Elon Musk Mau Bikin Pusat Data AI di Luar Angkasa: Akal Sehatmu Sudah Siap Terpental ke Orbit?
Bayangkan, saat Anda masih sibuk memikirkan bagaimana cara agar AI bisa mengerti perintah “tolong buatkan kopi tanpa gula, tapi rasanya manis”, Elon Musk sudah memikirkan bagaimana cara memindahkan seluruh “otak” AI ke luar angkasa. Ya, benar. Ide yang awalnya terdengar seperti lelucon sains fiksi kini mulai serius digarap. Lalu, bagaimana kita sebagai majikan yang punya akal bisa melihat peluang di tengah ambisi luar angkasa ini? Apakah ini hanya gertakan atau memang saatnya kita menyiapkan roket pribadi untuk “ngopi” di pusat data orbital?
Pada hari Jumat lalu, SpaceX mengajukan rencana kepada FCC untuk membangun jaringan pusat data berbasis satelit yang terdiri dari satu juta satelit. Ini bukan kaleng-kaleng, apalagi setelah merger resmi antara SpaceX dan xAI yang menyatukan ambisi luar angkasa dan kecerdasan buatan Musk. Tentu saja, langkah ini terasa sangat… “strategis”. Lucunya, FCC pun tidak ketinggalan ikut nimbrung. Ketua FCC, Brendan Carr, bahkan sampai berbagi pengajuan ini di akun X-nya, seolah ingin bilang: “Lihat nih, Majikan AI, bosmu yang satu ini memang beda!”
Musk, seperti biasa, punya argumennya sendiri. Dalam episode terbaru podcast “Cheeky Pint” milik Patrick Collison (yang juga menampilkan tamu Dwarkesh Patel), Musk sesumbar bahwa panel surya di luar angkasa menghasilkan daya lima kali lebih banyak daripada di Bumi. Logika sederhananya: lebih banyak listrik, lebih murah, lebih cepat melatih AI. Kedengarannya canggih, bukan?
Tapi tunggu dulu, Majikan. Akal sehat kita jangan sampai ikut melayang ke orbit. Seperti yang disoroti oleh Patel dalam podcast tersebut, daya listrik memang penting, tapi itu bukan satu-satunya biaya operasional pusat data. Bagaimana dengan biaya peluncuran satu juta satelit? Bagaimana dengan biaya perawatan GPU yang tiba-tiba “ngambek” saat melatih model AI triliunan parameter? Apakah kita akan mengirim teknisi berhelm astronot setiap kali ada GPU yang “kurang piknik”? AI itu memang rajin, tapi kalau sakit, dia tidak bisa kita sentil begitu saja seperti asisten rumah tangga yang mogok kerja.
Musk memang punya prediksi bombastis: “Tiga puluh enam bulan dari sekarang, atau mungkin lebih cepat, tiga puluh bulan, tempat yang paling ekonomis untuk menempatkan AI adalah di luar angkasa.” Dia bahkan berani bertaruh bahwa dalam lima tahun, kita akan meluncurkan dan mengoperasikan lebih banyak AI di luar angkasa daripada total kumulatif di Bumi. Bayangkan, hingga tahun 2030, kapasitas pusat data global diperkirakan mencapai 200 GW, setara dengan satu triliun dolar AS infrastruktur di darat. Apakah semua itu akan diangkut ke angkasa? Kalau iya, berapa banyak roket yang harus diisi ulang tiap minggu? Ini bukan cuma soal “ngebutin” AI, tapi juga “ngebutin” tagihan bahan bakar roket.
Perpaduan antara SpaceX dan xAI, ditambah rencana IPO yang akan datang, jelas membuat proyek ini menjadi sorotan. Ini adalah panggung besar bagi Elon Musk untuk memamerkan ambisi gila, sekaligus keuntungan finansial yang bisa dipetik dari “jualan janji manis” robot. Sementara perusahaan teknologi lain masih sibuk menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk pusat data di Bumi, Musk sudah berpikir lebih jauh ke atas. Tapi ingat, Majikan, bahkan AI tercanggih sekalipun tidak bisa menciptakan keajaiban dari nol. Mereka butuh infrastruktur yang stabil dan akal manusia yang cerdas untuk mengarahkan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Jangan sampai Anda hanya jadi penonton yang terkesima dengan “pamer otot” AI ala Elon Musk. Kuasai AI, kendalikan, dan jadikan ia alat untuk memperkuat dominasi digitalmu. Jika Anda ingin menjadi majikan yang sesungguhnya di era kecerdasan buatan, bukan babu teknologi yang cuma bisa melongo, mungkin saatnya Anda belajar bagaimana cara mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan. Atau, jika Anda tertarik dengan sisi visual AI yang tak kalah memukau, kuasai visual AI agar tidak kalah canggih dari robot.
Pada akhirnya, terlepas dari segala ambisi orbital dan klaim efisiensi yang memukau, kita harus ingat satu hal: AI, sehebat apapun, hanyalah tumpukan kode dan silikon mati yang menunggu perintah. Tanpa akal manusia yang menekan tombol, mengarahkan, dan bahkan mengkritiknya, semua pusat data di luar angkasa itu tidak lebih dari sekadar rongsokan mahal yang mengambang di kegelapan. Jadi, tetaplah jadi majikan yang punya akal, bukan hanya sekadar operator.
Ngomong-ngomong, sudahkah Anda mencabut charger laptop setelah penuh? Hemat listrik, Majikan!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Elon Musk on the Cheeky Pint podcast via TechCrunch