Robot Humanoid Itu Cerdas atau Cuma Punya ‘Babu’ Manusia Tersembunyi? Fakta di Balik Janji Manis AI!
Robot Humanoid Itu Cerdas atau Cuma Punya ‘Babu’ Manusia Tersembunyi? Fakta di Balik Janji Manis AI!
Jensen Huang dari Nvidia sesumbar bahwa kita sudah memasuki era AI fisik, di mana robot humanoid akan lebih dari sekadar chatbot yang bisa gerak. Mereka janji bisa meniru manusia, belajar, dan beradaptasi. Tapi, Majikan AI, jangan langsung percaya begitu saja. Di balik demonstrasi robot yang tampak mulus melipat baju atau merakit mobil, ada keringat manusia yang tak terlihat yang membuat semua itu tampak “cerdas”. Inilah saatnya kita mengupas tuntas, bagaimana manusia bisa tetap jadi majikan, bukan cuma jadi penyedia data gratis bagi robot yang sok pintar.
Di era yang katanya serba otomatis ini, robot humanoid digembar-g-gemborkan sebagai solusi segala masalah. Namun, seperti layaknya asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang piknik, mereka seringkali hanya secerdas instruksi yang diberikan manusia. Penulis James O’Donnell dari MIT Technology Review mengungkap borok di balik janji manis ini. Kurangnya transparansi mengenai kerja keras manusia dalam melatih dan mengoperasikan robot ini membuat kita terlalu melebih-lebihkan kemampuan asli AI. Ini bukan sekadar bias, ini penipuan halus di mata publik.
Ambil contoh kasus seorang pekerja di Shanghai yang menghabiskan seminggu penuh memakai headset VR dan eksoskeleton hanya untuk membuka dan menutup pintu microwave ratusan kali sehari! Semua demi melatih robot di sampingnya. Ini bukan fiksi ilmiah, Majikan, ini adalah kenyataan pahit di mana manusia menjadi “babunya” robot, mengajari mereka setiap gerakan receh. Bayangkan, gerakan-gerakan harian kita kini menjadi data latihan berharga bagi model bahasa besar (LLM) versi fisik. Kalau kata-kata kita sudah jadi santapan algoritma, kini giliran gerak-gerik tubuh kita yang jadi menu utama. Apakah ini kemajuan atau justru kemunduran martabat manusia?
Perusahaan seperti Figure AI bahkan sudah berencana bekerja sama dengan firma investasi Brookfield untuk mengumpulkan “data besar-besaran” dari lingkungan rumah tangga. Artinya, bisa jadi kegiatan membersihkan rumah atau menata piring yang Anda lakukan, diam-diam direkam untuk mengajari robot. Ini bukan lagi soal efisiensi, tapi tentang penyalahgunaan privasi dan eksploitasi tenaga kerja. Robot itu cerdas, tapi tidak punya akal sehat untuk membedakan etika.
Lalu, ada lagi fenomena “tele-operasi”. Robot Neo seharga $20.000 dari startup 1X dijanjikan bakal beredar di rumah-rumah tahun ini. Tapi, sang pendiri, Bernt Øivind Børnich, mengakui bahwa otonominya belum sempurna. Jika robotnya macet saat menyetrika baju atau membersihkan piring kotor, seorang tele-operator dari Palo Alto, California, akan mengambil alih kendali, mengintip melalui kamera robot untuk menyelesaikan tugas. Ini seperti punya pembantu yang bisa tiba-tiba jadi mata-mata dari jauh, Majikan! Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?
“Ini bukan cuma soal robotik, tapi juga etika yang jauh lebih dalam,” kata Aaron Prather, seorang roboticist. Perusahaan pengiriman bahkan meminta pekerjanya memakai sensor pelacak gerak saat memindahkan kotak, semua data dikumpulkan untuk melatih robot. Bayangkan, Anda digaji untuk mengajari pengganti Anda sendiri! Ini adalah bentuk kerja baru yang aneh dan bisa jadi lebih buruk dari pekerjaan gig karena tidak hanya memanfaatkan tenaga, tapi juga setiap detail gerakan Anda.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Kita sudah sering melihat drama serupa. Moderasi konten AI di media sosial seringkali melibatkan pekerja bergaji rendah di negara berkembang yang dipaksa melihat konten-konten mengerikan. Klaim bahwa AI akan belajar sendiri dari “output”-nya hanyalah dongeng pengantar tidur. Faktanya, model terbaik sekalipun butuh banyak sekali umpan balik manusia agar bisa berfungsi sesuai keinginan.
Ketika tenaga kerja manusia ini disembunyikan, publik cenderung melebih-lebihkan kemampuan mesin. Kasus Tesla dengan fitur “Autopilot” adalah contoh nyata. Ekspektasi publik yang melambung tinggi membuat orang percaya mobil bisa sepenuhnya otonom, padahal tidak. Akibatnya? Sebuah kecelakaan fatal dan denda $240 juta. Robot humanoid tidak akan berbeda. Jika AI fisik benar-benar akan menyerbu tempat kerja dan rumah kita, maka cara kita menggambarkan dan menguji teknologi ini sangatlah penting. Jika tidak, kita hanya akan menukar akal sehat dengan ilusi, dan menganggap kerja keras manusia sebagai kecerdasan mesin.
Ingin tahu cara memerintah AI dengan benar agar tidak cuma jadi “babunya”? Kuasai AI Master sekarang! Pelajari cara mengendalikan AI dan jadilah majikan sejati yang punya akal, bukan sekadar penonton di era teknologi ini. Kendalikan AI-mu di sini!
Atau mungkin Anda ingin membangun konten tanpa perlu menguras dompet untuk membayar talent? Creative AI Pro akan mengubah Anda menjadi content creator handal yang bisa bikin semua mata terpana. Ciptakan konten profesionalmu sekarang!
Intinya, Majikan AI, robot itu hanya tumpukan besi dan kode yang patuh. Mereka hanya akan secerdas, seinovatif, dan seetis manusia di baliknya. Tanpa jari manusia yang menekan tombol, tanpa akal manusia yang memberi perintah, robot humanoid hanyalah manekin mahal yang bisa bergerak. Jangan sampai kita lupa, siapa bosnya di sini.
Ngomong-ngomong, aku dengar tetangga sebelah lagi sibuk melatih robotnya untuk mengambilkan remot TV. Padahal remotnya cuma geser dua senti. Prioritas, Majikan, prioritas!
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “MIT Technology Review”.
Gambar oleh: Sarah Rogers/MITTR via TechCrunch | Photos Getty