Ekonomi AIKonflik RaksasaSidang BotStrategi Startup

AI Disuruh Bikin Obat: Startup ‘Anak Asuh’ OpenAI Digandeng Raksasa Farmasi, Cuan Triliunan di Depan Mata

Mencari obat baru itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami seluas samudra. Prosesnya lambat, mahal, dan seringkali gagal. Raksasa farmasi bisa bakar duit miliaran dolar hanya untuk menemukan satu molekul yang mujarab. Kini, mereka mulai sadar: kenapa harus kerja keras kalau bisa menyuruh ‘asisten digital’ yang bekerja 24/7 tanpa ngeluh?

Inilah yang terjadi saat startup AI bernama Chai Discovery digandeng oleh Eli Lilly, salah satu pemain kelas kakap di dunia farmasi. Mereka tidak lagi mencari jarum, mereka memerintahkan AI untuk ‘menggambar’ jarum yang tepat dari awal.

Faktanya, Chai Discovery ini bukan startup kaleng-kaleng. Didirikan baru pada tahun 2024, perusahaan ini sudah punya valuasi $1,3 miliar dan baru saja mengantongi pendanaan Seri B sebesar $130 juta. Siapa di belakangnya? Nama-nama besar seperti OpenAI (ya, bapaknya ChatGPT) dan CEO-nya, Sam Altman, adalah salah satu investor awalnya. Bahkan, para pendiri Chai Discovery memulai petualangan mereka dari kantor OpenAI.

Lalu apa yang mereka jual? Sebuah algoritma bernama Chai-2 yang tugasnya merancang antibodi—protein yang jadi garda terdepan sistem imun kita. Eli Lilly pada dasarnya ‘menyewa’ AI ini untuk menjadi arsitek molekul, mempercepat proses penemuan obat yang biasanya butuh bertahun-tahun menjadi hitungan bulan, atau bahkan minggu.

Tapi di sinilah kita sebagai Majikan harus berpikir jernih. Apakah AI ini lantas jadi dokter atau ilmuwan? Tentu saja tidak. AI ini ibarat asisten desainer yang sangat jago menggambar denah gedung. Dia bisa menghasilkan ribuan desain berdasarkan parameter yang kita berikan: ‘buatkan saya molekul yang bisa menarget sel kanker X tanpa merusak sel Y’. Tapi, AI tidak bisa turun ke lapangan, dia tidak bisa mengurus izin mendirikan bangunan, apalagi benar-benar membangun gedungnya. Dia tidak paham etika uji klinis, tidak punya intuisi seorang peneliti veteran, dan jelas tidak bisa menenangkan pasien yang cemas. Dia hanya menjalankan perintah berdasarkan data.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.

Memberi perintah pada AI untuk tugas serumit ini bukanlah sekadar mengetik ‘buatkan saya obat’. Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang cara kerja dan batasan alat ini agar hasilnya presisi. Inilah esensi menjadi seorang Majikan, bukan sekadar pengguna. Anda harus menguasai cara berpikir algoritmik untuk memegang kendali penuh, sebuah keahlian yang diajarkan dalam kelas AI Master, agar AI tetap menjadi alat, bukan babu yang sok pintar.

Kerja sama Chai Discovery dan Eli Lilly adalah bukti nyata bagaimana AI menjadi ‘otot’ baru dalam industri bernilai triliunan dolar. Kecepatan dan efisiensi yang ditawarkan memang menggiurkan. Namun, jangan pernah lupa, semua ini hanyalah alat canggih. Tanpa arahan dari para Majikan—ilmuwan, dokter, dan para ahli—yang punya akal dan nurani, AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu perintah. Dia bisa merancang kunci, tapi manusialah yang memutuskan pintu mana yang harus dibuka.

Omong-omong, kenapa kalau kita beli martabak, yang manis selalu dilipat tapi yang asin tidak?

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *