Valuasi Rp 20 Triliun Cuma Buat Bikin Video AI? Higgsfield Buktikan ‘Slop’ Bisa Jadi Duit
Startup video AI, Higgsfield, baru saja mengantongi dana tambahan $80 juta, membuat valuasinya meroket hingga $1,3 miliar atau setara Rp 20 triliun lebih. Angka yang fantastis hanya untuk sebuah alat yang mengubah teks menjadi video. Pertanyaannya bagi kita, para majikan, sederhana: Apakah ini sekadar gelembung euforia teknologi, atau ada pelajaran berharga di balik tumpukan uang ini?
Jawabannya, seperti biasa, ada di tangan Anda, bukan pada mesinnya. Mari kita bedah bagaimana sebuah alat ‘pembuat video instan’ bisa dihargai semahal itu dan apa celah yang bisa kita manfaatkan.
Fakta di Balik Angka Fantastis Higgsfield
Higgsfield, yang didirikan oleh mantan petinggi AI di Snap, Alex Mashrabov, bukan pemain kemarin sore. Mereka mengklaim telah memiliki 15 juta pengguna dan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar $200 juta. Angka ini melesat dua kali lipat hanya dalam dua bulan. Investor sekelas Accel dan Menlo Ventures pun tak ragu menggelontorkan dana.
Alat mereka pada dasarnya adalah sebuah aplikasi yang memungkinkan siapa saja, dari kreator konten hingga tim marketing, untuk membuat dan mengedit video hasil generatif AI. Cukup ketik perintah, dan video pun jadi. Semudah menyuruh asisten rumah tangga membuatkan kopi, bukan?
Namun, di sinilah letak jebakannya. Sama seperti asisten yang rajin tapi kaku, AI ini tidak punya akal, selera, apalagi etika. Laporan TechCrunch menyoroti salah satu ‘karya’ pengguna Higgsfield: sebuah video satir tentang orang-orang yang namanya terseret dalam kasus Pulau Epstein. Konten yang oleh banyak pihak disebut sebagai “AI slop” atau sampah buatan AI.
Inilah bukti paling sahih kelemahan fundamental AI. Ia bisa mengeksekusi perintah dengan presisi, namun sama sekali buta konteks. Ia tidak mengerti mana yang jenaka, mana yang menghina, dan mana yang melanggar batas. Tanpa arahan seorang majikan yang punya nurani dan strategi, alat seharga triliunan ini tak lebih dari mesin pembuat masalah potensial.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Strategi Startup.
Pelajaran untuk Majikan: Visi Manusia, Eksekusi Mesin
Higgsfield kini memposisikan diri sebagai alat untuk para pemasar media sosial profesional. Ini adalah sinyal jelas: nilai sesungguhnya bukan pada kemampuan membuat video, tapi pada bagaimana video itu digunakan. Pemasar profesional tidak dibayar untuk menekan tombol ‘generate’, mereka dibayar untuk merancang kampanye yang menjual, membangun citra merek, dan menyentuh emosi audiens.
AI hanyalah kuas dan kanvas. Ide, cerita, dan strategi di baliknya tetap berasal dari otak manusia. Meskipun Higgsfield membuktikan mesin bisa ‘melukis’, untuk menjadi sutradara andal yang tahu cara mengarahkan ‘aktor’ AI ini, Anda butuh pemahaman lebih dalam. Inilah mengapa menguasai seluk-beluk visual storytelling dengan AI menjadi krusial. Jika Anda ingin memastikan konten Anda berkualitas ‘pro’ dan bukan sekadar ‘slop’, berinvestasi pada keahlian adalah kuncinya. Pelajari cara membuat konten profesional secara mandiri dan hemat budget dengan Creative AI Pro.
Valuasi Higgsfield yang selangit itu bukan untuk teknologinya semata. Para investor bertaruh pada jutaan ‘majikan’ di luar sana yang akan menggunakan alat ini untuk mewujudkan ide-ide brilian mereka. Tanpa perintah, visi, dan filter etika dari manusia, Higgsfield hanyalah tumpukan kode mati yang mahal.
Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal.
Oh iya, saus sachet di laci dapur sepertinya sudah kedaluwarsa.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.