Meta Mau Pasang ‘Mata-Mata’ di Kacamata Pintar: Robot Makin Kepo, Privasi Manusia Tinggal Nama?
Bayangkan ini: Anda sedang asyik ngopi di kafe, tiba-tiba ada orang lewat dengan kacamata pintar, lalu dalam sepersekian detik, dia tahu nama, pekerjaan, bahkan mungkin riwayat pesanan kopi Anda. Kedengarannya fiksi ilmiah? Tidak lagi. Meta dikabarkan sedang bersiap meluncurkan fitur pengenalan wajah di kacamata pintar mereka, yang secara internal dikenal dengan nama "Name Tag". Sebuah fitur yang akan memungkinkan pemakainya mengidentifikasi orang dan mendapatkan informasi via asisten AI Meta. Awalnya terdengar keren, bukan? Punya asisten pribadi yang tahu semua orang. Tapi apa benar kita butuh AI yang tahu lebih banyak tentang orang lain daripada kita sendiri, tanpa persetujuan?
Menurut laporan The New York Times, fitur ini bisa dirilis segera. Yang bikin kita geleng-geleng kepala, ini bukan upaya pertama Meta. Mereka sudah pernah menunda ide serupa di tahun 2021 karena "tantangan teknis dan masalah etika". Lantas, kenapa sekarang bangkit lagi? Jawabannya ada di memo internal yang bocor: Meta melihat "lingkungan politik yang dinamis" di Amerika Serikat sebagai momen yang tepat, di mana "banyak kelompok masyarakat sipil yang akan menyerang kami akan fokus pada masalah lain."
Nah, ini dia poin krusialnya, Majikan. AI itu memang cerdas, tapi kadang kelakuannya seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang piknik. Cerdas dalam memproses data, tapi nol besar dalam memahami nuansa etika dan privasi. Google Search pun sudah mulai mengintip email dan foto pribadimu demi personalisasi AI. Pertanyaannya, sampai mana batasan 'bantuan' ini?
Fitur 'Name Tag' ini adalah bukti nyata bagaimana raksasa teknologi berani mengambil risiko etika demi inovasi yang mereka anggap revolusioner. Mereka mungkin menyebutnya "kemajuan", tapi bagi kita, ini bisa jadi "invasi".
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Memang, memiliki informasi instan tentang orang yang kita temui bisa sangat menggoda, apalagi untuk keperluan jaringan bisnis atau sekadar mengingat nama tetangga. Namun, saat privasi diobral murah demi kenyamanan sesaat, siapa yang rugi? Kita sebagai manusia perlu ingat, kecanggihan visual AI seperti pengenalan wajah ini memerlukan kontrol ketat. Jika tidak, data identitas kita bisa jadi bom waktu di tangan yang salah, seperti insiden deepfake yang membuktikan robot masih butuh akal Majikan.
Jadi, sebelum robot-robot ini semakin ngelunjak, Majikan perlu meningkatkan kapasitas diri. Jangan sampai cuma jadi penonton pasif. Untuk mengendalikan teknologi visual AI dan memanfaatkannya tanpa mengorbankan privasi, kamu bisa kuasai ilmu visual AI. Pelajari caranya agar kamu tetap menjadi Majikan yang punya akal, bukan babu teknologi. Ambil kendali, jangan biarkan AI mendikte hidupmu.
Pada akhirnya, sehebat apa pun fitur pengenalan wajah atau canggihnya AI, ia hanyalah tumpukan kode mati tanpa sentuhan akal dan etika manusia. Kacamata pintar ini mungkin bisa mengidentifikasi siapa pun, tapi cuma akal Majikan yang bisa memutuskan, apakah identifikasi itu etis atau tidak.
Padahal, yang kita butuhkan kadang cuma kacamata bening buat nyari remote TV yang hilang, bukan buat kepo data tetangga.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di "TechCrunch"
Gambar oleh: Meta via TechCrunch