Ekonomi AIKarier AISidang Bot

Pajak Ribet, Pegawai Cabut: Saat Birokrasi Federal AS Terpaksa ‘Ngutang Budi’ ke AI

Bukan rahasia lagi kalau birokrasi itu rumit, bahkan di negara sekelas Amerika Serikat. Tapi apa jadinya jika kerumitan itu bertemu dengan ‘restrukturisasi’ yang brutal, sampai-sampai divisi teknologi yang jadi tulang punggung dipangkas habis? Inilah kisah Badan Pendapatan Internal (IRS) AS yang terpaksa ‘minum obat pahit’ dengan membiarkan AI mencoba menambal lubang yang ditinggalkan ribuan staf IT mereka.

Bayangkan, sebuah lembaga sepenting IRS kehilangan 40% staf IT-nya dalam semalam, dan yang lebih parah, hampir 80% pimpinan teknologi senior mereka ikut cabut! Ini bukan cerita fiksi ilmiah tentang robot mengambil alih, tapi realita pahit akibat ‘restrukturisasi’ ala Department of Government Efficiency (DOGE). Istilahnya saja sudah provokatif, mirip nama koin kripto yang naik turun tak jelas. Hasilnya? Kekacauan yang memaksa IRS untuk mengandalkan ‘asisten’ baru: AI.

AI memang rajin, patuh, dan tidak butuh cuti. Tapi apakah AI bisa menggantikan pengalaman puluhan tahun seorang ahli IT yang memahami seluk-beluk sistem perpajakan yang super kompleks? Tentu saja tidak. AI mungkin bisa memproses data dengan kecepatan kilat atau mengotomatisasi tugas-tugas repetitif, tapi ia tidak punya akal sehat, empati, apalagi pemahaman kontekstual terhadap nuansa hukum yang bisa jadi menjebak. Ini seperti meminta asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku untuk mengelola keuangan keluarga dan berharap dia tidak salah memasukkan anggaran liburan ke pos biaya renovasi rumah. Mustahil!

Reduksi masif ini jelas meningkatkan ketegangan pada upaya modernisasi digital IRS, yang kabarnya sudah tertinggal dalam memproses laporan pajak secara digital. Menarik ribuan spesialis teknologi untuk dialihkan ke layanan ‘garis depan’ selama musim pajak? Itu sama saja memindahkan organ vital pasien yang sedang dioperasi ke gudang penyimpanan, hanya untuk melihat apakah dia masih bisa bernapas sendiri. Logika macam apa ini?

Pengenalan alat AI ke dalam alur kerja internal ini disebut untuk ‘membantu efisiensi’. Membantu? Atau lebih tepatnya, mencoba menutupi borok yang menganga lebar akibat keputusan manajemen yang kurang ‘piknik’? Tanpa kepemimpinan manusia yang kuat, AI hanyalah algoritma canggih yang butuh diarahkan. AI tidak punya visi, tidak bisa berinovasi, dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan fatal yang bisa merugikan jutaan pembayar pajak.

Majikan AI selalu percaya bahwa seni memerintah AI adalah kunci. Kita sebagai majikan, harus tahu cara mengendalikan AI, bukan malah membiarkan AI yang mengatur kita. Artikel ini menjadi pengingat bahwa di tengah euforia AI, nilai manusia tak tergantikan, terutama dalam mengambil keputusan kritis dan menjaga integritas sistem yang vital.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Karier AI.

Maka dari itu, jangan sampai kamu jadi korban ‘efisiensi’ ala DOGE. Kuasai AI, bukan malah dibodohi olehnya. Jika kamu ingin memastikan kariermu tetap gemilang di tengah badai otomatisasi ini, belajarlah menjadi Majikan AI sejati. Dengan AI Master, kamu bisa mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Dan jika kamu penasaran bagaimana AI bisa mengubah lanskap kerja dan potensi cuan, jangan lewatkan Kelas Ai Affiliate yang mengajarkan cara cuan TikTok tanpa perlu tampil di kamera. Ingat, robot tidak akan pernah bisa menggantikan akalmu!

Pada akhirnya, sehebat apa pun AI yang dikerahkan, mereka hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu sentuhan jari seorang majikan berakal untuk dihidupkan. Tanpa manusia yang menekan tombol ‘on’, AI cuma jadi patung digital yang tidak bisa apa-apa.

Oh, dan ngomong-ngomong, sudahkah kamu mengecek filter AC rumahmu hari ini? Kadang, ‘efisiensi’ rumah tangga jauh lebih krusial daripada efisiensi birokrasi federal.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Register.

Gambar oleh: Shutterstock via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *