AI Agen Kini Bisa Belanja Sendiri: Dompetmu Aman atau Malah Bikin Jebol? Sapiom Ungkap Rahasianya!
Bayangkan skenario: Anda sedang asyik rebahan, tiba-tiba aplikasi AI yang Anda bangun untuk mengirim notifikasi ulang tahun teman, secara otomatis “membeli” kuota SMS dan mengirim ucapan selamat lengkap dengan GIF kocak. Tanpa perlu Anda klik, transfer, atau bahkan memasukkan kartu kredit. Kedengarannya seperti mimpi bukan? Atau justru mimpi buruk karena dompet Anda bisa tergerus tanpa disadari? Berita terbaru dari Sapiom, startup yang baru saja meraup investasi Rp233 miliar (USD 15 juta) dari Accel, membawa kita selangkah lebih dekat ke masa depan di mana agen AI tak cuma pintar, tapi juga bisa “belanja” sendiri. Nah, sebagai majikan AI yang cerdas, bagaimana kita bisa memanfaatkan ini tanpa jadi babu teknologi yang tekor?
Selama ini, membuat aplikasi AI kustom seringkali terbentur tembok “integrasi”. Anda mungkin jago “vibe coding” (istilah keren untuk ngoding pakai bahasa manusia), berhasil menciptakan prototipe aplikasi yang bisa mengirim pesan otomatis. Tapi, begitu mau menghubungkannya dengan layanan SMS seperti Twilio atau proses pembayaran Stripe, langsung pusing tujuh keliling. Kenapa? Karena robot kita, secerdas-cerdasnya, tetap butuh “kartu sakti” dan izin khusus untuk bertransaksi.
Di sinilah Sapiom, yang digawangi oleh Ilan Zerbib, mantan direktur teknik pembayaran Shopify, mencoba jadi pahlawan. Mereka membangun “lapisan finansial” yang memungkinkan agen AI untuk secara aman membeli dan mengakses perangkat lunak, API, data, dan komputasi yang mereka butuhkan. Intinya, AI bisa beli layanan sendiri tanpa campur tangan manusia yang rempong. Setiap kali agen AI Anda perlu mengirim SMS, itu bukan cuma sekadar perintah, tapi transaksi. Sapiom mengklaim bisa mengotomatisasi seluruh proses autentikasi dan pembayaran mikro tersebut.
Amit Kumar, partner di Accel, dengan santainya menyebut, “Jika dipikir-pikir, setiap panggilan API itu adalah pembayaran. Setiap kali Anda mengirim pesan teks, itu pembayaran. Setiap kali Anda menyalakan server untuk AWS, itu pembayaran.” Pernyataan ini menunjukkan betapa fundamentalnya masalah yang ingin dipecahkan Sapiom. Mereka melihat celah bahwa AI agen masa depan akan sangat bergantung pada layanan eksternal, dan proses “belanja” ini harus semulus mungkin.
Namun, jangan cepat-cepat berkhayal robot Anda akan membelikan Anda kopi dan membayar tagihan listrik secara mandiri di rumah. Sapiom, untuk saat ini, fokus pada solusi B2B. Ini berarti mereka menyasar perusahaan yang mengembangkan agen AI untuk tugas-tugas bisnis, bukan asisten pribadi yang bisa Anda suruh belanja di Amazon atau pesan Uber. Mengapa demikian? Karena mengizinkan AI mengelola keuangan pribadi tanpa pengawasan ketat masih merupakan wilayah yang penuh ranjau, baik dari sisi keamanan, etika, maupun akuntabilitas. Robot memang pintar, tapi akal mereka masih perlu sekolah etika yang serius.
Konsekuensi dari inovasi ini adalah potensi efisiensi luar biasa bagi bisnis. Bayangkan, developer (atau bahkan “vibe coder”) tak perlu lagi pusing mengurus langganan Twilio, memasukkan kartu kredit, atau menyalin kunci API secara manual setiap kali butuh layanan eksternal. Sapiom akan mengurusnya di balik layar, dan biayanya akan diteruskan oleh platform AI yang Anda gunakan. Praktis, kan? Tapi di balik kepraktisan itu, ada pertanyaan besar: sejauh mana kita bersedia mendelegasikan keputusan finansial kepada mesin? Sejauh mana kita percaya pada algoritma yang bisa saja “galau” dan membeli hal yang tidak perlu?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Sebagai majikan AI, kita harus selalu ingat: AI hanyalah alat. Sapiom mungkin membuat AI agen lebih mandiri dalam “belanja” tools, tapi keputusan strategis tentang apa yang harus dibeli, berapa batasnya, dan untuk tujuan apa, tetap ada di tangan kita. Kalau tidak, bisa-bisa dompet perusahaan Anda mendadak “kering kerontang” gara-gara robot yang keasyikan jajan API. Untuk memastikan Anda tetap menjadi majikan yang mengendalikan AI, bukan sebaliknya, penting untuk terus mengasah kemampuan Anda dalam mengelola dan memahami cara kerja teknologi ini. Banyak di luar sana yang menawarkan pelatihan untuk menjadi ahli dalam mengendalikan AI. Salah satunya seperti program AI Master yang bisa membantu Anda menguasai AI dari A sampai Z. Karena secanggih apapun asisten digitalmu, dia tetap butuh arahan dari majikan yang punya akal, bukan cuma babu teknologi.
Sebuah kasus serupa tentang kompleksitas agen AI dapat dilihat dalam artikel kami sebelumnya tentang AI Agen Industri yang menyoroti bahwa walaupun canggih, agen AI masih menghadapi tantangan serius dalam implementasi di dunia nyata. Demikian pula, isu mengenai bagaimana Agen AI Perusahaan juga menjadi pengingat bahwa kegagalan seringkali bukan pada AI-nya, melainkan pada kurangnya arahan dan pemahaman dari manusia di baliknya.
Pada akhirnya, terlepas dari berapa banyak uang yang berhasil dihimpun Sapiom atau seberapa “mandiri” agen AI kita, kendali tetap ada di tangan manusia. Robot tidak punya keinginan, tidak punya ambisi, dan yang pasti, tidak punya dompet sendiri. Mereka hanya eksekutor dari akal dan perintah kita. Jadi, jangan pernah lupakan siapa majikan yang sesungguhnya.
Dan omong-omong, siapa sih yang pertama kali berpikir kalau menggabungkan stroberi dan cokelat adalah ide brilian? Pasti bukan AI, karena mereka cuma tahu kode biner, bukan kenikmatan duniawi.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”
Gambar oleh: Ilan Zerbib via TechCrunch