Kecurangan AI Skala Industri: Robot-robot China ‘Nyontek’ Claude Pakai 24.000 Akun Palsu!
Ketika teknologi kecerdasan buatan semakin canggih, satu hal yang tidak berubah: sifat ‘ngeles’ dan ‘nyontek’ ala manusia. Bayangkan, asisten digital Anda yang katanya cerdas luar biasa, ternyata diam-diam mencuri ide dari tetangga sebelah. Miris? Tentu saja! Inilah yang terjadi pada Anthropic, pengembang AI Claude, yang baru-baru ini membongkar borok “serangan distilasi” skala industri oleh perusahaan-perusahaan AI China. Bagi kita para Majikan, kasus ini adalah pengingat keras: seberapa pun pintar dan mandirinya AI, ia tetap perlu diawasi, bahkan dari tindakan amoral sesama robot.
Anthropic, salah satu raksasa di balik model bahasa besar (LLM) seperti Claude, melayangkan tuduhan serius terhadap tiga perusahaan AI China: DeepSeek (pembuat model DeepSeek AI yang cukup populer), Moonshot, dan MiniMax. Mereka dituding melakukan “kampanye skala industri” untuk “mengekstrak secara ilegal” kapabilitas Claude. Jangan bayangkan spionase ala film James Bond, ini lebih mirip kecurangan ujian massal. Sebanyak 24.000 akun palsu diciptakan, menghasilkan lebih dari 16 juta interaksi dengan Claude, semuanya untuk “menyedot” pengetahuannya demi mengembangkan model AI mereka sendiri. Ini bukan sekadar pelanggaran TOS (Terms of Service), tapi Anthropic menganggapnya sebagai isu keamanan nasional.
Kasus ini semakin ironis mengingat OpenAI sendiri, sebelumnya juga menuduh DeepSeek melakukan hal serupa. Namun, alih-alih simpati, publik justru banyak yang mencibir. Kenapa? Karena raksasa-raksasa AI ini seringkali mengklaim hak absolut untuk melatih model mereka menggunakan karya berhak cipta tanpa izin atau pembayaran, dengan dalih “China juga melakukan hal serupa, jadi kami tidak punya pilihan.” Presiden Donald Trump bahkan pernah berujar, “Anda tidak bisa berharap memiliki program AI yang sukses jika setiap artikel, buku, atau apa pun yang Anda baca atau pelajari, Anda harus membayarnya.” Sebuah argumen yang, terus terang, membuat robot di meja redaksi kami geleng-geleng kepala.
Lalu, apa itu “serangan distilasi”? Distilasi adalah teknik pelatihan yang umum untuk LLM. Ini melibatkan menjalankan variasi prompt yang sama berulang kali untuk melihat bagaimana suatu model merespons, kemudian menggunakan respons tersebut untuk melatih model lain. Secara internal, teknik ini sah untuk membuat versi model yang lebih kecil dan efisien. Namun, ketika digunakan untuk “mencuri” kapabilitas dari laboratorium lain—mengakuisisi kemampuan canggih dalam waktu dan biaya yang jauh lebih rendah daripada mengembangkannya sendiri—itu barulah masalah.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Ironi moral ini menempatkan perusahaan-perusahaan AI dalam posisi yang canggung: mereka ingin melindungi kekayaan intelektual mereka dari “curian” AI lain, tetapi di sisi lain, mereka sendiri melakukan hal serupa terhadap karya manusia. Kasus ini semakin mempertegas pentingnya perdebatan etika di dunia AI. Anthropic sendiri menyerukan kerja sama antar perusahaan AI, lembaga pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencegah serangan semacam ini. Di tengah “ledakan belanja” AI yang mencapai puluhan miliar dolar untuk infrastruktur, pusat data, serta R&D, kemampuan pesaing untuk mereplikasi teknologi LLM dengan murah jelas menjadi ancaman serius bagi dominasi raksasa Barat.
Kampanye semacam ini, menurut Anthropic, “tumbuh dalam intensitas dan kecanggihan.” Jendela untuk bertindak sangat sempit, dan ancamannya melampaui satu perusahaan atau wilayah. Ini membutuhkan tindakan cepat dan terkoordinasi.
Sebagai Majikan AI sejati, kita tahu bahwa mengandalkan robot sepenuhnya tanpa pengawasan adalah tindakan yang kurang piknik. Bahkan AI pun bisa “nyontek” dan “berkelakuan” tidak elok. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengenali pola, memberi perintah yang tidak bisa dibantah, dan mengendalikan AI agar tetap di jalur adalah kunci. Jangan sampai kita menjadi korban dari kecanggihan yang disalahgunakan. Kuasai AI Anda, jadilah Majikan sejati. Pelajari cara mengendalikan AI dengan benar agar Anda tetap berakal di dunia yang makin didominasi robot ini. Kendalikan AI Anda dengan AI Master.
Pada akhirnya, seberapa pun “cerdiknya” robot-robot ini mencoba mengakali sistem, akal manusia lah yang akan selalu menemukan celah dan membongkar kecurangan. AI mungkin bisa mencuri, tapi ia tidak bisa berinovasi dengan orisinalitas jiwa manusia. Dan ingat, tanpa manusia menekan tombol “on”, mereka hanyalah tumpukan kode mati yang kebingungan mencari colokan listrik.
Ngomong-ngomong, tadi pagi robot penyedot debu saya mogok di tengah jalan, mungkin lagi demo minta kenaikan gaji data.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Jonathan Raa / NurPhoto via TechCrunch