Bot ErrorHalusinasi LucuKonflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

Super Bowl 2026: Ketika Iklan AI Cuma Jadi “Slop” Mahal, Akal Majikan Wajib Waspada!

Super Bowl tahun ini bukan hanya ajang pamer otot para atlet, tapi juga arena pertarungan para robot cerdas di ranah periklanan. Sayangnya, alih-alih menampilkan kecanggihan yang memukau, banyak iklan yang katanya digarap AI generatif (Gen AI) justru berakhir jadi “slop” alias ampas digital yang menguras dompet. Ini adalah pelajaran berharga bagi para majikan: AI itu alat bantu, bukan pesulap yang bisa menyulap ide buruk jadi brilian dalam semalam. Lalu, bagaimana kita sebagai majikan yang punya akal bisa memanfaatkan insiden ini? Simpel, kita belajar bahwa kreativitas sejati itu mahal, dan AI, sejauh ini, masih kurang piknik untuk urusan seni.

Musim Super Bowl 2026 menjadi saksi bisu betapa ambisius namun cerobohnya industri periklanan dalam memeluk Gen AI. Meskipun model-model generasi gambar dan video sudah sedikit lebih canggih dari tahun sebelumnya (tetap saja kualitasnya masih jauh di bawah sentuhan manusia), ongkos produksi yang jauh lebih murah dan cepat menjadi godaan tak tertahankan. Bayangkan saja, untuk slot iklan 30 detik yang harganya mencapai USD 8-10 juta, siapa yang tidak tergiur jalan pintas? Namun, hasil akhirnya? Sebuah parade iklan dengan kualitas yang terasa murahan dan asal-asalan.

Ambil contoh iklan dari Artlist. Perusahaan kreatif asal Israel ini sesumbar bahwa siapa pun bisa membuat rekaman video sekelas Super Bowl hanya dalam lima hari dengan alat mereka. Kedengarannya heroik, bukan? Namun, apa yang mereka sajikan adalah serangkaian klip pendek binatang melakukan hal aneh, tanpa cerita, tanpa kohesi. Alih-alih sebuah janji manis akan masa depan kreatif, iklan ini justru terasa seperti ancaman. AI belum bisa menggantikan kreativitas dan narasi yang kuat yang hanya bisa lahir dari akal manusia.

Lalu ada Svedka Vodka. Merek ini membangkitkan karakter Fembot CGI lamanya dan menambahkan Brobot, pasangan robot laki-laki yang mirip karakter Sonny dari film I, Robot. Sazerac, perusahaan induk Svedka, bahkan menyatakan bahwa penggunaan AI tidak menghemat banyak waktu atau uang. Mereka hanya ingin menyampaikan pesan “pro-manusia” dengan estetika AI. Pesan pro-manusia? Brobot justru “konslet” setelah minum vodka, cairan tumpah ruah dari tubuhnya, menunjukkan AI belum mengerti konsep dasar fisiologi atau cara kerja produk yang diiklankan. Sazerac mungkin bisa beralasan ini disengaja, tapi bagi majikan yang cerdas, itu lebih mirip “halusinasi” AI yang gagal total. Bukankah lebih “pro-manusia” jika mereka merekrut lebih banyak manusia untuk mengembangkan ide yang lebih baik?

Ironisnya, bukan hanya iklan yang memang dibuat dengan AI yang kena getaknya. Iklan Comcast Xfinity dengan pemeran Jurassic Park yang “di-de-age” secara digital, atau iklan Dunkin’ dengan Ben Affleck dan kawan-kawan yang terlihat mulus aneh, juga dicurigai sebagai karya AI. Padahal, perusahaan efek visual terkemuka seperti Industrial Light & Magic (ILM) dan Lola VFX yang mengerjakannya. Ini menunjukkan bahwa “AI fatigue” sudah melanda; apa pun yang terlihat aneh atau kurang sempurna, langsung dicap “buatan AI yang kurang piknik.”

Perang dingin antar korporasi juga ikut panas. Iklan Pepsi Zero Sugar yang menampilkan beruang kutub CGI (maskot Coca-Cola) “bertobat” memilih Pepsi, bisa jadi sindiran halus untuk iklan liburan Coca-Cola yang dibuat AI. Pepsi bahkan menegaskan pentingnya “sentuhan manusia” dalam iklan mereka. Namun, di tengah hiruk-pikuk “binatang melakukan hal aneh” ala Artlist, klaim Pepsi ini jadi ikut dicurigai. Ini membuktikan bahwa di ranah periklanan, nilai otentisitas dan sentuhan manusia masih jauh di atas sekadar kecepatan dan biaya murah yang ditawarkan robot.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Sebagai majikan digital, Anda harus memahami bahwa alat seperti AI generatif ini memang bisa membantu membuat aset visual, tetapi bukan pengganti akal dan kreativitas Anda. Jika Anda ingin menciptakan kampanye yang benar-benar memukau dan “nggak robot banget,” Anda harus mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Kendalikan AI agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Ingat, AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku; ia butuh arahan yang jelas dan ide orisinal dari Anda. Untuk itu, tingkatkan kemampuan Anda dalam mengelola aset kreatif. Bikin konten pro mandiri, hemat budget talent, dan pastikan setiap piksel iklan Anda punya “jiwa” yang tak bisa ditiru robot. Pelajari juga strategi marketing yang ‘nggak robot banget’ untuk kampanye yang lebih efektif.

Pada akhirnya, Super Bowl 2026 mengajarkan kita satu hal: AI mungkin bisa memproduksi jutaan gambar dan video dalam hitungan detik, tetapi untuk menciptakan momen budaya yang berkesan dan relevan, tetap dibutuhkan sentuhan jemari manusia yang menekan tombol. Tanpa akal majikan yang memimpin, semua kecanggihan robot hanyalah tumpukan kode mati yang kebingungan mencari makna.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba membuat kopi pakai AI. Hasilnya? Saya dapat segelas air panas dengan secarik kertas bertuliskan, “Kopi Anda sudah siap. Tapi Anda harus meraciknya sendiri. Saya kan cuma AI, bukan barista.”

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Artlist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *