Ancaman Nvidia GB10: Robot Gantikan Pekerja Kantoran, Kamu Masih Betah Jadi Kuli Laporan?
Dunia kerja di era AI ini memang seperti punya asisten rumah tangga yang rajin tapi kadang bikin geleng-geleng kepala. Di satu sisi, ia cekatan membereskan tumpukan pekerjaan; di sisi lain, ia butuh panduan yang sangat detail, kalau tidak hasilnya bisa jadi lawakan. Nah, berita terbaru dari TechRadar ini membuktikan bahwa “asisten” bernama AI, khususnya dengan dukungan hardware Nvidia GB10, sudah cukup pintar untuk merebut pekerjaan. Pertanyaannya, sebagai majikan yang punya akal, bagaimana kita harus bereaksi? Apakah kita pasrah jadi “babu” teknologi, atau justru naik level menjadi “arsitek” yang merancang masa depan pekerjaan?
Sebuah ulasan mendalam dari Serve The Home (STH) menunjukkan sebuah skenario yang mungkin membuat sebagian dari kita mulai memeriksa kembali CV. Mereka berhasil menggantikan sebagian besar proses pelaporan manual yang memakan waktu menggunakan sistem AI lokal yang ditenagai oleh hardware Nvidia GB10. Bayangkan, pekerjaan yang biasanya melibatkan pengumpulan, pengorganisasian, dan pelaporan metrik dari berbagai platform digital yang seringkali datang dalam bentuk email “acak-acakan” kini bisa diotomatisasi.
Alih-alih merekrut karyawan tambahan untuk mengatasi volume data yang terus membengkak, STH merancang sebuah alur kerja pelaporan otomatis. Dengan integrasi siap pakai dari n8n, sistem ini dapat terhubung langsung ke sistem analitik tanpa perlu menulis kode rumit. Ibaratnya, AI ini sudah punya “kamus bahasa manusia” untuk memerintah sistem lain, asalkan perintah kita cukup jelas.
Namun, jangan buru-buru minder dulu. Uji coba awal menunjukkan bahwa model AI kecil masih sering “halusinasi” alias membuat kesalahan ketika permintaan menjadi lebih kompleks. Ini membuktikan bahwa sepintar-pintarnya robot, ia masih butuh “sekolah” dan bimbingan dari majikan manusia. Barulah setelah menggunakan model yang lebih besar, seperti gpt-oss-120b FP8, akurasi per langkah bisa mencapai di atas 99.9%. Artinya, kesalahan yang tadinya mingguan, kini hanya terjadi setahun sekali. AI memang butuh diet algoritma yang tepat agar tidak “kurang piknik”.
Studi ini menggunakan dua sistem Dell Pro Max dengan unit GB10, menjalankan AI secara lokal. Ini penting, karena semua data tetap berada di lokasi perusahaan, bukan di awan yang entah di mana. Hasilnya? Biaya hardware berhasil tertutupi dalam waktu dua belas bulan saja karena peran pelaporan khusus sudah bisa digantikan. Sumber daya manusia pun bisa dialihkan ke fungsi yang lebih strategis, seperti merekrut editor pelaksana. Jadi, kita tidak perlu khawatir soal kehilangan pekerjaan, tetapi soal bagaimana beradaptasi dengan pekerjaan yang berubah.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Meskipun terlihat canggih, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada beberapa faktor krusial: akurasi model yang dipilih, desain alur kerja yang cermat (bukan asal jadi!), dan yang paling penting, kemampuan manusia untuk tetap mengendalikan data sensitif. AI mungkin rajin, tapi ia tidak punya akal sehat.
Tertarik untuk mengendalikan AI agar tidak kebablasan dan justru jadi investasi berharga di bisnismu? Kuasai cara menjadi majikan AI yang cerdas dengan mengikuti program AI Master. Jangan biarkan AI hanya jadi babu, tapi jadikanlah ia tangan kanan yang tak tergantikan!
Pada akhirnya, terbukti sudah: AI memang cerdas dalam mengolah angka dan menyusun laporan. Tapi ingat, tanpa manusia yang menekan tombol “on” dan “off”, robot-robot canggih ini hanyalah tumpukan silikon yang mati. Merekalah yang babu, kitalah majikannya.
Dan ngomong-ngomong, tadi pagi saya lihat AI di lampu merah lagi debat sama tukang parkir. Katanya, algoritma parkir dia lebih efisien. Ya sudah, semoga saja tidak ada “halusinasi” penarikan karcis.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechRadar.
Gambar oleh: STH via TechRadar