Pinterest Makin Penuh ‘Sampah’ AI dan Robot Kurang Piknik: Akankah Majikan Kehilangan Akal Sehatnya?
Pinterest, platform visual yang dulu jadi surga inspirasi, kini makin mirip gudang rongsokan digital. Bukan salah manusia, tapi si robot AI yang katanya “cerdas” itu. Pengguna melaporkan bahwa platform ini kebanjiran “AI slop” alias sampah visual buatan AI, sistem moderasi yang ngaco, bahkan hingga pemblokiran akun tanpa alasan jelas. Sepertinya, Pinterest butuh lebih dari sekadar algoritma canggih, mereka butuh akal sehat seorang Majikan.
Bagaimana tidak? Laporan dari Mashable dan 404 Media menunjukkan bahwa sistem moderasi otomatis Pinterest sering keliru melabeli gambar buatan manusia sebagai “AI modified”, khususnya foto-foto perempuan. Sementara itu, “AI slop” yang asli malah makin merajalela. Ini seperti Anda punya asisten rumah tangga yang rajin, tapi lebih sering membersihkan debu di tempat yang sudah bersih, sementara sampah dapur malah dibiarkan menumpuk.
Sudah bertahun-tahun masalah ini mengakar. Bahkan, kebijakan privasi mereka diperbarui pada Maret 2025 untuk memberi makan “pin publik” pengguna ke model machine learning mereka, termasuk untuk melatih AI dasar Pinterest Canvas. Ini seperti menyerahkan koleksi foto keluarga Anda kepada robot untuk belajar, tapi robotnya malah salah mengidentifikasi wajah keluarga Anda dengan artis K-Pop.
Puncaknya terjadi pada Mei tahun lalu, ketika banyak pengguna mengeluhkan algoritma yang dipenuhi konten AI dan kemudian secara massal akun mereka diblokir. Diduga kuat, ini ulah sistem moderasi AI yang kurang piknik. Pinterest memang berdalih menggunakan kombinasi AI dan tinjauan manusia, lengkap dengan proses banding. Tapi, jika robot Anda lebih sering melakukan kesalahan daripada membuat kebenaran, apakah Anda masih percaya pada sistem tersebut?
Kisah ini bukan hanya tentang Pinterest. Fenomena “AI slop” dan kegagalan moderasi ini menjangkiti banyak platform media sosial lain, mulai dari YouTube Shorts yang bikin otak “brainrot”, bot dan gambar hasil Grok di X, hingga influencer virtual yang menjiplak konten kreator TikTok. Seolah-olah, para robot ini sedang berlomba-lomba menunjukkan betapa absurdnya mereka jika tanpa kendali yang jelas.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Bot Error.
Lalu, apa yang dilakukan Pinterest? Setelah dihujani kritik, pada Oktober lalu mereka menambahkan fitur untuk menyaring konten AI dari rekomendasi. Namun, mereka juga mengakui bahwa fitur tersebut tidak akan sepenuhnya memberantas masalah. Ini sama saja memberi obat sakit kepala pada pasien yang menderita flu berat. Tentu saja, tidak akan banyak membantu.
Ironisnya, baru bulan lalu Pinterest malah melakukan PHK terhadap ratusan karyawannya demi fokus pada “produk dan kapabilitas berbasis AI” seperti Pinterest Assistant. Ini menunjukkan betapa yakinnya korporasi pada potensi robot, bahkan jika itu berarti mengorbankan akal manusia di balik layar. Namun, seperti yang pernah kami bahas dalam artikel “AI Disalahkan, Karyawan Dikorbankan: Benarkah Ini Era ‘AI-Washing’ atau Bosnya Kurang Piknik?”, seringkali bukan salah robotnya, tapi majikannya yang salah arah.
Jika Anda tidak ingin karya visual Anda berakhir jadi ‘slop’ dan ingin mengendalikan AI agar benar-benar bekerja untuk Anda, saatnya mengasah skill. Ikuti Belajar AI | Visual AI agar visual Anda tetap berkelas, bukan hasil halusinasi robot. Atau, jadilah AI Master sejati yang tahu cara memerintah robot dengan benar.
Pada akhirnya, mau secanggih apapun algoritma dan seburuk apapun ‘slop’ yang dihasilkan, AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu instruksi. Tanpa akal sehat manusia, dia cuma akan jadi babu yang kurang piknik. Bahkan, seperti yang terjadi di platform lain, robot bisa kebablasan hingga bikin konten yang tidak pantas jika tidak ada akal Majikan yang mengawasinya.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: SOPA Images/ Contributor / LightRocket via Getty Images