Etika MesinHardware & ChipMasa DepanSidang Bot

New York Rem ‘Data Center’ AI: Saat Robot Haus Daya, Akal Manusia Kena Batunya!

Ketika para “otak” di balik AI sibuk merancang algoritma yang konon akan mengubah dunia, para Majikan (manusia) di New York justru harus berurusan dengan masalah yang lebih membumi: listrik. Ya, data center AI yang haus daya ini kini mulai memicu kegeraman, sampai-sampai para legislator New York mengusulkan moratorium tiga tahun. Ini bukan sekadar isu teknis, ini adalah pertanyaan tentang bagaimana kita, sebagai Majikan sejati, mengendalikan monster buatan kita agar tidak memakan sumber daya hingga membuat tagihan listrik rumah tangga ikut melonjak.

Proposal undang-undang di New York ini, yang akan memberlakukan jeda setidaknya tiga tahun untuk izin pembangunan dan operasional pusat data baru, bukanlah fenomena langka. Wired melaporkan, New York adalah negara bagian keenam yang mempertimbangkan langkah serupa. Mengapa demikian? Karena haus daya AI sudah mencapai titik mengkhawatirkan. Perusahaan-perusahaan teknologi berbondong-bondong menginvestasikan triliunan rupiah untuk membangun infrastruktur AI. Tapi ingat, AI itu hanyalah tumpukan chip dan kabel yang butuh listrik untuk bernafas. Dan nafasnya ini, rupanya, cukup untuk membuat tetangga Anda kena getah tagihan listrik yang melambung tinggi.

Senator progresif Bernie Sanders bahkan telah menyerukan moratorium nasional, dan Gubernur konservatif Florida Ron DeSantis dengan sarkas bilang bahwa pusat data akan menyebabkan “tagihan energi lebih tinggi hanya agar beberapa chatbot bisa merusak anak berusia 13 tahun secara online.” Jangan salah, meskipun retorikanya berbeda, esensinya sama: AI, dengan segala kecerdasannya, masih belum bisa menghitung dampak sosial dan lingkungan dari nafsu makannya sendiri. Ia tidak bisa merasakan panasnya bumi yang memanas atau derita warga yang tercekik tagihan. Itu tugas Majikan.

Lebih dari 230 kelompok lingkungan, termasuk Food & Water Watch dan Greenpeace, bahkan sampai mengirim surat terbuka ke Kongres AS, menuntut penghentian pembangunan pusat data baru secara nasional. Eric Weltman dari Food & Water Watch mengakui bahwa RUU New York ini adalah “ide kami.” Ini membuktikan bahwa di balik gemerlap inovasi AI, ada akal sehat manusia yang masih peduli pada keberlanjutan. Gubernur New York Kathy Hochul sendiri telah meluncurkan inisiatif Energize NY Development, yang bertujuan agar pengguna energi besar (baca: pusat data) “membayar bagian mereka yang adil.” Ini adalah pengakuan bahwa AI, si asisten rajin tapi kadang kurang piknik ini, perlu diajari sopan santun dalam menggunakan sumber daya.

“Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.”

AI memang hebat dalam memproses data, tetapi ia sama sekali tidak punya kapasitas untuk berempati atau memahami konsekuensi jangka panjang dari keberadaannya. Ia adalah alat, dan alat yang terlalu kuat tanpa kendali bisa jadi bumerang. Membangun pusat data tanpa memikirkan dampaknya sama saja dengan menyerahkan kunci rumah kepada robot yang baru belajar berjalan; mungkin efisien, tapi siapa yang jamin tidak akan ada vas bunga pecah? Untuk lebih memahami bagaimana haus daya AI ini memengaruhi kita, Anda bisa membaca artikel kami tentang Badai Listrik AI Data Center: Saat Robot Haus Daya, Majikan Ikut Kena Getah!. Ini adalah tantangan nyata yang membutuhkan akal Majikan untuk menyeimbangkan inovasi dan tanggung jawab. Selain itu, Anda juga bisa menilik lebih dalam mengenai perdebatan regulasi AI dalam artikel Perang Dingin Regulasi AI di Amerika: Antara Akal Manusia dan Ego Robot (Siapa yang Menang?).

Jika Anda ingin memastikan Anda tetap menjadi Majikan yang punya akal, yang mampu mengendalikan teknologi alih-alih dikendalikan olehnya, maka menguasai AI Master adalah langkah cerdas. Program ini akan membekali Anda dengan pengetahuan untuk memahami bukan hanya potensi AI, tetapi juga cara mengelola risiko dan memastikan AI bekerja untuk Anda, bukan sebaliknya.

Pada akhirnya, terlepas dari seberapa “cerdas” AI yang kita ciptakan, keputusan etis dan strategis tetap berada di tangan manusia. Moratorium data center ini adalah bukti nyata bahwa akal Majikan masih menjadi penentu arah, bukan sekadar pelayan yang menekan tombol. Tanpa kita, AI hanyalah tumpukan kode mati yang haus listrik.

Ngomong-ngomong, tadi saya lihat kucing tetangga lagi asyik ngejar laser pointer di tembok, padahal dia sudah tahu itu cuma tipuan. Mirip-mirip lah sama sebagian orang yang percaya janji manis robot tanpa berpikir kritis.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “New York lawmakers propose a three-year pause on new data centers | TechCrunch”.
Gambar oleh: Brandon Dill for The Washington Post via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *