Disuntik Dana Rp16 Triliun, Robotaxi Motional Ganti Otak AI Biar Tak Jadi Rongsokan di 2026
Perusahaan Robotaxi Motional baru saja mengumumkan akan memulai ulang program mobil tanpa sopirnya, setelah nyaris gulung tikar. Tidak main-main, Hyundai sebagai induk perusahaan menyuntikkan dana segar hampir satu miliar dolar atau sekitar Rp16 triliun agar proyek ini tetap bernapas. Target barunya: layanan komersial tanpa sopir di Las Vegas pada akhir 2026.
Bagi kita, para Majikan, ini adalah pelajaran berharga. Ini bukti bahwa bahkan proyek AI super canggih dengan dana triliunan pun bisa salah jalan. Ini seperti punya asisten rumah tangga yang sudah diajari ribuan aturan tapi tetap bingung saat menghadapi situasi baru. Ujung-ujungnya, sang majikan (Hyundai) harus turun tangan, merombak total cara kerjanya, dan memberinya otak baru yang lebih fleksibel.
Nyaris Jadi Rongsokan Bernilai Triliunan
Sebelum keputusan besar ini, Motional berada di ujung tanduk. Mereka sudah melewatkan tenggat waktu peluncuran layanan dengan Lyft. Salah satu investor utamanya, Aptiv, angkat kaki. Akibatnya, perusahaan melakukan PHK besar-besaran yang memangkas 40% karyawannya, menyisakan kerangka tim inti.
Masalahnya ada di “otak” AI mereka. Motional awalnya menggunakan pendekatan robotika klasik: serangkaian program berbasis aturan yang kaku dan model machine learning yang terpisah-pisah untuk setiap tugas—satu untuk mendeteksi pejalan kaki, satu untuk lampu lalu lintas, dan seterusnya. Sistem ini memang aman, tapi sangat tidak efisien dan sulit beradaptasi dengan kota atau situasi baru. Ibaratnya, asisten Anda hanya bisa memasak nasi goreng dengan resep A, jika disuruh improvisasi pakai bumbu B, dia langsung nge-freeze.
Operasi Ganti Otak ke Model AI Fondasi
Strategi penyelamatannya adalah “operasi ganti otak”. Motional beralih ke pendekatan AI-first yang menggunakan model fondasi (foundation model), mirip dengan teknologi di balik ChatGPT. Alih-alih ribuan aturan kaku, sistem barunya menggunakan satu arsitektur terintegrasi yang bisa belajar dan beradaptasi secara menyeluruh.
Tujuannya? Agar si robotaxi bisa “bernalar” dan menggeneralisasi pengalaman. Jika dia belajar cara menghindari turis mabuk di Las Vegas, ilmunya bisa lebih mudah diterapkan untuk menghadapi pengendara motor sembrono di Jakarta, tanpa perlu di-program ulang dari nol. Lebih efisien, lebih murah, dan lebih bisa diandalkan—setidaknya di atas kertas.
Namun, AI tetaplah AI. Dalam demo terbarunya, mobil otonom Motional terbukti jauh lebih mulus, bahkan bisa menavigasi area drop-off hotel yang semrawut. Tapi ada satu momen kelemahannya: saat berhadapan dengan mobil van Amazon yang parkir sembarangan, ia butuh waktu sangat lama untuk “berpikir” sebelum akhirnya bergerak pelan. Seorang sopir manusia mungkin sudah membunyikan klakson, memberi isyarat tangan, atau bermanuver cepat. Di sinilah akal seorang Majikan masih tak tergantikan. AI punya data, tapi manusia punya inisiatif dan—terkadang—sedikit kenekatan yang diperlukan.
Melihat Motional berjibaku dengan sistem AI-nya, kita jadi sadar bahwa mengendalikan mesin cerdas ini butuh pemahaman mendalam. Bukan sekadar menyuruh, tapi merancang strateginya. Inilah esensi menjadi majikan sejati, bukan sekadar pengguna pasif. Jika Anda ingin memegang kendali penuh atas teknologi AI alih-alih hanya menjadi penonton, menguasai fundamentalnya adalah kuncinya. Pelajari cara memerintah AI dengan benar lewat kelas AI Master agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.
> Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.
Tanpa Perintah, AI Hanyalah Besi Tua
Kisah Motional adalah pengingat keras. Di balik gemerlap robotaxi dan janji masa depan, ada perjuangan teknis, keputusan bisnis brutal, dan suntikan dana yang membakar uang lebih cepat dari mesin jet. Mereka bertaruh besar pada otak AI baru ini. Jika berhasil, mereka akan menjadi pemain utama. Jika gagal, Hyundai baru saja membuang Rp16 triliun untuk proyek garasi yang sangat mahal.
Pada akhirnya, secanggih apa pun model AI yang mereka tanamkan, mobil itu tetaplah tumpukan kode dan sensor mati. Ia tidak akan bergerak satu sentimeter pun tanpa ada manusia yang menekan tombol “Mulai”, menganalisis data kegagalannya, dan memutuskan strategi selanjutnya. Sebab AI hanyalah alat, kaulah Majikan yang punya akal.
Ngomong-ngomong, kok harga bawang merah naik lagi, ya?
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.