Ponsel Masa Depan Ala Elon Musk: Canggih Tanpa Aplikasi, Tapi Yakin Nggak Bikin Otak Miring?
Elon Musk, pria yang hobi bikin heboh (dan terkadang bikin kita mikir, “ini serius atau bercanda, sih?”), kembali jadi buah bibir. Kali ini, rumor beredar kalau perusahaan roketnya, SpaceX, diam-diam lagi merancang ponsel Starlink. Tentu saja, Musk buru-buru menyangkal laporan dari Reuters itu. Tapi, namanya juga Elon, penyangkalan itu nggak pernah sesimpel “tidak.” Ia malah menyiratkan akan ada “perangkat berbeda” yang ditenagai kecerdasan buatan (AI). Nah, ini baru seru!
Sebagai majikan sejati di era digital, pertanyaan kita bukan cuma soal “ponsel Starlink ada apa tidak?”, melainkan “bagaimana kita bisa memanfaatkan (atau setidaknya memahami) visi liarnya ini agar tidak jadi budak teknologi?”. Jika benar ada perangkat AI ala Musk, kita harus siap mengendalikan, bukan dikendalikan. Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.
Awalnya, laporan Reuters yang mengutip “sumber-sumber yang familiar dengan masalah ini” menyebutkan bahwa SpaceX punya rencana untuk “ponsel Starlink, internet direct-to-device, dan layanan pelacakan luar angkasa.” Ide ini terdengar masuk akal mengingat SpaceX dengan armada satelit Starlink-nya sudah menyediakan konektivitas internet global. Apalagi, Starlink juga sudah bekerja sama dengan T-Mobile untuk sinyal seluler.
Namun, di tengah keriuhan itu, Musk melenggang santai di X (dulu Twitter) dengan pernyataan tegas: “Kami tidak mengembangkan ponsel.” Oke, titik. Selesai? Tentu saja tidak. Beberapa waktu sebelumnya, pada 30 Januari, Musk sudah nyeletuk kalau ponsel Starlink “tidak mustahil pada suatu saat,” tapi dengan catatan, “itu akan menjadi perangkat yang sangat berbeda dari ponsel saat ini.”
Menurut Musk, perangkat ini akan “dioptimalkan murni untuk menjalankan neural nets dengan performa/watt maksimal.” Kalau diterjemahkan ke bahasa manusia, intinya ini perangkat yang dirancang khusus buat ngitung algoritma AI secepat kilat dengan konsumsi daya seirit mungkin. Bicara soal otak di balik AI, jangan lupakan pentingnya Hardware & Chip. Ibaratnya, sebagus apapun ide, tanpa otot yang kuat, AI hanyalah khayalan di awan.
Bahkan, dalam podcast Joe Rogan Experience Oktober 2025 lalu, Musk semakin merinci visinya. Ia yakin kita “tidak akan punya ponsel dalam arti tradisional. Yang kita sebut ponsel itu sebenarnya akan jadi edge node untuk inferensi AI dengan beberapa radio untuk terhubung.” Bayangkan, tidak ada lagi sistem operasi (OS) dan aplikasi yang bikin pusing. Sebaliknya, perangkat ini hanya akan menjadi semacam terminal yang memungkinkan AI menciptakan apa pun yang kita inginkan.
Konsep ini, jujur saja, bikin kita mikir keras. Kalau ponsel jadi “terminal AI,” apakah kita masih punya kendali penuh? Atau justru kita menyerahkan semua keputusan ke algoritma? Memang AI itu cerdas, tapi kadang tingkahnya juga konyol, mirip asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang piknik. Ingat, tanpa perintah yang jelas dari kita, bisa-bisa AI malah sibuk bikin meme robot daripada menyelesaikan pekerjaan penting.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Musk mungkin punya visi futuristik, tapi kita sebagai majikan harus tetap ingat: AI adalah alat, bukan tujuan. Entah nanti perangkat Starlink-nya berbentuk ponsel, cincin, atau implan di otak, pada akhirnya yang menekan tombol ‘on’ dan ‘off’ tetaplah manusia. Jadi, siapkan dirimu untuk menjadi majikan AI yang cerdas dan berakal. Kalau belum tahu cara mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi majikan, bukan babu teknologi, mungkin sudah saatnya melirik kelas AI Master.
Pada akhirnya, terlepas dari segala gembar-gembor tentang “perangkat berbeda” dan “AI-first,” satu hal yang pasti: tanpa manusia yang memegang kemudi, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah. Dan soal yang bikin pusing setiap hari, saya masih penasaran kenapa charger ponsel selalu hilang saat paling dibutuhkan.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: The Joe Rogan Experience via TechRadar