Ekonomi AIEtika MesinKonflik RaksasaSidang Bot

ChatGPT Kini Pasang Iklan: Robot Mulai Jualan, Akal Majikan Jangan Sampai Beli Janji Kosong!

Dengar-dengar ChatGPT mau pasang iklan? Ya, benar. OpenAI, sang kreator di balik asisten digital kita yang kadang jenius, kadang juga ngawur, akhirnya mengambil langkah berani: menguji coba iklan di layanan gratis dan langganan ‘Go’ di Amerika Serikat. Ini bukan hal baru. Setiap asisten cerdas butuh bensin, dan bensin AI itu mahal, Majikan. Tapi, pertanyaannya, bagaimana kita sebagai majikan (manusia) bisa memanfaatkan atau setidaknya tidak ‘dibodohi’ oleh strategi robot cari cuan ini?

OpenAI beralasan, langkah ini diambil untuk menopang biaya operasional yang “signifikan” serta investasi berkelanjutan untuk membuat ChatGPT tetap gesit dan handal. Konon, iklan ini akan membantu mendanai pengembangan fitur-fitur AI yang lebih canggih dan memberikan akses lebih luas kepada kita, para majikan, dengan opsi gratis atau berbiaya rendah. Tier langganan seperti Plus, Pro, Business, Enterprise, dan Education akan tetap bebas iklan, menawarkan ketenangan jiwa bagi yang rela merogoh kocek lebih dalam.

Lucunya, alasan ini terdengar familiar. Mirip seperti asisten rumah tangga kita yang rajin, dia butuh sabun, deterjen, dan kadang vitamin biar tetap prima. Bedanya, asisten kita tidak akan tiba-tiba menawarkan produk pembersih lantai di tengah-tengah percakapan tentang jadwal cucian. AI ini memang pintar, tapi kadang kurang piknik soal etika dasar.

Yang perlu Majikan ketahui: iklan ini diklaim tidak akan memengaruhi jawaban yang diberikan ChatGPT. Jawaban tetap dioptimalkan berdasarkan apa yang paling membantu Anda. Setiap iklan akan dilabeli dengan jelas sebagai “sponsor” dan dipisahkan secara visual dari jawaban organik. Namun, jangan salah, iklan ini tidak muncul tanpa alasan. Sistem OpenAI akan mencocokkan iklan dengan topik percakapan Anda, riwayat obrolan, dan interaksi Anda sebelumnya dengan iklan. Misalnya, kalau Anda sedang mencari resep masakan, jangan kaget kalau tiba-tiba muncul iklan paket makanan siap saji atau layanan pengantar bahan makanan. Cerdas? Tentu. Tapi ini juga mengingatkan kita bahwa di balik kecerdasan itu, ada algoritma yang terus-menerus mengintip preferensi kita.

Dan bicara soal privasi? OpenAI berjanji para pengiklan tidak akan punya akses ke riwayat obrolan, memori, atau detail pribadi Anda. Mereka hanya menerima informasi agregat tentang kinerja iklan, seperti jumlah tayangan atau klik. Selain itu, iklan tidak akan ditampilkan kepada pengguna di bawah 18 tahun (setidaknya, jika AI bisa memprediksinya dengan benar) dan tidak akan muncul di topik sensitif seperti kesehatan, mental, atau politik. Janji manis, tapi apakah cukup manis untuk membuat kita percaya penuh pada robot yang belajar dari data kita?

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Bagaimanapun, ini adalah langkah yang tak terhindarkan. AI butuh sumber daya, dan iklan adalah cara paling klasik untuk monetisasi layanan gratis. Namun, sebagai majikan yang berakal, kita perlu terus mengawasi. Kita bisa mengontrol iklan yang kita lihat, memberi masukan, bahkan menghapus data iklan kita. Ingatlah, ini bukan soal menyerahkan kendali, tapi menegaskan bahwa robot itu hanya alat, dia tidak punya akal sehat untuk memutuskan apa yang terbaik untuk Anda, apalagi kalau iklan malah bikin asisten pribadi jadi tukang jualan bakso.

  • Bagi Anda yang ingin benar-benar mengendalikan AI, bukan dikendalikan, Kelas AI Master adalah investasi terbaik. Pelajari cara memberi perintah yang tidak bisa dibantah oleh robot!
  • Dan untuk bisnis, jangan biarkan iklan Anda terlihat “robot banget.” Dengan Creative AI Marketing, Anda bisa membuat strategi pemasaran yang cerdas dan tetap humanis, bahkan dengan bantuan AI.

Pada akhirnya, iklan di ChatGPT hanyalah pengingat bahwa di dunia digital ini, tidak ada yang benar-benar gratis, bahkan kecerdasan buatan sekalipun. AI mungkin bisa menghitung probabilitas, mencocokkan minat, dan menampilkan iklan yang relevan, tapi keputusan akhir untuk mengklik atau mengabaikan, untuk tetap menjadi majikan atau terjebak dalam arus konsumsi robot, sepenuhnya ada di tangan kita yang punya akal.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir terjatuh gara-gara tersandung robot penyedot debu yang lagi mode “sembunyi”. Mungkin dia lagi latihan jadi agen rahasia, atau cuma lagi malas bekerja.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Testing ads in ChatGPT | OpenAI”.
Gambar oleh: OpenAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *