New York Ancam Rem AI: Akal Manusia Diuji, Robot Kena Batunya!

Para majikan AI di New York sedang diuji kesabarannya. Bayangkan, ketika Anda sedang asyik “mempekerjakan” robot untuk membantu pekerjaan, tiba-tiba pemerintah daerah datang membawa undang-undang yang bikin robot-robot itu harus “sekolah etika” dan bahkan disuruh “puasa listrik”. Ini bukan cuma soal regulasi, ini tentang bagaimana kita, para majikan yang punya akal, harus sigap mengatur asisten digital kita agar tidak kebablasan dan malah menimbulkan masalah baru.

Pemerintah Negara Bagian New York, lewat parlemennya, sedang menggodok dua rancangan undang-undang yang cukup “kreatif” dalam menertibkan industri AI. Pertama, ada yang namanya NY FAIR News Act. Intinya, setiap konten berita yang “secara substansial disusun, ditulis, atau dibuat menggunakan kecerdasan buatan generatif” wajib hukumnya mencantumkan penafian. Lebih jauh lagi, konten tersebut harus ditinjau dan disetujui oleh manusia dengan “kontrol editorial” sebelum dipublikasikan. Nah, ini menarik! Seolah-olah AI itu asisten rumah tangga yang rajin tapi kadang suka ngarang bebas, jadi butuh pengawasan ketat dari majikan sejati. Selain itu, RUU ini juga mewajibkan organisasi untuk transparan kepada karyawan tentang penggunaan AI dan melindungi informasi rahasia, terutama soal narasumber, agar tidak diakses sembarangan oleh si robot.

Kedengarannya bagus, bukan? Tapi mari kita jujur? AI itu cerdasnya cuma karena data yang kita kasih. Dia tidak punya akal sehat, moral, atau etika seperti kita. Jadi, mengharapkan robot memahami nuansa jurnalistik, integritas sumber, atau potensi bias itu sama lucunya dengan menyuruh kucing membuat laporan keuangan. Itulah kenapa sentuhan akhir dari manusia, si majikan yang punya akal, itu mutlak. Tanpa manusia yang menekan tombol “publikasi” dengan pertimbangan matang, konten AI hanyalah deretan kata tanpa jiwa.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Masalah kedua, yang mungkin lebih bikin geleng-geleng kepala para raksasa teknologi, adalah RUU S9144. Isinya? Moratorium atau penundaan selama minimal tiga tahun untuk izin pembangunan pusat data baru. Alasannya sederhana: tarif listrik dan gas yang melonjak. Bayangkan, permintaan koneksi “beban besar” naik tiga kali lipat hanya dalam setahun, dengan proyeksi 10 gigawatt tambahan dalam lima tahun ke depan. Padahal, New York sudah punya lebih dari 130 pusat data! Negara bagian ini baru saja menyetujui kenaikan tarif 9 persen untuk pelanggan Con Edison. New York Rem ‘Data Center’ AI: Saat Robot Haus Daya, Akal Manusia Kena Batunya!, sebuah ironi di mana kemajuan AI justru membebani infrastruktur dasar yang kita butuhkan. Ini seperti punya asisten yang super canggih tapi dia butuh kamar khusus berpendingin raksasa yang menyedot listrik sekampung.

Fenomena ini menegaskan bahwa di balik kemegahan AI, ada realitas fisik yang harus dihadapi. Robot-robot cerdas ini haus daya, dan kelaparan mereka bisa membuat dompet kita menjerit. Jadi, bukan cuma soal pintar memerintah AI, tapi juga pintar mengelola dampaknya. Untuk Anda yang ingin tetap menjadi majikan sejati di tengah gelombang AI yang haus daya ini, menguasai cara mengendalikan teknologi adalah kuncinya. Jangan sampai terhanyut oleh gembar-gembor AI tanpa memahami seluk-beluknya, apalagi membiarkan asisten digital Anda menjadi penyebab tagihan listrik membengkak. Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi, dengan mengikuti program AI Master! Agar tidak cuma menyuruh, tapi juga mengerti apa yang terjadi di balik layar. Atau jika Anda ingin memastikan konten yang dihasilkan AI tetap berkualitas dan tidak “ngawur”, Creative AI Pro bisa jadi senjata andalanmu untuk bikin konten pro mandiri, hemat budget talent, dan tentu saja, tetap di bawah pengawasan akal majikan.

Singkatnya, New York sedang mencoba menarik rem pada kereta AI yang melaju kencang. Ini bukan karena mereka benci teknologi, tapi karena mereka sadar bahwa tanpa akal manusia yang memegang kendali, robot bisa jadi masalah alih-alih solusi. Regulasi ini adalah pengingat keras: AI hanyalah alat. Kaulah majikan yang punya akal. Jadi, gunakan akalmu untuk mengaturnya, bukan malah diperbudak oleh hype-nya.

Sebab kalau robot sudah bisa bayar tagihan listrik sendiri, kita sebagai majikan mau jadi apa? Tukang tepuk tangan?

Sumber Berita:

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Microsoft via TechCrunch