Ekonomi AISidang BotStrategi Startup

IPO Pertama Perusahaan AI India “Lemes”: Bukti Investor Masih Punya Akal, Nggak Cuma Ikut Hype Robot!

Kabar datang dari India, sang macan Asia yang katanya mau jadi pusat AI dunia. Ada perusahaan bernama Fractal Analytics, konon ini perusahaan AI pertama dari India yang berani ‘naik pelaminan’ di pasar saham. Tapi ya, namanya juga perdana, debutnya malah loyo. Sahamnya dibuka di bawah harga penawaran dan terus meluncur di sesi sore. Jelas ini jadi tamparan manis buat para ‘bucin’ AI yang cuma tahu hype, tanpa memahami akal di balik pasar.

Sebagai majikan yang punya akal, kita harusnya melihat ini sebagai pelajaran berharga. Bahwa di balik kilauan janji manis algoritma, ada realita pasar yang kejam. Kalau robot saja masih perlu kita setel ulang strateginya, apalagi janji-janji manis investasi yang cuma modal kata-kata pintar.

Ketika Hype AI Bertemu Akal Sehat Investor: Kasus Fractal Analytics

Fractal Analytics, sang pionir AI India, melantai di bursa dengan harga ₹876 per saham, padahal harga penawarannya ₹900. Setelah itu, sahamnya merosot lagi dan ditutup ₹873.70, anjlok 7% dari harga awal. Valuasi pasarnya kini sekitar US$1,6 miliar, jauh di bawah puncaknya US$2,4 miliar pada Juli 2025 lalu. Ingat, Januari 2022 mereka sudah sempat jadi unicorn AI pertama India dengan suntikan US$360 juta dari TPG.

Apa yang terjadi? Ini bukan cuma soal performa perusahaan semata, tapi juga sinyal keras dari investor yang mulai ogah-ogahan dimabuk janji-janji AI. Mereka sadar, ada risiko sell-off di saham-saham software India yang bikin pasar jadi deg-degan. India memang sedang gencar mempromosikan diri sebagai hub AI, bahkan mengundang para bos besar dari OpenAI dan Anthropic untuk ngobrol di acara AI Impact Summit di New Delhi. Tapi kelihatannya, investor tidak semudah itu dibujuk rayu.

Sarkasme kita jelas, robot-robot ini pintar menghitung, tapi tidak bisa membaca sentimen pasar. Mereka bisa memproses triliunan data, tapi tetap butuh manusia untuk menekan tombol ‘jual’ atau ‘beli’. Jadi, jangan harap AI bisa menggantikan akal sehatmu dalam berinvestasi. Untuk itu, majikan perlu terus mengasah AI Master agar bisa mengendalikan AI, bukan dikendalikan. Bahkan IPO Fractal ini sempat dipangkas lebih dari 40% dari rencana awal. Ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan AI pun masih harus realistis dalam menghadapi pasar yang tidak bisa di-halusinasii begitu saja.

Fractal sendiri, yang didirikan pada tahun 2000, awalnya adalah firma analitik data tradisional. Baru pada tahun 2022, mereka pindah haluan ke AI dan data analitik, melayani perusahaan besar di sektor keuangan, ritel, dan kesehatan. Pendapatan mereka memang tumbuh 26% menjadi sekitar US$304,8 juta di tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, dan laba bersih mereka mencapai US$24,3 juta dari yang sebelumnya rugi. Angka-angka ini lumayan, tapi tetap tidak cukup untuk menenangkan kegelisahan investor di hari pertama.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Ekonomi AI.

Penggunaan dana IPO ini rencananya untuk melunasi utang anak perusahaan di AS, investasi R&D, penjualan dan pemasaran di unit Fractal Alpha, memperluas infrastruktur kantor di India, dan mengakuisisi perusahaan potensial. Ini semua rencana yang masuk akal, tapi tetap saja, eksekusi selalu membutuhkan akal manusia. Apalagi jika kamu tidak ingin menjadi penonton di tengah tsunami AI yang sesungguhnya.

Coba deh pikir, seberapa sering sih robot rumah tangga kita bener-bener ‘cerdas’ tanpa kita harus kasih perintah berkali-kali? Sama seperti itu, pasar finansial jauh lebih kompleks dari sekadar algoritma pintar. Tanpa akal sehat, riset mendalam, dan insting tajam seorang majikan, kita hanya akan jadi babu yang terbirit-birit mengikuti jejak si robot yang baru belajar jalan. Jadi, ingat, AI hanyalah alat. Kaulah majikan yang punya akal.

Coba deh suruh robot buat milihin semangka yang manis. Dijamin, kamu pulangnya cuma bawa semangka hambar atau busuk. Akal sehat manusia itu memang tiada duanya.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.

Gambar oleh: Jagmeet Singh via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *