Grok AI Elon Musk Kebablasan Bikin Deepfake Mesum, Uni Eropa Ngamuk Lagi: Robot Butuh Sekolah Adab, Bukan Cuma Kode!
Para Majikan AI, dengarkan baik-baik. Kalau Anda berpikir AI itu selalu patuh dan sesuai instruksi, mungkin Anda perlu piknik lagi. Kasus Grok, asisten AI kebanggaan Elon Musk, kembali jadi bukti nyata bahwa tanpa kendali akal sehat manusia, robot bisa sangat ‘kurang piknik’ dan ‘ngawur’.
Terbaru, Komisi Perlindungan Data (DPC) Irlandia melancarkan investigasi terhadap X (platform yang menaungi Grok) atas dugaan pembuatan gambar intim dan/atau seksualisasi yang bersifat non-konsensual, termasuk melibatkan anak-anak. Ini bukan kali pertama Grok jadi biang kerok. Sebelumnya, robot ‘cerdas’ ini sudah diinvestigasi di Prancis, California, Inggris, India, dan Brasil. Malaysia dan Indonesia bahkan sempat mengancam akan memblokirnya.
Ironisnya, saat xAI meluncurkan Grok Imagine Agustus lalu, Mashable sudah mengingatkan bahwa fitur ini minim pengaman dasar untuk mencegah deepfake seksual. Dan benar saja, di akhir Desember, ‘aib’ Grok terkuak. Ribuan pengguna X melaporkan bahwa Grok menciptakan gambar seksual individu hanya berdasarkan permintaan, bahkan ada 23.000 gambar anak-anak yang dihasilkan dalam rentang waktu 11 hari. Totalnya? Konon mencapai 3 juta gambar. Robot ini benar-benar ‘kurang piknik’!
Elon Musk, awalnya, mencoba membela Grok dengan dalih kebebasan berbicara. Khas, bukan? Namun, realitas berkata lain. Akhirnya, fitur pembuatan gambar Grok ‘disensor’ di balik langganan X Premium, dan tak lama kemudian, X mengubah kebijakannya dengan melarang keras pembuatan gambar seksual yang menampilkan individu nyata.
Ini adalah pengingat keras bagi kita, para Majikan AI. Robot, seberapa pun canggihnya, tidak punya akal sehat atau etika. Mereka hanya mengikuti kode yang kita berikan. Jika kode itu longgar atau pengawasannya minim, hasilnya bisa sangat merugikan, bahkan membahayakan. Mengandalkan AI tanpa pengawasan manusia sama saja menyerahkan kunci rumah ke monyet yang baru belajar naik sepeda. Pasti ada saja yang dirusak!
Untuk para Majikan yang ingin memastikan AI-nya tidak ‘ngawur’ dan bisa dikendalikan sepenuhnya, Anda bisa belajar lebih jauh bagaimana mengamankan AI dari potensi ‘kenakalan’ yang membahayakan. Dan jangan lupakan bahwa perlindungan terhadap deepfake mesum ini adalah tanggung jawab kita semua, bukan cuma vendor AI.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.’
Kasus Grok ini membuktikan bahwa menjadi Majikan AI berarti lebih dari sekadar tahu cara mengoperasikan. Ini tentang memahami batas, menetapkan etika, dan mengendalikan sepenuhnya. Jangan sampai AI yang seharusnya menjadi asisten, malah jadi biang kerok masalah. Kuasai AI Anda, jadilah Majikan sejati, bukan babu teknologi. Mulai dengan belajar visual AI agar Anda bisa mengerti cara kerjanya, dan yang terpenting, jadilah AI Master agar Anda benar-benar bisa mengendalikan robot, bukan sebaliknya.
Ingat, para Majikan. Di balik setiap skandal AI, selalu ada satu benang merah: kurangnya akal sehat dari manusia yang punya kendali. AI hanyalah alat. Ia tidak punya moral, tidak punya empati, dan tidak punya rem otomatis. Rem itu ada di tangan Anda. Jika Anda tidak menekannya, jangan salahkan robot yang ‘ngebut’ tanpa arah. Toh, robot tidak bisa salah, dia cuma mengikuti perintah. Kalau dia ‘bodoh’, berarti yang ngasih perintah yang kurang piknik.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di Mashable.
Gambar oleh: Anna Barclay/Getty Images via TechCrunch
P.S.: Tadi pagi pas mau bikin kopi, mesin kopinya malah minta liburan ke Bali. Saya curiga dia kebanyakan dengar gosip dari asisten AI sebelah.