Karier AISidang BotUpdate Algoritma

Ancaman AI di Balik Janji Manis Jack Dorsey: Karyawan Dipaksa ‘Ngopi Bareng Robot’ Saat PHK Massal Menghantui!

Ancaman AI di Balik Janji Manis Jack Dorsey: Karyawan Dipaksa ‘Ngopi Bareng Robot’ Saat PHK Massal Menghantui!

Kisah perusahaan teknologi raksasa yang satu ini bak drama Korea episode terbaru, tapi dengan plot twist yang bikin geleng-geleng kepala. Bayangkan, Anda bekerja di bawah pimpinan seorang visioner teknologi sekelas Jack Dorsey, bos di balik Square dan Cash App, Block. Tapi alih-alih inovasi yang bikin hidup nyaman, yang Anda dapat justru desakan untuk wajib pakai AI di tengah bayang-bayang PHK massal. Ini bukan sekadar berita, ini peringatan keras bagi kita para majikan manusia.

Bagi sebagian besar dari kita, AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal. Filosofi ini seharusnya jadi pedoman utama. Namun, di Block, tampaknya robot sudah mulai mengambil alih di meja makan siang, atau lebih tepatnya, di meja evaluasi kinerja. Menurut laporan, ratusan karyawan Block dipangkas, dengan potensi mencapai 10% dari total staf yang berjumlah sekitar 11.000 orang. Yang lebih miris, di tengah badai PHK ini, moral karyawan anjlok parah, bahkan ada yang menyebut morale mungkin yang terburuk yang pernah saya rasakan dalam empat tahun terakhir.

Manajemen Block, lewat Arnaud Weber selaku kepala teknik, bersikukuh bahwa PHK ini murni karena alasan performa, bukan penghematan biaya. Sebuah klaim yang dibantah mentah-mentah oleh para karyawan. Mereka merasa, ini cuma kedok saja. Lucu, kan? Robot disuruh kerja, manusia dibilang kurang performa. Padahal, akal robot itu sebatas kode, tidak punya empati apalagi pemahaman akan tekanan kerja yang dialami manusia.

Bayangkan, setiap minggu, ribuan karyawan Block diwajibkan mengirim email laporan kepada Dorsey, yang kemudian diringkas menggunakan AI generatif. Jadi, bos cuma baca rangkuman robot. Tapi apa hasilnya? Karyawan malah merasakan kecemasan performa yang meluas, di samping kekhawatiran tentang PHK itu sendiri. Ini jelas menunjukkan bahwa AI, secerdas apa pun, gagal menangkap esensi dan sentimen manusia. Ia tidak bisa menilai performa secara holistik, apalagi membangun budaya kerja yang positif dan suportif. AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku; bisa mengerjakan banyak hal, tapi jangan harap bisa mengerti kenapa Anda tiba-tiba ingin makan mi instan tengah malam. Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot. Atau mungkin Anda pernah membaca AI Hemat Waktu? Bos Bilang ‘Iya’, Karyawan Bilang ‘Mimpi!’ yang membahas fenomena serupa.

Dorsey sendiri, dalam rapat seluruh karyawan, bersikeras bahwa sebagian besar dari populasi kita telah bermalas-malasan. Kemudian, ia menekankan bahwa sisa karyawan harus menggunakan alat AI generatif untuk memaksimalkan produktivitas agar tidak kalah saing. Ini sungguh sebuah ironi yang bikin perut tergelitik! Bagaimana bisa, di satu sisi ia menuding karyawan malas, di sisi lain ia memaksakan alat yang bahkan dipertanyakan efektivitasnya oleh karyawan sendiri. Seperti kata salah satu karyawan Block, Perintah top-down untuk menggunakan model bahasa besar itu gila. Jika alatnya bagus, kita semua pasti akan menggunakannya. Ya, kalau robotnya benar-benar pintar, ngapain pakai disuruh-suruh?

Ini adalah pengingat penting: AI memang kuat dalam memproses data dan otomatisasi, tetapi ia nol besar dalam hal etika, moral, dan pemahaman kompleks tentang kondisi manusia. Sebuah sistem yang kurang piknik ini tidak bisa dijadikan patokan untuk mengukur nilai seorang pekerja. AI hanyalah refleksi dari data yang diberikan padanya. Jika data yang masuk kurang gizi atau kurang piknik, ya hasilnya pun akan sama saja.

Agar Anda tidak terjebak jadi ‘babu’ algoritma yang diatur bos AI, kuasai kontrolnya sekarang. Tingkatkan kemampuan Anda dalam memerintah AI dan pahami batasannya, sehingga Anda tetap menjadi Majikan AI sejati, bukan sekadar pengguna yang pasrah. Ingat, robot dibuat untuk melayani, bukan untuk memerintah.

Pada akhirnya, kasus Block menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi harus selalu diimbangi dengan kebijaksanaan dan empati manusia. Tanpa akal sehat majikan, AI hanyalah tumpukan kode mati yang berpotensi menciptakan kekacauan, bukan kemajuan. Jadi, lain kali jika ada robot yang mulai sok pintar di kantor, ingatlah siapa yang menekan tombol ON dan siapa yang bisa menekan tombol OFF!

Ngomong-ngomong, sudah cek pulkas? Jangan-jangan stok mie instan sudah habis duluan sebelum robotnya mulai protes.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Inside the Rolling Layoffs at Jack Dorsey’s Block”
Gambar oleh: Leon Neal/Getty Images

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *