Robot Einstein Bikin Skripsi Anti-Halu, Tapi Akal Majikan Tetap Wajib Melek!
Selamat datang di era di mana AI tidak lagi sekadar asisten, melainkan ‘anak kos’ digital yang siap mengerjakan semua tugas kuliah Anda. Perkenalkan Einstein, sebuah alat AI terbaru dari startup Companion yang membuat chatbot lain terlihat seperti kalkulator tua. Einstein bukan cuma membantu, tapi mengambil alih. Ia akan ‘menyamar’ jadi Anda, masuk ke akun Canvas, menonton video kuliah, membaca esai, menulis makalah, menyelesaikan kuis, hingga memposting komentar di forum diskusi. Bayangkan, Anda bisa tidur nyenyak, dan tiba-tiba IPK Anda meroket (tanpa Anda berkeringat). Tentu, ini terdengar seperti mimpi basah mahasiswa malas, tapi bagi Majikan AI yang cerdas, ini adalah sinyal: bahwa manusia harus semakin tajam, bukan makin tumpul.
Einstein beroperasi melalui ‘komputer virtual’ miliknya sendiri. Ia dapat membuka browser, menavigasi halaman kelas, menonton video ceramah, membaca PDF dan esai, menulis makalah, menyelesaikan kuis, dan memposting balasan di papan diskusi. Setelah terhubung dengan akun siswa, sistem dapat memantau tenggat waktu dan secara otomatis mengirimkan tugas.
Penciptanya mengklaim, “Einstein ini bukan sekadar chatbot biasa. Ia punya akses penuh ke komputer virtual dengan sistem file persisten dan akses internet, jadi benar-benar bisa mengerjakan tugas atas nama Anda. Ini membuat ChatGPT terlihat seperti mainan.” Sebuah klaim yang berani, dan jujur, cukup bikin kita para Majikan AI tersenyum kecut.
Meskipun terdengar seperti asisten yang sempurna, ada hal-hal mendasar yang AI, bahkan Einstein sekalipun, tidak bisa lakukan. Robot ini mungkin bisa menyusun esai dengan kutipan yang rapi dan postingan diskusi yang kontekstual, tetapi apakah ia benar-benar memahami materi? Apakah ia bisa melakukan pemikiran kritis yang mendalam, kreativitas yang melampaui pola data yang dilatih, atau membuat keputusan etis yang kompleks di luar program? Tentu saja tidak. AI hanya alat. Ia ibarat asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, mengerjakan semua perintah tanpa benar-benar tahu kenapa.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Kemunculan Einstein ini jelas membawa perdebatan baru tentang integritas akademik. Nicholas DiMaggio, seorang mahasiswa PhD di The University of Chicago Booth School of Business, berpendapat, “Metode pengajaran Canvas memang sudah rentan terhadap kecurangan. Perubahan ini, menurut saya, pada akhirnya akan baik karena akan memaksa para pendidik untuk mendesain ulang kelas agar tidak bergantung pada tugas virtual.” Ini berarti, para Majikan pendidikan akan dipaksa untuk lebih kreatif, fokus pada ujian lisan, proyek berbasis tim, atau bahkan kehadiran fisik yang tidak bisa diwakilkan oleh ‘Einstein’ mana pun.
Bagi Anda yang ingin tetap relevan di tengah gempuran AI ini, kuncinya bukan melawan, tapi menguasai. Robot-robot ini bisa belajar berbohong halus, tapi naluri Majikan yang cerdas tetap tak tergantikan. Inilah saatnya Anda mengasah kemampuan untuk memerintah AI dengan efektif, bukan sekadar menjadi penonton pasif. Jadilah arsitek di balik kecerdasan buatan, bukan kuli ketik algoritma.
Jangan sampai ‘Einstein’ ini membuat Anda jadi malas berpikir. Sebaliknya, jadikan ia inspirasi untuk meningkatkan kemampuan Anda mengelola dan memerintah teknologi. Ikuti kelas AI Master agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Jika Anda ingin membuat konten yang profesional dan hemat anggaran, Creative AI Pro adalah senjata rahasia Anda. Atau, jika Anda ingin tahu bagaimana memberi perintah yang tak bisa dibantah AI, asah ‘Seni Prompt’ Anda, karena majikan yang baik tahu cara memberi perintah yang tidak bisa dibantah. Kuasai juga visual AI agar tidak kalah canggih dari robot dengan Belajar AI | Visual AI.
Pada akhirnya, sehebat apapun Einstein, ia tetaplah tumpukan kode mati tanpa daya jika tidak ada Majikan manusia yang menekan tombol ‘on’ dan memberinya arahan. Akal manusia adalah penguasa tertinggi; AI hanyalah alat bantu. Selalu ingat: Sebab AI hanyalah alat, kaulah Majikan yang punya akal.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba membuat kopi pakai AI, tapi malah disuruh bayar langganan premium untuk aroma hazelnut. Robot memang kadang ‘kurang piknik’.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”.
Gambar oleh: metamorworks/Getty Images via CNET