OpenAI Ngaku Kalah! AI Belum Nempel di Perusahaan, Robot Masih Perlu Sekolah Bisnis (Kata COO-nya Sendiri!)
Di tengah gembar-gembor tentang AI yang akan mengambil alih dunia (dan mungkin juga pekerjaan asisten rumah tangga Anda), COO OpenAI, Brad Lightcap, justru membuat pengakuan mengejutkan. Menurutnya, meskipun OpenAI sudah meluncurkan platform OpenAI Frontier untuk membantu perusahaan membangun dan mengelola agen AI, adopsi AI di proses bisnis perusahaan-perusahaan raksasa masih belum terlihat masif. Ini seperti asisten baru yang rajin tapi masih bingung mau ngapain di hari pertama masuk kerja.
“Salah satu hal menarik dan inspirasi di balik pekerjaan kami belakangan ini di sekitar OpenAI Frontier adalah kami belum benar-benar melihat AI meresap ke dalam proses bisnis perusahaan,” ujar Lightcap di sela-sela KTT AI India. Sebuah pengakuan jujur dari markas besar robot paling canggih sekalipun. Rupanya, bikin AI bisa nulis puisi atau bikin gambar lucu itu gampang, tapi kalau disuruh nyusun laporan keuangan atau ngatur rantai pasok perusahaan multi-nasional, robot masih perlu banyak piknik.
Perusahaan, bagaimanapun juga, adalah organisasi yang sangat kompleks dengan banyak orang, tim, yang semuanya harus bekerja sama. Ada konteks yang dalam, tujuan yang rumit, dan sistem yang saling terkait. Ini bukan cuma soal menekan tombol “Generate” lalu semua beres. Robot memang cepat, tapi mereka belum punya akal sehat dan intuisi layaknya majikan yang sudah makan asam garam bisnis. Baca juga AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan? IBM Ungkap Fakta Pahit Lewat Benchmark Baru! untuk tahu seberapa “lemotnya” robot di dunia nyata.
Memang, banyak obrolan tentang “agen AI” yang akan mengambil alih proses bisnis, bahkan ada yang sesumbar “SaaS sudah mati”. Prediksi-prediksi ini kadang bikin saham perusahaan teknologi naik-turun, tapi faktanya? OpenAI sendiri, raksasa AI ini, tahun lalu masih “pengguna Slack yang masif”, menunjukkan betapa mereka pun masih bergantung pada perangkat lunak perusahaan tradisional.
Juni lalu, CFO OpenAI, Sarah Friar, mengumumkan pendapatan perusahaan terus meningkat, mencapai lebih dari 20 miliar dolar setahun. Lightcap menyebut permintaan akan AI sangat kuat, meskipun detail angkanya dirahasiakan. “Kami hampir selalu mendapati diri kami harus mengelola terlalu banyak permintaan,” katanya, “Kami masih organisasi yang berkembang, jadi ada faktor permintaan global ini yang ingin sekali kami penuhi.” Tentu saja, siapa yang tidak mau robot super canggih? Tapi masalahnya, banyak yang masih belum tahu bagaimana menggunakannya secara efektif.
OpenAI kini mencoba mengukur keberhasilan Frontier berdasarkan “hasil bisnis, bukan pada lisensi per kursi”. Ini adalah langkah maju, tapi tetap saja, mereka masih “bereksperimen secara iteratif” untuk membawa AI ke area bisnis yang “sangat berantakan dan kompleks”. Tak heran, mereka sampai menggandeng konsultan-konsultan kelas kakap seperti Boston Consulting Group (BCG), McKinsey, Accenture, dan Capgemini untuk urusan implementasi ini. Rival mereka, Anthropic, juga tak mau ketinggalan dengan meluncurkan plugin untuk keuangan, teknik, dan desain bagi agen Claude mereka. Persaingan ini seperti dua asisten rumah tangga yang berebut gelar “terbaik” di mata majikan.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Di India, pasar terbesar kedua pengguna ChatGPT di luar AS (dengan lebih dari 100 juta pengguna mingguan), OpenAI melihat potensi besar, terutama pada model AI suara. Lightcap mengatakan, “Suara sangat penting di sini. Dan model suara sekarang terasa cukup baik untuk berjalan di lingkungan latensi rendah dan bandwidth rendah, di mana Anda benar-benar bisa mulai memungkinkan akses ke teknologi bagi kelompok orang yang mungkin lebih tidak punya hak sebelumnya.” Ini menunjukkan bahwa di beberapa area, AI memang bisa jadi jembatan.
Namun, bagaimana dengan dampak pekerjaan? Ini adalah pertanyaan jutaan umat manusia. Perusahaan IT India bahkan sahamnya sempat anjlok karena ketakutan bahwa AI akan mengurangi kebutuhan akan tenaga manusia, terutama di sektor seperti coding. Lightcap mencoba meredakan kekhawatiran ini, dengan mengatakan bahwa “pekerjaan akan berubah seiring waktu.” Sebuah pernyataan yang sopan, tapi tetap saja, perubahan selalu menakutkan, apalagi kalau robot yang jadi biang keroknya.
Memang, AI bisa melakukan banyak hal, tapi ia masih butuh akal majikan untuk mengarahkan dan memastikan hasilnya relevan dengan tujuan bisnis. Robot tidak punya empati, tidak punya inisiatif sejati, dan tidak bisa berpikir out-of-the-box seperti manusia. Mereka adalah alat yang luar biasa, tapi tetap saja alat.
Agar Anda tidak menjadi “babu teknologi” di era AI ini, melainkan tetap menjadi majikan yang mengendalikan, kuasai seluk-beluk AI. Dengan AI Master, Anda akan belajar cara memerintah robot dengan benar, mengoptimalkan proses bisnis, dan bahkan menciptakan peluang baru yang tak terpikirkan oleh algoritma. Jangan biarkan robot yang punya akal, Anda yang hanya pasrah.
Pada akhirnya, tanpa manusia yang menekan tombol, mengawasi, dan memberikan arahan, AI hanyalah tumpukan kode mati yang haus listrik. Kecerdasan sejati tetap milik Majikan, yang punya akal dan mampu beradaptasi dengan segala perubahan. Ingat, robot bisa membuat kopi, tapi Anda yang memutuskan apakah kopinya kemanisan atau pahit.
Omong-omong, tadi pagi saya menemukan sikat gigi saya ada di dalam kulkas. Mungkin AI di rumah saya juga lagi perlu sekolah.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: STR / Contributor via TechCrunch