Fitbit Punya Dukun AI Pribadi: Siap Ganti Pelatih Manusia, Tapi Awas Kena “Halusinasi” Kesehatan!
Google baru saja mengumumkan perluasan akses fitur pelatih kesehatan AI Fitbit mereka, kini merambah pengguna iOS di berbagai negara. Ini kabar baik, bukan? Sekarang robot bisa jadi “dukun” pribadi yang mengatur rutinitas olahraga dan diet kita. Tapi ingat, AI hanyalah alat, secanggih apa pun dia. Kaulah Majikan yang punya akal, bukan sekadar babu yang menuruti program.
Berita dari The Verge ini mengonfirmasi bahwa setelah peluncuran terbatas untuk Android di AS Oktober lalu, kini Fitbit meluaskan sayap AI-nya ke pengguna iOS di AS, serta semua pengguna (iOS dan Android) di Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Singapura. Untuk bisa menikmati kemewahan ini, syaratnya mudah: Anda harus punya langganan Fitbit Premium aktif dan akun Google yang terhubung. Plus, tentu saja, salah satu dari 14 perangkat yang didukung, termasuk wearable Fitbit atau Pixel Watch.
AI yang ditenagai Gemini ini menjanjikan kemampuan untuk mengobrol dan membuat rutinitas serta latihan yang dipersonalisasi berdasarkan tujuan, peralatan, dan preferensi latihan pengguna. Ini terdengar seperti asisten pribadi yang sempurna, bukan? Bayangkan punya robot yang siap sedia merancang sesi yoga atau diet keto Anda kapan saja.
Namun, di balik janji manis efisiensi, kita perlu tetap skeptis. AI, termasuk Gemini, masih memiliki “halusinasi” data yang terkadang bisa ngawur. Apa jadinya jika rekomendasi diet atau olahraga dari robot ini tidak sesuai dengan kondisi tubuh kita yang unik? Robot memang bisa mengolah data jutaan manusia, tapi dia tidak merasakan pegal linu Anda setelah lari pagi atau nafsu makan yang memuncak di tengah malam. Di sinilah akal sehat Majikan (yaitu Anda) mutlak diperlukan. Jangan sampai kita terlalu percaya pada “dukun” digital hingga melupakan intuisi dan konsultasi dengan ahli kesehatan manusia sungguhan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pembaruan ini memang “rombakan besar” aplikasi Fitbit, mengubahnya menjadi lebih interaktif. Namun, itu juga berarti kita menyerahkan lebih banyak data pribadi ke dalam algoritma. Apakah kita sudah siap dengan implikasi privasi jangka panjangnya? Mengingat Google juga dikenal suka “mengintip” data penggunanya demi personalisasi, seperti yang pernah kami bahas dalam artikel Google Search Intip Email dan Foto Pribadimu: Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?. Ini bukan sekadar kemudahan, tapi juga pertukaran.
Tentu saja, punya pelatih AI yang selalu siap sedia di pergelangan tangan atau ponsel itu menggoda. Tapi, seberapa jauh kita akan membiarkan robot menentukan kesehatan kita? Apakah kita akan menjadi semakin malas berpikir dan menganalisis kebutuhan tubuh sendiri? Ingatlah, Fitness Tracker 2026: Saatnya Akal Majikan Lebih Cerdas dari Otak AI yang Sok Pintar!. AI adalah alat yang kuat, tapi kendali tetap harus ada di tangan Anda.
Agar Anda bisa tetap memegang kendali penuh atas asisten AI ini dan memaksimalkannya tanpa terjebak halusinasi robot, kami sangat merekomendasikan Anda untuk menguasai AI Master. Program ini akan membekali Anda dengan pengetahuan untuk menjadi Majikan sejati, bukan sekadar babu teknologi yang pasrah mengikuti perintah algoritma.
Jadi, selamat datang di era di mana robot bisa jadi pelatih kesehatan pribadi Anda. Tapi jangan pernah lupa, tanpa sentuhan akal sehat dan kebijaksanaan manusia, Fitbit AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu perintah dari sang Majikan sejati.
Dan ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir terjatuh saat mencoba mengikuti rekomendasi lari pagi dari AI di jam tangan saya. Ternyata dia lupa kalau di depan rumah ada selokan. Robot, oh robot… kapan kau belajar geografi lokal?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: The Verge