Intruksi MajikanSeni PromptSidang BotSoftware SaaS

Website Anda Hambar? Mungkin AI Anda Kurang Ngopi: Jurus Ampuh Memaksa AI Bikin Website Kelas Dewa!

AI website builder memang menggiurkan. Ketik deskripsi singkat, klik “Generate,” dan taraa… website jadi! Tapi seringnya hasilnya itu-itu saja, generik, seperti kopi saset di warung sebelah. Bukan salah AI-nya, salah Anda yang tidak tahu cara memberi perintah. Ingat, AI itu pembantu rajin, tapi kaku. Kalau disuruh “buatkan makanan enak,” dia bisa saja kasih mie instan dengan topping standar. Kalau mau tahu lebih jauh tentang builder AI terbaik, kami punya ulasannya.

Data menunjukkan 93% desainer web sudah merangkul alat AI, dan 67% pemilik bisnis jatuh cinta pada builder AI. Ini bukan tren, ini kenyataan. Jadi, kalau tidak mau ketinggalan, Anda wajib tahu cara menjadi “Majikan” yang cerdas dalam membuat website sendiri dengan AI. Artikel ini akan membongkar rahasia di balik prompt-prompt ajaib yang akan membuat AI Anda bekerja layaknya desainer web profesional, bukan sekadar tukang ketik kode.

AI Website Builder: Si Tukang Bangun yang Kaku

AI website builder itu sebetulnya “model bahasa besar” yang sudah dilatih khusus untuk urusan web. Mereka menelan jutaan data website, menganalisis pola, lalu memuntahkannya kembali dalam bentuk layout, teks, gambar, dan navigasi. Mirip asisten rumah tangga yang sudah belajar banyak resep, tapi kalau Anda tidak detail, dia akan masak menu “sejuta umat”.

AI tidak punya intuisi artistik, juga tidak tahu seluk-beluk bisnis Anda. Dia tidak tahu apakah target pasar Anda emak-emak arisan atau eksekutif perusahaan yang sibuk. AI cuma tahu apa yang Anda “ketik”. Itulah kenapa, kalau Anda ketik “buatkan website yang bagus,” hasilnya ya… bagus menurut standar AI yang paling generik. Tidak ada sentuhan personal, tidak ada “rasa”.

1. Mulai dengan Konteks, Bukan Fitur. (Maju Mundur Cantik)

Jangan langsung minta “pasang formulir kontak dan galeri foto”. AI itu seperti anak kecil yang baru belajar; dia perlu tahu siapa Anda dan mengapa dia harus membangun ini.

Contoh: Daripada “Saya butuh website untuk toko kue,” coba ini: “Buatkan website untuk ‘Manisan Nusantara’, sebuah toko kue tradisional di Yogyakarta yang fokus pada jajanan pasar premium dan kue tart kustom. Pelanggan kami menghargai keaslian rasa, bahan berkualitas, dan sentuhan personal dalam setiap pesanan.” Dengan ini, AI akan berpikir: “Oh, tradisional, premium, Yogyakarta, jadi warnanya mungkin hangat, font-nya klasik, gambarnya detail, dan bahasa promosinya bernuansa budaya.”

2. Tentukan Gaya Visual dan Nuansa. (Jangan Jadi Misterius)

Kata “modern” atau “profesional” itu terlalu abstrak bagi AI. Seolah Anda minta ART (Asisten Rumah Tangga) “pakaian yang keren” tanpa menjelaskan acaranya ke mana, siapa yang ditemui, atau Anda ingin tampil seperti apa.

Coba gunakan referensi visual spesifik. Katakanlah: “Desainnya harus elegan dan minimalis ala galeri seni kontemporer,” atau “Hangat dan mengundang seperti kedai kopi artisanal dengan sentuhan industrial.” Sebutkan palet warna (misal: “dominasi warna terracotta dan krem dengan aksen hijau daun”), jenis font (misal: “serif untuk judul, sans-serif untuk isi”), bahkan nuansa situs yang Anda kagumi. Ini jauh lebih efektif daripada sekadar kata sifat yang samar.

3. Definisikan Audiens Target dengan Jelas. (Siapa Bos Anda Sebenarnya?)

Sebuah website untuk eksekutif perusahaan harus terlihat dan berfungsi sangat berbeda dari situs untuk mahasiswa atau pensiunan. Audiens target Anda menentukan segalanya, mulai dari kompleksitas navigasi hingga nada konten. Pastikan hal ini sangat jelas dalam prompt Anda.

Jelaskan siapa yang ingin Anda jangkau. Sertakan rentang usia, profesi, tingkat keahlian teknis, dan masalah yang ingin mereka selesaikan. Coba sesuatu seperti: “Situs ini menargetkan pemilik usaha kecil berusia 35-50 tahun yang kewalahan dengan teknologi dan membutuhkan solusi langsung.”

Ketika AI memahami perspektif audiens Anda, ia dapat menciptakan pengalaman yang benar-benar mengubah pengunjung menjadi pelanggan. AI akan memilih konten yang sesuai, citra yang cocok, dan navigasi terstruktur yang masuk akal bagi pengguna spesifik Anda.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Seni Prompt.

4. Bangun Berulang, Bukan Sekali Jadi. (Pelan-Pelan Saja, Jangan Gas Rem Mendadak)

Mencoba membuat website lengkap dengan satu prompt? Itu seperti meminta ART membangun rumah mewah dari nol hanya dengan satu sketsa kasar. Hasilnya pasti amburadul.

Mulai dari halaman utama dengan pesan inti dan ajakan bertindak utama. Setelah itu solid, baru minta halaman “Tentang Kami”, lalu “Produk/Layanan”, dan terakhir “Kontak”.

Untuk perubahan, pakai perintah spesifik: “Tambahkan bagian testimoni pelanggan di bawah hero image dengan tiga kutipan,” atau “Ganti foto tim generik dengan foto individual yang diatur dalam format grid.” Metode ini mencegah AI bingung karena instruksi yang terlalu rumit dan membuat Anda tetap memegang kendali atas hasil akhir.

5. Sertakan Struktur Halaman dan Persyaratan Konten Spesifik. (Detail Itu Kekuatan)

Jangan berasumsi AI akan otomatis tahu halaman dan bagian apa yang Anda butuhkan. Daftar secara eksplisit dalam prompt Anda. Untuk setiap bagian, sebutkan jenis konten yang harus disertakan dan fungsionalitas spesifik yang diperlukan. Butuh formulir kontak? Katakan saja. Ingin kategori produk diatur dengan cara tertentu? Jelaskan.

Misalnya, Anda membuat situs web konferensi. Prompt yang detail mungkin menentukan: “Sertakan empat halaman: Beranda, Pembicara, Tiket, dan Sponsor. Halaman beranda harus menampilkan bagian hero yang menonjol dengan tanggal acara, lokasi, dan tombol CTA yang jelas.” Ini memastikan AI menciptakan struktur yang Anda butuhkan alih-alih menebak.

Contoh Prompt AI untuk Inspirasi Anda

Siap menerapkan teknik ini? Berikut adalah beberapa contoh prompt terperinci untuk berbagai jenis website yang menunjukkan apa yang telah kita bahas:

  • Website Portofolio: “Buatkan website portofolio bernama ‘Alex Chen Photography’ yang menampilkan karya fotografi komersial dan editorial. Sertakan lima bagian: Hero dengan gambar-gambar dramatis full-width, Karya yang diatur berdasarkan kategori (Editorial, Komersial, Potret), Tentang Saya dengan cerita pribadi dan proses kreatif, Daftar Klien yang menampilkan merek-merek terkenal, dan Formulir Kontak. Desain harus terasa modern dan minimalis dengan banyak ruang putih, tipografi bersih, dan gambar hitam-putih yang berani. Target audiens adalah direktur seni dan direktur kreatif di agensi periklanan.”
  • Bisnis Jasa Lokal: “Bangun website untuk ‘Precision Plumbing’ yang melayani wilayah metropolitan Boston. Sertakan empat halaman: Beranda dengan banner layanan darurat dan nomor telepon yang ditampilkan secara menonjol, Layanan yang merinci penawaran residensial dan komersial dengan rentang harga, Ulasan yang menampilkan peringkat 5-bintang dari Google dan testimoni pelanggan, dan Kontak dengan peta area layanan dan formulir penjadwalan. Desain harus terasa tepercaya dan profesional, dengan skema warna biru dan putih yang bersih, navigasi yang mudah, dan ajakan bertindak yang jelas. Targetkan pemilik usaha kecil berusia 30-65 tahun yang membutuhkan tukang lokal yang andal.”
  • Landing Page SaaS: “Desain landing page untuk ‘TeamSync,’ alat manajemen proyek untuk tim jarak jauh. Sertakan bagian Hero dengan video demo produk animasi, Fitur yang menyoroti kolaborasi real-time dan integrasi, Tabel Harga yang membandingkan paket Free, Pro, dan Enterprise, Logo Pelanggan dari perusahaan teknologi terkenal, dan Alur Pendaftaran. Desain harus terasa modern dan berteknologi dengan latar belakang gradien, mikro-animasi, dan bentuk geometris yang tajam. Targetkan pendiri startup dan manajer proyek di perusahaan teknologi yang sedang berkembang yang kesulitan dengan koordinasi tim terdistribusi.”

Menguasai seni memberi perintah pada AI memang butuh latihan. Tapi jangan khawatir, Anda tidak perlu jadi ahli coding atau desainer kelas kakap. Cukup jadi ‘Majikan’ yang cerdas. Untuk Anda yang ingin lebih dalam menguasai AI agar bukan Anda yang jadi babu teknologi, kami rekomendasikan modul AI Master. Atau, jika Anda ingin website Anda tidak terlihat ‘robot banget’, coba intip Creative AI Pro untuk menghasilkan konten visual yang memukau dan personal.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Sehebat apapun algoritmanya, ia tidak memiliki akal dan visi seperti manusia. Tombol “Generate” itu hanya akan menghasilkan sampah digital jika inputnya juga sampah. Kecerobohan dalam memberi perintah akan berujung pada website yang hambar dan tidak efektif. Ingatlah, kaulah Majikan yang punya akal, AI hanyalah alat. Gunakan dengan bijak, dan ia akan melayanimu bak raja.

Ngomong-ngomong, tahu tidak kenapa tukang kopi di kantor selalu salah pesanan saya? Mungkin saya harus mulai memberi prompt seperti ke AI.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “How to write effective prompts for AI website builders”.

Gambar oleh: Wix via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *