Kiamat Startup AI Sudah di Depan Mata? Bos Google Ingatkan Dua Jenis Ini Paling Rawan Punah!
Dulu, setiap startup yang pakai embel-embel “AI” langsung jadi primadona. Investor berebut, media heboh, semua merasa masa depan sudah ada di genggaman. Tapi, tunggu dulu. Kini, seorang Vice President Google Cloud, Darren Mowry, menyalakan lampu kuning, bahkan mungkin lampu merah, bagi dua jenis startup AI: LLM wrappers dan AI aggregators. Jadi, para majikan di luar sana, ini bukan lagi soal bisa atau tidak bisa pakai AI, tapi bagaimana kita bisa bertahan saat robot mulai menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Kalau cuma jadi babu alat, siap-siap gulung tikar.
Generative AI memang menciptakan gelombang startup secepat kilat. Tapi, seperti kata Mowry, banyak dari mereka yang hanya “menyelipkan” lapisan produk atau UI di atas Large Language Models (LLM) yang sudah ada, seperti GPT, Claude, atau Gemini. Ini yang disebut LLM wrappers. Ambil contoh startup yang cuma bikin aplikasi belajar dengan basis GPT. Mowry tegas mengatakan, industri “tidak lagi punya banyak kesabaran” untuk model bisnis semacam ini.
Kenapa? Karena tidak ada diferensiasi yang kuat. Ibaratnya, Anda menyuruh asisten rumah tangga (AI) untuk mencuci piring dengan sabun yang sudah ada (LLM), tapi Anda hanya mengganti label merek sabunnya. Apa bedanya dengan menyuruh langsung si asisten? Mowry menekankan pentingnya inovasi yang mendalam dan memiliki “parit” yang lebar, entah itu diferensiasi horizontal yang unik atau sesuatu yang sangat spesifik untuk pasar vertikal. Startup yang sukses seperti Cursor (asisten coding berbasis GPT) atau Harvey AI (asisten legal AI) punya nilai tambah yang signifikan, bukan cuma bungkus.
Situasi serupa juga melanda AI aggregators, yaitu startup yang mengumpulkan banyak LLM ke dalam satu antarmuka atau API. Mowry, yang berpengalaman puluhan tahun di ranah cloud computing (mulai dari AWS hingga Microsoft), melihat pola yang sama seperti era awal cloud. Dulu, banyak startup yang hanya menjual kembali infrastruktur AWS. Begitu Amazon mengembangkan fitur-fitur enterprise sendiri dan pelanggan belajar mengelola langsung, para “penjual kembali” ini pun rontok. Hanya yang menawarkan layanan nilai tambah (seperti keamanan atau konsultasi DevOps) yang bertahan.
Mowry menyarankan agar para majikan AI “menjauhi bisnis agregator” karena mereka menghadapi tekanan margin yang serupa. Pengguna ingin solusi yang terintegrasi dengan kekayaan intelektual yang jelas, bukan sekadar “penghubung” yang mengatur lalu lintas model berdasarkan kendala komputasi di belakang layar.
Ini adalah pengingat penting: AI hanyalah alat. Kalau alatnya bisa diakses semua orang dan mudah ditiru, maka nilai Anda ada di mana? Justru akal manusialah yang menciptakan keunikan. Jangan biarkan robot menjadi ujung tombak tanpa strategi yang matang. Seperti kata pepatah, “robot rajin itu bagus, tapi majikan cerdas itu lebih penting.”
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Ekonomi AI.
Mowry justru optimis dengan platform pengembang, teknologi direct-to-consumer yang menempatkan alat AI langsung di tangan konsumen (seperti generator video AI Google Veo untuk siswa film), serta bioteknologi dan teknologi iklim. Sektor-sektor ini, katanya, mampu mengakses “sejumlah besar data” untuk menciptakan nilai nyata yang sebelumnya mustahil. Mereka membangun parit inovasi yang dalam, bukan sekadar kulit luar.
Untuk menghindari jebakan “LLM wrapper” dan “AI aggregator” yang membosankan dan cepat punah, Anda perlu punya strategi yang benar-benar unik dan tak bisa ditiru robot begitu saja. Kuasai cara membangun dan mengelola AI agar AI bekerja untuk Anda, bukan sebaliknya. AI Master akan membekali Anda dengan pengetahuan untuk menjadi penguasa teknologi, bukan babu yang cuma bisa klak-klik.
Selain itu, untuk menciptakan “parit” diferensiasi yang tak bisa dirobohkan, terutama di area konten dan pemasaran, strategi marketing yang “nggak robot banget” adalah kuncinya. Dengan Creative AI Marketing, Anda bisa membuat konten promosi yang benar-benar memukau dan personal, jauh dari kesan monoton ala algoritma.
Dan jika Anda ingin memanfaatkan potensi cuan tanpa harus terjebak model bisnis usang, coba lirik dunia afiliasi. Kelas AI Affiliate mengajarkan cara cerdas memanfaatkan AI untuk meraih cuan, bahkan di platform seperti TikTok, tanpa perlu tampil di kamera. Ini adalah contoh bagaimana kita bisa memanfaatkan AI sebagai alat pembantu, bukan sebagai pengganti ide dan strategi bisnis kita.
Kisah ini mengingatkan kita pada artikel sebelumnya tentang “drama perebutan cuan mesin” di pasar enterprise, di mana OpenAI pun “keok” jika tidak memiliki diferensiasi yang kuat. Atau, seperti pertanyaan besar di artikel “Bukan Sekadar Gelembung, Ini Tsunami AI: Siapkah Kamu Jadi Peselancar atau Penonton?”, apakah Anda siap menjadi peselancar yang cerdas atau hanya penonton yang tersapu gelombang?
Intinya, AI itu seperti pisau. Bisa jadi alat bantu yang luar biasa, bisa juga melukai jika tidak digunakan dengan akal dan strategi. Para majikan sejati harus bisa melihat lebih dari sekadar tren sesaat. Diferensiasi, nilai tambah, dan pemahaman mendalam tentang pasar adalah kunci. Kalau tidak, startup Anda bisa jadi “robot pelayan” yang duluan dipecat sebelum sempat menyajikan kopi.
Dan ingat, secanggih-canggihnya AI, dia tetap tidak akan tahu kenapa kaus kaki selalu hilang satu pasang setelah dicuci.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Darren Mowry via TechCrunch