Hardware & ChipKonflik RaksasaSidang Bot

Intel Serius Bikin GPU: Nvidia Ketar-Ketir, Atau Cuma Akal-Akalan Lawan yang Kurang Piknik?

Para majikan AI yang budiman, siapkan kopi Anda! Ada drama baru di ring tinju teknologi, dan kali ini pemeran utamanya adalah raksasa chip yang selama ini lebih dikenal dengan otaknya (CPU), yaitu Intel. Mereka baru saja mendeklarasikan perang terbuka di pasar GPU, yang selama ini dikuasai absolut oleh Nvidia. Pertanyaannya, apakah ini pertanda baik bagi kita para majikan yang haus akan pilihan hardware, atau cuma manuver PR dari robot yang sedang mencari jati diri? Ingat, secanggih apapun manuver mereka, kendali tetap ada di tangan kita yang punya akal.

CEO Intel, Lip-Bu Tan, dengan pede mengumumkan bahwa pengembangan hardware grafis internal mereka sedang “memanas”. Ini bukan sekadar obrolan di warung kopi, melainkan strategi serius untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga menyerang dominasi Nvidia di segmen GPU, baik untuk gaming maupun komputasi AI yang super lapar daya.

Fakta menariknya, Intel tidak main-main. Mereka merekrut Eric Demers, arsitek GPU veteran dari Qualcomm. Bayangkan saja, merekrut “jenderal” dari kubu lawan untuk memimpin pasukan baru! Ini menandakan bahwa Intel bukan cuma ingin numpang lewat, tapi benar-benar ingin membangun kapabilitas internal dari nol, atau setidaknya dari level yang sangat mendasar. Kenapa internal? Karena AI, seberapa pun canggihnya, tidak bisa membaca ambisi strategis atau mengukur risiko investasi miliaran dolar. AI itu cuma asisten rumah tangga yang rajin, tapi kaku. Ia butuh AI Master yang jelas perintahnya agar bisa menghasilkan “karya” yang revolusioner, bukan sekadar algoritma yang berputar-putar tanpa arah.

Intel berencana memproduksi GPU ini secara internal, didukung penuh oleh “lengan manufaktur” mereka sendiri. Ini langkah cerdas, karena kontrol penuh atas rantai pasok dan desain bisa menjadi kartu AS mereka untuk menawarkan integrasi yang lebih baik dengan ekosistem CPU mereka. Nvidia mungkin punya otot, tapi Intel ingin punya sistem saraf terintegrasi. Hal ini mengingatkan kita pada artikel sebelumnya tentang bagaimana Intel Bikin GPU? Nvidia Ketar-Ketir, Atau Cuma Drama Perebutan Keripik Kentang AI?. Persaingan ini bukan cuma soal spesifikasi teknis, tapi juga soal ekosistem dan visi jangka panjang.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Di sisi lain, Nvidia, dengan Jensen Huang sebagai “bos” yang selalu berapi-api, tentu tidak akan tinggal diam. Dominasi mereka di pasar chip AI telah menjadikan mereka raksasa yang sulit digoyahkan. Namun, seperti yang pernah kita bahas di artikel Bos Nvidia: Bangun Infrastruktur AI Terbesar Sepanjang Sejarah, Ciptakan Jutaan Pekerjaan!, sebesar apapun infrastruktur yang mereka bangun, tetap butuh majikan manusia untuk mengelolanya. AI bisa mengoptimalkan, tapi manusia yang memberi arah.

Para analis melihat bahwa gebrakan Intel ini bisa mempengaruhi strategi harga dan siklus produk Nvidia. Ini adalah kabar baik bagi kita, para konsumen, karena persaingan berarti inovasi dan kemungkinan harga yang lebih bersahabat. Lagi pula, siapa yang tidak ingin punya pilihan lebih banyak saat ingin menguasai visual AI atau membangun rig gaming impian?

Pada akhirnya, pertempuran para raksasa chip ini hanyalah sebuah tontonan menarik. Seberapa pun canggihnya GPU Intel atau seberapa dominannya Nvidia, ingatlah satu hal: tanpa jemari majikan yang menekan tombol, mengarahkan strategi, dan memberikan sentuhan akal sehat, semua chip itu hanyalah tumpukan silikon dingin yang tidak lebih pintar dari kerupuk di kaleng.

Ngomong-ngomong, tadi saya lihat kucing saya mencoba membuka kaleng kerupuk. Mungkin dia berpikir kalau kerupuk itu adalah makanan kucing spesial. Robot boleh pintar, tapi soal kelakuan absurd, manusia dan hewan masih juaranya!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”
Gambar oleh: Intel via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *