Waymo Ajari Robotaxi Ngeles dari Tornado dan Gajah: Ketika AI Belajar dari “Mustahil,” Akal Majikan Tetap Nomor Satu!
Pernahkah Anda membayangkan robotaxi Anda tiba-tiba bertemu tornado di jalan sepi, atau lebih absurd lagi, berpapasan dengan gajah lepas? Kedengarannya seperti skenario film Hollywood yang konyol, bukan? Tapi Waymo, perusahaan mobil otonom milik Alphabet, justru sengaja membuat “mimpi buruk” ini jadi nyata… di dunia simulasi. Bagi kita para majikan, ini bukan sekadar berita teknologi, melainkan pengingat bahwa bahkan ketika AI mulai berurusan dengan hal-hal yang “mustahil”, kendali dan akal sehat kitalah yang paling krusial. Sebab, sebagus-bagusnya robot mengelak dari gajah, ia tetap butuh manusia untuk menekan tombol “start” dan “stop”.
Waymo, dengan bantuan Google DeepMind, baru saja meluncurkan Waymo World Model, sebuah simulator “hiper-realistis” yang dibangun menggunakan model AI Genie 3 milik Google. Genie 3 ini bukan cuma untuk membuat tiruan game Nintendo yang kadang kurang piknik, tapi juga bisa membangun lingkungan 3D fotorealistis dan interaktif yang “disesuaikan untuk ketatnya domain mengemudi”. Bayangkan saja, mereka bisa mensimulasikan Jembatan Golden Gate yang tertutup salju, jalanan pinggir kota yang banjir dengan perabot mengambang, lingkungan yang terbakar, bahkan konfrontasi tak terduga dengan seekor gajah!
Tujuan simulasi ini jelas: melatih robotaxi untuk menghadapi “kasus-kasus ekstrem” atau “edge cases” yang sangat jarang terjadi di dunia nyata, tanpa risiko fisik sama sekali. Ini adalah bagian penting dalam pengembangan kendaraan otonom, memungkinkan perusahaan mengumpulkan miliaran mil pengujian virtual. Waymo mengklaim World Model ini dapat menghasilkan hampir semua skenario, dari mengemudi sehari-hari hingga situasi langka, di berbagai modalitas sensor.
Menariknya, Genie 3 memiliki tiga mekanisme unik: kontrol tindakan mengemudi (untuk skenario “bagaimana jika”), kontrol tata letak adegan (menyesuaikan tata letak jalan, sinyal lalu lintas), dan kontrol bahasa (menyesuaikan waktu dan kondisi cuaca, seperti kondisi cahaya rendah atau silau tinggi yang merepotkan sensor AI). Simulator ini bahkan bisa mengubah rekaman dashcam dunia nyata menjadi lingkungan simulasi untuk tingkat realisme dan faktualitas tertinggi. Cerdas? Tentu. Tapi seberapa cerdas ia benar-benar “memahami” bahaya tornado atau perilaku gajah, alih-alih hanya “melihat” data piksel? Akal manusia masih jauh di atas sana.
Ini bukan kali pertama Waymo bersandar pada raksasa AI Google. Model pelatihan EMMA (End-to-End Multimodal Model for Autonomous Driving) Waymo juga dibangun menggunakan Google Gemini. Bahkan, ada laporan bahwa Waymo sedang mengembangkan asisten suara dalam mobil berbasis Gemini. DeepMind juga sudah memberikan solusi untuk membantu Waymo mengurangi tingkat “positif palsu” dalam data sensornya. Ini menunjukkan betapa kompleksnya membuat AI benar-benar ‘berakal’ dan tak mudah tertipu oleh realitas, bahkan realitas virtual yang diciptakan sendiri.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Seberapa pun canggihnya simulasi, AI hanya bekerja berdasarkan data yang diberikan dan algoritma yang diprogram. AI mungkin bisa “melihat” tornado atau gajah, tapi ia tidak merasakan adrenalin, tidak punya insting untuk mencari perlindungan terbaik, atau bahkan tidak bisa panik. Itu semua adalah ranah akal dan naluri manusiawi. Robotaxi Waymo mungkin diajari “ngeles”, tapi manusia mengajarkan arti sebenarnya dari “bertahan hidup”.
Jika Anda ingin menguasai AI dan tidak sekadar menjadi penonton saat para robot unjuk gigi dengan kecerdasan buatan, Anda perlu mengendalikan AI, bukan dikendalikan. Jangan sampai Anda menjadi babu teknologi, jadilah majikannya! Kami merekomendasikan Anda untuk menjelajahi AI Master agar Anda bisa mengendalikan AI dengan penuh akal dan strategi.
Google Project Genie memang menjanjikan dunia virtual yang “semanis marshmallow,” namun seperti yang kita lihat, tetap saja robotnya kadang “nabrak dinding”. Dan terkait dengan Waymo, percayalah, Waymo Bikin Robotaxi Belajar Ngeles dari Gajah dan Tornado, tapi itu semua berkat akal manusia yang membimbingnya.
Pada akhirnya, Waymo boleh bangga dengan robotaxi mereka yang bisa “berpiknik” virtual menghindari tornado dan gajah. Tapi ingat, remote control-nya tetap ada di tangan manusia. Tanpa jari yang menekan tombol simulasi, si robot hanyalah tumpukan sirkuit mati yang merindukan drama.
Ngomong-ngomong, tadi saya lihat tetangga depan sedang mencoba mengajari kucingnya main catur. Kayaknya hasilnya bakal lebih cepat pintar dari AI yang sedang belajar ngeles dari gajah.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images