coba dulu di depan versi AI-nya? Menurut Khosrowshahi di podcast Steven Bartlett, beberapa tim insinyur melakukan persis seperti itu. Mereka pitching ke ‘Dara AI’ untuk ‘menyetel persiapan’ mereka. Ini terdengar seperti alat yang luar biasa, namun juga memperlihatkan betapa AI, secerdas apapun, masih berfungsi sebagai cermin. Ia bisa memberikan umpan balik berdasarkan pola, data, dan respons yang telah dilatih, tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan intuisi, pengalaman, atau bahkan mood seorang bos manusia yang sesungguhnya.
‘Produktivitas mereka benar-benar berubah dengan cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya,’ kata Khosrowshahi, mengacu pada sekitar 30% insinyur Uber yang menjadi ‘pengguna kekuatan’ alat AI. Mereka adalah ‘pabrikan batu bata yang masuk ke dalam sistem’ dan ‘arsitek yang memikirkan seperti apa sistem itu seharusnya’.
Namun, di balik kegembiraan ini, ada sisi sarkasme yang perlu kita ingat. AI, bahkan yang sudah dilatih dengan data bos CEO sekalipun, tetaplah sebuah algoritma. Ia tidak akan peduli jika Anda kurang tidur, punya masalah pribadi, atau sekadar sedang tidak mood. Ia akan memberikan respons yang paling ‘logis’ dan ‘terlatih’, seringkali tanpa nuansa emosi manusia. Ini seperti berbicara dengan asisten rumah tangga yang sangat rajin tapi kaku—ia akan melakukan persis apa yang diperintahkan, tapi jangan harap ia akan paham sindiran halus Anda.
Fenomena ‘Dara AI’ ini sebetulnya bisa menjadi inspirasi bagi para majikan di luar sana. Mungkin Anda tidak punya tim insinyur untuk membuat replika AI dari diri Anda, tetapi Anda bisa belajar seni prompt untuk membuat AI generatif lain menjadi asisten pribadi yang tangguh. Atau, gunakan alat AI untuk memprediksi reaksi pasar, menguji ide, atau bahkan menyimulasikan skenario bisnis. Dengan begitu, Anda tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga memastikan Anda tetap jadi majikan, bukan babu dari sistem yang kurang piknik.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Jadi, meskipun insinyur Uber bisa ‘berlatih’ dengan bos AI mereka, ingatlah satu hal: pada akhirnya, yang menekan tombol ‘Enter’ untuk presentasi sungguhan, yang merasakan tekanan, dan yang membuat keputusan akhir di dunia nyata, tetaplah manusia. AI hanyalah alat yang patuh, tapi akal dan keberanian majikanlah yang menggerakkan dunia. Tanpa manusia, ‘Dara AI’ hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah.
Oh ya, ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir terjebak iklan diskon popok bayi di timeline media sosial. Untung akal sehat saya masih berfungsi, anak saya sudah kuliah.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Kent Nishimura/Bloomberg via TechCrunch