Apple Kini Beraksi! Kacamata, Kalung, dan AirPods Berotak AI: Siap Jadi Mata-Mata Pribadi atau Cuma Aksesoris Mahal?
Apple sedang gencar-gencarnya mencoba membuat kita semua terlihat seperti detektif gadget dari film fiksi ilmiah. Bayangkan, kacamata pintar, kalung AI, dan AirPods berkamera! Konon, semua ini dirancang untuk membuat Siri lebih “peka” dengan lingkungan kita. Tapi ingat, AI hanyalah alat bantu. Kita, para majikan berakal, yang harus menentukan apakah gadget-gadget ini akan benar-benar memudahkan hidup atau hanya membuat kita terlihat seperti sedang berbicara dengan dinding.
Berdasarkan laporan dari Bloomberg melalui Mark Gurman, Apple berencana meluncurkan kacamata pintar pada tahun 2027. Jangan berharap ada layar canggih di dalamnya, karena ini lebih fokus pada interaksi suara dan kemampuan “melihat” lingkungan sekitar. Kacamata ini dibekali speaker, mikrofon, dan kamera beresolusi tinggi untuk foto dan video, plus lensa khusus fitur AI. Fungsinya? Mulai dari menelepon, berinteraksi dengan Siri (yang konon sudah disuntik kecerdasan Google Gemini), hingga membantu mengidentifikasi bahan makanan atau memberi petunjuk arah berdasarkan landmark yang terlihat. Ini seperti punya asisten pribadi yang rajin, tapi kadang masih perlu kamu “sentil” kalau lagi kurang piknik.
Tentu saja, Meta sudah duluan main di ranah ini dengan Ray-Ban Meta Smart Glasses. Apple memilih untuk mengembangkan frame-nya sendiri, berharap kualitas dan teknologi kamera mereka bisa lebih unggul. Tapi, satu hal yang pasti, kemampuan “melihat” ini tidak akan sepenuhnya menggantikan akal sehat kita. AI memang bisa mengenali objek atau memberi informasi, tetapi interpretasi dan pemahaman konteks yang lebih dalam, apalagi etika dalam merekam, tetap jadi wilayah kekuasaan majikan manusia. AI cuma merekam apa yang dia lihat, kita yang memberi makna.
Tidak cuma kacamata, Apple juga dikabarkan sedang menyiapkan kalung AI seukuran AirTag yang bisa berfungsi sebagai kamera dan mikrofon always-on untuk Siri. Katanya sih, ini bakal mengandalkan kekuatan pemrosesan iPhone. Lalu ada juga AirPods yang akan dilengkapi kamera resolusi rendah untuk menganalisis lingkungan sekitar. Semua perangkat ini bertujuan untuk memberi “mata” tambahan pada Siri, sehingga asisten virtual kita bisa lebih responsif terhadap konteks visual.
Mungkin saja ini adalah langkah awal Apple untuk benar-benar mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Tapi, mari kita jujur. Seberapa sering kita benar-benar butuh AI untuk “melihat” dan menganalisis semua yang ada di sekitar kita? Apakah kita ingin Siri tahu setiap detail makanan yang kita makan atau setiap sudut jalan yang kita lewati? Privasi adalah harga yang mahal, dan terkadang robot ini, meskipun cerdas, masih butuh batasan yang jelas dari Majikan yang punya akal.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Bagi Anda yang ingin menguasai AI visual agar tidak kalah canggih dari robot, kami merekomendasikan untuk mengikuti program Belajar AI | Visual AI. Atau jika Anda ingin tetap menjadi majikan yang mengendalikan teknologi, bukan menjadi babu, program AI Master adalah pilihan tepat. Jangan biarkan AI lebih pintar dari Anda dalam memahami dunia, terutama dunia visual.
Pada akhirnya, semua gadget AI canggih dari Apple ini, betapapun pintarnya, tetap hanyalah tumpukan sirkuit dan kode program. Mereka butuh kita, manusia, untuk memberi perintah, menetapkan batasan, dan, yang terpenting, memutuskan apakah kita benar-benar memerlukannya. Tanpa akal sehat seorang majikan, robot-robot ini hanya akan menjadi mainan mahal yang kurang piknik, atau bahkan mata-mata yang terlalu kepo. Ingat, tombol “on” dan “off” itu di tangan Anda, bukan di algoritma mereka.
P.S. Jangan lupa, walau AI bisa mengenali makanan, dia tidak akan tahu porsi yang pas untuk diet Anda. Jadi, tetaplah mengendalikan garpu Anda sendiri.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Amelia Holowaty Krales via TechCrunch