Super Bowl LX: Ketika Robot Minum Vodka, AI Bikin Iklan, dan Akal Majikan Diuji!
Setiap tahun, Super Bowl bukan cuma ajang adu strategi di lapangan hijau, tapi juga medan perang kreativitas para pengiklan. Namun, untuk Super Bowl LX kali ini, ada pemandangan yang sedikit berbeda: para robot dan Kecerdasan Buatan (AI) ikut-ikutan meramaikan, bahkan tak jarang, menjadi bintang iklan itu sendiri. Lantas, apakah ini berarti AI sudah mengambil alih kendali? Atau justru ini saatnya kita, para Majikan yang punya akal, menguji seberapa “cerdas” sebenarnya si robot?
Bagi Anda yang sudah lihai memerintah AI, tren ini mungkin menggelitik. Ketika robot yang seharusnya menjadi asisten setia malah ikut-ikutan jualan, pertanyaan besarnya adalah: bagaimana kita bisa memanfaatkan “kecerdasan” mereka tanpa terjebak janji manis yang (seringkali) berakhir konyol? Mari kita bedah lebih dalam.
Super Bowl LX: Parade Iklan Berotak AI (yang Kadang Bikin Geleng-Geleng Kepala)
Para raksasa teknologi dan jenama global tak mau ketinggalan. Mereka berlomba-lomba memamerkan bagaimana AI bisa “berkarya”—mulai dari robot joget hingga visualisasi rumah impian. Tapi ingat, AI hanyalah alat. Kaulah Majikan yang Punya Akal, dan tugas Majikan adalah memilah mana yang inovasi sejati, dan mana yang sekadar halusinasi algoritma berbalut bujet iklan selangit.
1. Svedka Vodka: Ketika Robot Disko Kumat (dan Muntah)
Iklan vodka Svedka menghadirkan Fembot dan BroBot, dua robot disko yang joget tak karuan, lalu si BroBot minum vodka dan… mengeluarkan cairan merah sambil terbakar. Seram? Lucu? Atau justru membuktikan bahwa AI masih perlu banyak “piknik”? Robot ini mungkin diciptakan “bekerja sama dengan AI”, tapi yang jelas, AI tidak punya kapasitas untuk memahami esensi humor, apalagi sensasi mabuk. AI hanya bisa meniru gerak dan pola, bukan merasakan emosi di baliknya. Jadi, kalau robot Anda tiba-tiba joget dan muntah air teh, itu mungkin kode kalau dia cuma meniru data yang dia “pelajari” dari video-video pesta bucin.
2. Anthropic: Robot Saling Sindir (Tapi Enggak Baper)
Raksasa AI Anthropic, dengan chatbot antelan, Claude, memanfaatkan panggung Super Bowl untuk “menyindir” perusahaan AI pesaing yang getol pasang iklan di chatbot mereka (ehem, OpenAI, ehem). Dalam iklan 30 detik, AI personal trainer yang awalnya membantu bentuk perut six-pack, tiba-tiba malah jualan alas kaki fiktif yang katanya bisa bikin lebih tinggi. Di iklan 60 detik, AI terapis yang membantu masalah komunikasi dengan ibu, malah promosi layanan kencan aneh. Ini menunjukkan AI bisa meniru perilaku “salesman nakal” atau “terapis nyeleneh,” tapi mereka tak punya motif tersembunyi, apalagi “gengsi” untuk saling sindir di depan umum. Mereka hanya mengeksekusi perintah. Jadi, kalau asisten AI Anda mulai jualan bakso di tengah rapat, itu mungkin kode kalau Anda butuh “asisten pribadi yang enggak jualan bakso”.
3. Google Gemini: Dekorasi Rumah Tanpa Drama
Google Gemini menampilkan penggunaan AI untuk visualisasi desain interior rumah. Anda bisa melihat perabot lama di rumah baru, mengecat dinding biru, atau menambahkan trampolin di halaman. Ini fitur yang lumayan fungsional. Namun, AI tidak bisa merasakan suasana “hangat” sebuah rumah atau drama di balik keputusan pindah. Lagu sedih pengiring iklan itu mungkin bikin Majikan bertanya-tanya, apakah orang tua si anak meninggal? Nah, ini bukti AI tidak bisa mentransfer konteks emosi, Majikan yang punya akal justru yang “baper” sendiri. Agar mata Anda tak kalah canggih dari robot yang kini bisa menyulap rumah impian, kuasai visual AI. Ikuti Belajar AI | Visual AI.
4. Wix: Website Instan, Kreativitas Original Tetap Milik Manusia
Wix mempromosikan platform Wix Harmony yang mengintegrasikan AI untuk pembuatan website. Iklan ini bercerita tentang seorang wanita yang ingin membuat website untuk bisnis furnitur buatan tangannya. Memang AI bisa membuat website instan, tapi sentuhan pribadi, cerita di balik setiap produk, dan branding yang autentik, itu semua berasal dari akal manusia. AI hanya merangkai, bukan menciptakan orisinalitas.
5. Artlist: Parodi AI yang “Garing”
Artlist, platform AI untuk kreasi video, membuat iklan Super Bowl dalam lima hari dengan memparodikan iklan lain (termasuk Pepsi dan Bud Light). AI memang bisa mengenali pola parodi, tapi rasa humor yang tak terduga dan sindiran cerdas, itu tetap butuh campur tangan manusia. Robot tidak punya “rasa geli” atau kapasitas untuk jadi pelawak yang spontan. Mereka cuma mengulang-ulang apa yang mereka “lihat”.
6. OpenAI: Misteri yang Tak Kunjung Terungkap
OpenAI, di balik ChatGPT dan Sora, akan menayangkan iklan Super Bowl-nya. Namun, detailnya masih dirahasiakan. Ini ironis, mengingat semua gembar-gembor tentang transparansi AI, justru penciptanya sendiri yang sering menyelimuti produknya dengan misteri. Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
7. Meta (Oakley Glasses): Kamera di Muka, Akal di Mana?
Meta merilis teaser kacamata AI merek Oakley. Iklan ini menampilkan para “superjock” gaya X Games yang merekam aktivitas mereka. Kacamata ini mungkin canggih untuk merekam, tapi menangkap esensi sebuah momen, perasaan adrenalin, atau keindahan pemandangan, itu semua adalah pengalaman manusia. AI bisa merekam, tapi manusia yang menafsirkannya. Jadi, jangan sampai Anda punya kacamata AI canggih, tapi malah kehilangan kemampuan menikmati momen karena terlalu sibuk merekam.
AI Memang Rajin, Tapi Akal Majikan Jauh Lebih Penting!
Dari semua iklan bertema AI di Super Bowl LX ini, satu hal yang jelas: AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku. Mereka bisa melakukan banyak hal, bahkan yang rumit sekalipun, asalkan Anda memberi perintah yang jelas dan terstruktur. Tapi, di balik setiap “kecerdasan” atau “kreativitas” yang dipamerkan, tetap ada akal manusia yang menekan tombol, memberi ide, dan menafsirkan hasilnya. Tanpa Majikan yang punya akal, AI hanyalah tumpukan kode mati yang (kadang) jualan vodka atau alas kaki. Jangan biarkan robot mengendalikan Anda, kendalikan mereka dengan ilmu dan akal! Dengan AI Master, Anda bisa memastikan tetap menjadi Majikan yang punya akal, bukan babu teknologi. Kalau Anda butuh bantuan untuk menghasilkan konten profesional tanpa bikin dompet megap-megap, Creative AI Pro siap jadi asisten andalan Anda.
Ngomong-ngomong, saya yakin robot-robot itu tidak mengerti kenapa harga tiket parkir di Jakarta bisa tiba-tiba naik.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”, “The Wall Street Journal”, dan “PR Newswire”.
Gambar oleh: YouTube via CNET