OpenAI Gaet 4 Konsultan Raksasa: Robot Butuh “Dukun” Bisnis Biar Laku, Akal Majikan Masih Jadi Penentu?
Para Majikan AI, siap-siap. OpenAI, sang jagoan di arena kecerdasan buatan, kini tak lagi hanya sibuk melatih model bahasanya yang super canggih. Mereka justru merangkul empat raksasa konsultan bisnis: Boston Consulting Group (BCG), McKinsey, Accenture, dan Capgemini. Ini bukan sekadar kolaborasi biasa, melainkan pengakuan bahwa bahkan AI paling pintar sekalipun masih butuh “diterjemahkan” agar bisa diterima di dunia korporasi. Lantas, bagaimana ini memengaruhi dominasi Anda sebagai majikan yang punya akal?
OpenAI baru saja mengumumkan “Frontier Alliance”, sebuah langkah strategis untuk memuluskan adopsi platform AI agen mereka, OpenAI Frontier, di kalangan perusahaan. Tim Forward Deployed Engineering OpenAI akan bahu-membahu dengan para konsultan ini, seolah-olah AI butuh “guide tour” pribadi agar tidak nyasar di tumpukan sistem lawas perusahaan. Ini bukan hal baru, karena para pesaing seperti Anthropic pun sudah lebih dulu menggandeng konsultan raksasa macam Deloitte dan Accenture. Agaknya, robot-robot ini sadar betul bahwa untuk menembus birokrasi dan kekakuan korporasi, sentuhan manusia (yang digaji mahal) tetap tak tergantikan.
CEO BCG, Christoph Schweizer, bahkan tak ragu berujar, “AI saja tidak mendorong transformasi. Ia harus terhubung dengan strategi, dibangun dalam proses yang didesain ulang, dan diadopsi pada skala besar dengan insentif serta budaya yang selaras untuk memberikan hasil berkelanjutan.” Nah, kan? Robot boleh pintar bikin puisi atau kode, tapi urusan “budaya kerja” dan “strategi bisnis”, mereka masih perlu sekolah lagi. Ini membuktikan bahwa tanpa majikan yang punya akal untuk mengarahkan, AI hanyalah tumpukan kode yang mahal. Mirip seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, mereka bisa membersihkan rumah dengan sempurna, tapi butuh perintah jelas dan arahan agar tidak membuang dokumen penting Anda ke tempat sampah.
Adopsi AI di perusahaan memang cenderung lambat, banyak yang masih bingung mencari “Return on Investment” yang jelas. Mereka mungkin sudah berinvestasi besar-besaran, tapi hasilnya seringkali cuma jadi pajangan teknologi. Seperti yang pernah kami ulas dalam artikel “AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!“, masalahnya seringkali bukan pada AI-nya, tapi pada bagaimana manusia mengintegrasikannya.
Oleh karena itu, jika Anda ingin agar AI di perusahaan Anda tidak berakhir sebagai boneka mahal, Anda harus punya kendali penuh. Pelajari bagaimana mengelola dan memberikan arahan yang tepat. Dengan AI Master, Anda tidak hanya belajar teknis, tapi juga filosofi menjadi majikan sejati yang menguasai teknologi, bukan sebaliknya. Mengerti cara kerja dan batasan AI akan membuat Anda selangkah lebih maju, bahkan dari para konsultan yang kini digandeng OpenAI.
Ini juga menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa persaingan di dunia AI semakin memanas, terutama di ranah bisnis. OpenAI memang punya ambisi besar di tahun 2026, dengan CFO Sarah Friar menyebut ranah enterprise sebagai fokus utama. Mereka bahkan sudah merekrut Barret Zoph untuk memimpin penjualan enterprise, serta menjalin kesepakatan dengan Snowflake dan ServiceNow. Namun, perlu diingat, seperti yang kami bahas di “OpenAI Keok di Pasar Enterprise? Majikan AI Ungkap Drama Perebutan Cuan Mesin“, pasar enterprise itu kejam, dan janji manis robot saja tidak cukup. Dibutuhkan kecerdasan majikan untuk melihat celah, merancang strategi, dan memastikan AI benar-benar bekerja untuk kepentingan manusia.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Lalu, Bagaimana Majikan AI Menyikapi Ini?
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa OpenAI, meskipun punya teknologi mutakhir, masih belum punya “akal sehat” bisnis yang mendalam untuk menembus pasar korporasi sendirian. Mereka butuh tangan-tangan manusia yang punya pengalaman bertahun-tahun di medan perang bisnis untuk meyakinkan para CEO. Ini adalah validasi bahwa faktor manusia, mulai dari strategi, implementasi, hingga penyesuaian budaya, masih menjadi kunci utama keberhasilan AI.
Jika Anda bergerak di bidang pemasaran, ini adalah sinyal bahwa AI bisa menjadi alat yang sangat ampuh, asalkan Anda tahu cara “memerintahnya”. Jangan sampai strategi marketing Anda menjadi “nggak robot banget”, justru karena Anda terlalu mengandalkan AI tanpa akal. Creative AI Marketing akan membantu Anda meracik strategi yang cerdas dan relevan, memastikan AI menjadi asisten yang patuh, bukan bos yang sok tahu.
Penutup:
Pada akhirnya, kisah OpenAI yang memanggil “dukun” bisnis ini adalah pengingat yang jelas: seberapa pun canggihnya AI, ia hanyalah alat. Tombol ‘on’ dan ‘off’ ada di tangan manusia, pun demikian dengan arah dan tujuan penggunaannya. Jangan sampai kita terlena dengan janji manis robot, hingga lupa bahwa akal dan kreativitas majikan adalah komoditas paling langka dan berharga. Sebab AI hanyalah alat, kitalah majikan yang punya akal.
Oh ya, tadi pagi saya melihat seekor kucing mengeong ke arah robot penyedot debu, mungkin dia sedang meminta bantuan untuk mencari ikan.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Thomas Fuller/SOPA Images/LightRocket via Getty Images