Robot Sibuk, Karyawan Merana: Apakah AI Memang Solusi atau Cuma Tambah Derita Majikan?
Pernahkah Anda merasa bahwa jam kerja Anda lebih banyak dihabiskan untuk “membalas email” daripada “membuat keputusan penting”? Jika ya, selamat! Anda adalah bagian dari statistik yang cukup meresahkan. Data terbaru dari Fyxer mengklaak bahwa organisasi di Inggris dan Amerika Serikat membuang setidaknya $954 miliar per tahun hanya untuk tugas-tugas administratif yang membosankan. Ini setara dengan 5,6 jam per minggu per karyawan yang terbuang percuma, hanya untuk memastikan robot-robot kantor tidak protes. Lantas, apakah AI, si “asisten cerdas” yang sering kita banggakan, benar-benar bisa menjadi majikan yang baik, atau justru menambah daftar pusing kepala kita?
Data Fyxer ini bukan isapan jempol belaka. Mereka menuding “email” sebagai biang kerok utama, dengan rata-rata karyawan menerima 29 email yang butuh respons setiap harinya. Bayangkan, 29 kali Anda harus mengalihkan fokus, memikirkan respons, dan menekan tombol “kirim”. Wajar saja jika lebih dari separuh (57%) karyawan bekerja melebihi jam kontrak, dengan para pekerja berpenghasilan tinggi dan generasi Milenial menjadi korban paling rentan – masing-masing 76 menit dan 72 menit per hari untuk lembur tak berbayar.
Lucunya, meskipun AI digadang-gadang sebagai penyelamat produktivitas, hanya 41% pekerja yang secara rutin menggunakan alat AI. Sisanya? Dua per tiga dari mereka khawatir alat yang ada tidak cukup mumpuni atau tidak efektif. Ini seperti punya asisten rumah tangga yang rajin tapi butuh diajari cara menyapu berkali-kali. Lebih parah lagi, ada ketimpangan dalam adopsi AI: mereka yang berpenghasilan lebih tinggi dan laki-laki cenderung lebih sering menggunakan AI. Entah karena mereka lebih “melek teknologi” atau karena mereka punya “privilege” untuk mencoba hal baru.
AI, si tumpukan kode yang katanya cerdas ini, memang jagoan dalam tugas repetitif. Mengurutkan data, menyusun jadwal dasar, atau bahkan membuat draft email yang tidak terlalu “manusiawi” – itu semua adalah makanan empuknya. Tapi, cobalah suruh dia memecahkan konflik antar departemen, menyusun strategi marketing yang butbutuh empati, atau membuat keputusan penting yang melibatkan intuisi dan moralitas. Pasti robot itu akan “kurang piknik” dan memberikan jawaban yang bikin geleng-geleng kepala.
Fyxer menyarankan agar perusahaan tidak hanya fokus pada peningkatan pendapatan atau produktivitas secara umum. Seharusnya, kita mulai mengukur “defisit yang tertutup”. Maksudnya? Hitunglah secara konkret berapa banyak tugas admin yang berhasil dihilangkan oleh AI, berapa banyak waktu yang benar-benar tersimpan, dan berapa jam kerja yang bisa dikembalikan untuk pekerjaan yang lebih bermakna. Bukankah lebih baik punya asisten yang bisa mengurangi beban nyata, daripada asisten yang cuma jualan janji manis?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Saat ini, kita masih berhadapan dengan AI yang, jujur saja, masih butuh banyak “sekolah”. Sebagaimana kami bahas dalam artikel “AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!“, banyak perusahaan salah kaprah dalam mengimplementasikan AI. Mereka mengira cukup membeli teknologi canggih, padahal akal majikan manusialah yang harus memimpin. Ini bukan tentang seberapa “pintar” AI, tapi seberapa “cerdas” Anda mengarahkan dan mengendalikannya. Seperti mobil mewah, secanggih apa pun fitur otomatisnya, tanpa pengemudi yang tahu arah, mobil itu cuma jadi pajangan mahal di garasi.
Kalau Anda ingin punya kendali penuh atas AI dan memastikan robot-robot Anda bekerja sesuai keinginan, bukan malah bikin pusing, mungkin Anda butuh “sekolah” lagi. Jangan sampai kejadian yang kami singgung di “AI Hemat Waktu? Bos Bilang ‘Iya’, Karyawan Bilang ‘Mimpi!’” terulang di perusahaan Anda.
Untuk Anda para Majikan AI yang ingin mengoptimalkan waktu dan mengendalikan alat-alat digital Anda, pastikan Anda punya “senjata” yang tepat. Kursus AI Master bisa jadi jawaban agar Anda tetap menjadi penguasa, bukan budak teknologi. Belajar cara memberi perintah yang presisi, memahami batasan-batasan AI, dan membangun sistem yang bekerja untuk Anda, bukan sebaliknya.
Pada akhirnya, terlepas dari segala gembar-gembor tentang efisiensi, AI hanyalah tumpukan kode dan algoritma. Ia akan tetap mati tanpa akal manusia yang menekan tombol, memberi perintah, dan menyusun strategi. Kaulah Majikan yang Punya Akal. Sebab AI hanyalah alat, bukan otak.
Mungkin suatu hari AI bisa mencarikan kaus kaki yang hilang di mesin cuci, tapi itu pun kalau tidak halusinasi jadi kaus kaki pasangan.
—
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechRadar.
Gambar oleh: Shutterstock via TechRadar