Etika MesinMasa DepanRobot KonyolSidang Bot

Sekolah AI: Solusi Malas Mikir ala Pemerintah, Akankah Melahirkan Generasi Robot Tanpa Akal Sehat?

Bayangkan, anak Anda hanya perlu 2 jam sehari untuk belajar membaca, sains, dan matematika. Sisanya? Bebas. Konon, masa depan pendidikan ada di tangan Alpha School, sekolah swasta berbasis AI yang digadang-gadang pemerintah federal. Sekilas terdengar menjanjikan, kan? Waktu belajar singkat, kurikulum personalisasi, dan biaya yang… yah, lumayan bikin dompet teriak. Tapi, para majikan cerdas tentu tahu, ada udang di balik bakwan renyah AI. Bagaimana kita bisa memastikan anak-anak kita, sang majikan sejati, tidak berakhir menjadi babu algoritma yang cuma tahu menekan tombol?

Alpha School, yang didirikan oleh podcaster edukasi MacKenzie Price dan miliarder teknologi Joe Liemandt pada tahun 2014, adalah manifestasi terbaru dari obsesi menggantikan sentuhan manusia dengan algoritma. Di sekolah ini, AI adalah guru tunggal, penilai, bahkan administrator. Manusia? Hanya sebagai “pemandu” yang tidak punya wewenang atas nilai atau kurikulum. Mereka cuma pelengkap, seperti hiasan di ruang tamu.

Sekretaris Pendidikan Linda McMahon memuji Alpha School sebagai “contoh teladan” potensi teknologi dalam pendidikan Amerika. Klaimnya, anak-anak bisa “menghancurkan akademis dalam 2 jam” dan “membuka potensi tanpa batas” jika tidak terjebak di kelas tradisional. Namun, mari kita pakai akal sehat kita, para majikan. Apakah benar-benar semudah itu?

Laporan investigasi CNN dan New York Times mengungkapkan fakta yang bikin geleng-geleng kepala. Banyak orang tua menarik anak mereka dari program ini karena instruktur AI menetapkan tujuan yang terlalu tinggi, memaksa siswa bekerja melampaui batas tanpa dukungan dan fleksibilitas yang bisa diberikan guru manusia. Profesor Hamsa Bastani dari Wharton School, seorang peneliti AI, khawatir akan “pemisahan total koneksi manusia dari instruksi.” Randi Weingarten, Presiden Federasi Guru Amerika, bahkan menegaskan bahwa “sekolah yang murni AI melanggar prinsip inti dari upaya dan pendidikan manusia.”

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Studi Bastani tahun 2024 menunjukkan bahwa AI memang bisa membantu siswa yang sangat termotivasi, tetapi “sedikit berdampak pada nilai tes yang sebenarnya.” Bayangkan, robot yang katanya cerdas ini masih belum bisa membuktikan diri di medan perang ujian. Lalu, bagaimana dengan evaluasinya? Alpha School tidak memiliki evaluasi terbuka, baik internal maupun independen, yang menurut Bastani “menjadi dasar bagi desain AI yang buruk secara luas.” Jadi, mereka menjual janji masa depan tanpa mau diperiksa rekam jejaknya. Konyol, bukan? Ini seperti membeli kucing dalam karung, hanya saja karungnya dilapisi janji manis algoritma.

Pemerintah AS dan sekutu Big Tech memang melihat AI sebagai solusi sistem pendidikan yang kewalahan. Tapi, kita masih bergulat dengan dampak waktu layar dan alat Generative AI pada pelajar muda. Ilmu pengetahuannya? Belum sampai sana, majikan. Robot ini masih perlu banyak sekolah lagi sebelum kita menyerahkan masa depan anak-anak kita sepenuhnya padanya. Mereka masih perlu banyak diajari, layaknya kita mengajari asisten rumah tangga yang rajin tapi kadang lupa di mana letak garam. Seperti yang sudah India ajarkan Google, bahwa robot pun harus nurut ke guru.

Untuk Anda para majikan yang ingin tetap memegang kendali atas teknologi dan tidak ingin anak-anak Anda terbawa arus pendidikan serba robot, kami merekomendasikan AI Master (https://lynk.id/majikanai/5v1gRY3). Kuasai AI, jangan sampai dikuasai. Pelajari cara mengendalikan AI agar ia menjadi alat yang patuh, bukan majikan yang sok pintar.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Sehebat-hebatnya Alpha School, secanggih-canggihnya algoritma, mereka tetap membutuhkan akal manusia sebagai pemegang kendali. Tanpa jari manusia yang menekan tombol, listrik yang menyala, dan pemikiran kritis yang mengarahkan, AI hanyalah tumpukan kode mati yang haus daya. Ingat, kaulah majikan yang punya akal, bukan robot yang katanya bisa bikin anak jenius dalam dua jam.

Ngomong-ngomong soal pendidikan, kemarin saya coba ajari AI cara masak nasi goreng, dia malah menyuruh saya mencari “algoritma resep” di GitHub. Robot memang kurang piknik!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Rick Kern / Getty Images for Alpha School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *