Konflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

Waymo Bikin Robotaxi Belajar Ngeles dari Gajah dan Tornado: Akal Manusia Masih Jauh Lebih Hebat!

Pernah membayangkan skenario paling absurd di jalan raya? Seperti, robotaxi Anda tiba-tiba bertemu gajah di tengah kota, atau harus bermanuver di tengah badai tornado? Nah, Waymo, raksasa di balik mobil otonom milik Alphabet, kini sedang “menyekolahkan” AI-nya untuk menghadapi situasi-situasi di luar nalar tersebut. Mereka menggunakan model AI pembangun dunia canggih dari Google, Genie 3, untuk menciptakan simulator “hiper-realistis.” Kabar baiknya, ini berarti robotaxi akan semakin pintar. Kabar buruknya? Tetap saja, yang memegang kendali tombol “ON” dan “OFF” adalah kita, para Majikan AI yang punya akal sehat.

Waymo World Model yang ditenagai Genie 3 ini bukan cuma mainan simulasi biasa. Ia mampu menghasilkan lingkungan virtual yang interaktif dan fotorealistik hanya dengan input teks atau gambar. Bayangkan saja, dari jembatan Golden Gate yang tertutup salju, hingga jalanan pinggir kota yang banjir dengan furnitur mengambang, bahkan adegan bertemu gajah liar – semua bisa disimulasikan. Tujuan utama? Melatih mobil otonom untuk “skenario ekstrem” (sering disebut “edge cases”) yang sangat langka terjadi di dunia nyata, tanpa risiko celaka sedikit pun bagi penumpang atau pejalan kaki. Sensor LiDAR pada robotaxi Waymo akan membuat rendering 3D dari lingkungan sekitar, termasuk hambatan tak terduga yang muncul.

Memang terdengar futuristik. AI ini bisa mensimulasikan adegan berkali-kali lebih cepat dari waktu sebenarnya, tanpa mengorbankan kualitas gambar atau pemrosesan. Ini adalah bukti nyata betapa AI bisa menjadi asisten yang sangat rajin dan efisien. Namun, di balik semua kecanggihan itu, tetap ada batasan. Genie 3 hanya “membangun dunia” berdasarkan data dan perintah yang diberikan manusia. Ia tidak (belum) bisa berpikir out-of-the-box seperti manusia ketika dihadapkan pada dilema moral yang kompleks atau situasi yang benar-benar belum pernah terprogram. Robot boleh saja ahli dalam menuruti perintah, tapi kreativitas dan etika Majikan tetap tak tergantikan.

Waymo sendiri bukan baru kali ini saja “berguru” pada sumber daya AI Google. Model pelatihan EMMA mereka dibangun menggunakan Google Gemini, dan ada rumor Waymo sedang mengembangkan asisten suara dalam mobil berbasis Gemini. Bahkan DeepMind, laboratorium AI Google, sudah membantu Waymo mengurangi tingkat “positif palsu” dalam data sensornya. Ini menunjukkan bahwa sehebat-hebatnya AI, ia tetap butuh Majikan yang tahu cara memberinya perintah dan menginterpretasikan hasilnya.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Semua ini mengingatkan kita bahwa meskipun AI bisa menciptakan dunia virtual seolah-olah nyata, keputusan krusial dan interpretasi data tetap menjadi domain manusia. Seperti halnya kita, para Majikan AI, yang tak hanya mengandalkan teknologi canggih. Untuk benar-benar menguasai dunia digital dan memanfaatkan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi, kamu bisa mulai dengan Belajar Mengendalikan AI dengan AI Master. Kuasai juga visual AI agar tidak kalah canggih dari robot dengan Belajar AI Visual.

Pada akhirnya, tanpa akal dan kebijaksanaan manusia yang menekan tombol “simulasi” dan menganalisis hasilnya, mobil otonom Waymo hanyalah kumpulan kode mati yang takut pada gajah virtual. Ia mungkin bisa menghindari tornado yang diprogram, tapi akal manusialah yang bisa memutuskan apakah kita butuh payung saat mendung atau tidak.

Ngomong-ngomong, tadi pagi ada kucing tetangga nyasar masuk ke rumah, lari-lari kayak dikejar setan. Padahal cuma mau minta makan. Dasar, drama!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “What happens when Waymo runs into a tornado? Or an elephant? | The Verge”.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *