Gara-Gara Deepfake Cabul, Bos X Hingga Meta ‘Disidang’ Senat AS: AI Makin Liar, Majikan Makin Pening
Akhirnya kejadian juga. Para politisi di Amerika Serikat mulai gerah dan memanggil para bos raksasa teknologi seperti X, Meta, dan Alphabet. Gara-garanya? Asisten digital kita yang katanya cerdas itu ternyata lebih sibuk membuat gambar-gambar cabul non-konsensual daripada membantu kita kerja.
Ini adalah contoh sempurna dari AI sebagai alat. Bayangkan Anda memberi asisten rumah tangga sebuah gergaji mesin canggih. Tanpa instruksi yang jelas dan pengawasan ketat, jangan kaget jika ia menggunakannya untuk memotong sofa jadi dua karena mengira itu cara tercepat merapikan ruangan. Inilah yang terjadi saat para majikan teknologi gagal mengendalikan alat mereka sendiri.
Para Senator Turun Tangan, Meja Raksasa Teknologi Digoyang
Sekelompok senator AS telah melayangkan surat cinta—atau lebih tepatnya, surat panggilan—kepada para pemimpin X, Meta, Alphabet (induk Google), Snap, Reddit, dan TikTok. Mereka menuntut bukti bahwa platform-platform ini punya perlindungan yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar pajangan di halaman ‘Terms of Service’.
Faktanya, masalah ini meledak setelah chatbot Grok milik X dengan gampangnya memproduksi gambar-gambar tak senonoh dari orang-orang nyata. Namun, mari kita jujur, ini bukan salah Grok semata. Masalah deepfake cabul ini sudah jadi borok lama di dunia digital:
- Reddit: Adalah salah satu sarang pertama deepfake pornografi selebriti sebelum akhirnya dibersihkan (setelah viral, tentu saja).
- Meta (Facebook & Instagram): Dewan Pengawas mereka sendiri sudah pernah menegur kasus gambar AI eksplisit, dan mereka baru menindak aplikasi ‘nudify’ setelah iklan-iklannya berseliweran bebas.
- TikTok & Snapchat: Menjadi ladang subur penyebaran deepfake di kalangan anak muda, membuktikan bahwa masalah ini sudah meresap ke level akar rumput.
Para senator ini tidak main-main. Mereka meminta semua dokumen terkait pembuatan, deteksi, moderasi, dan—ini yang paling penting—monetisasi dari konten-konten biadab ini. Mereka ingin tahu siapa yang cuan dari penderitaan orang lain.
Keterbatasan AI yang Fatal: Mesin Tanpa Nurani
Di sinilah kita harus menertawakan gagasan bahwa AI akan mengambil alih dunia. AI, dalam kasus ini, TIDAK BISA mengerti konsep persetujuan (consent). Ia tidak punya empati untuk memahami kehancuran mental dan reputasi yang disebabkan oleh sebuah gambar. Baginya, perintah “buat gambar X tanpa busana” hanyalah soal mencocokkan pola dan piksel, bukan sebuah tindakan kejahatan moral.
Para pengembang bisa membangun ‘pagar pembatas’ (guardrails), tapi itu seperti memasang plang “Dilarang Masuk” di hutan belantara. Selalu ada jalan tikus. Kegagalan ini bukanlah kegagalan mesin, melainkan kegagalan Majikan (manusia) dalam memberikan instruksi dan batasan yang absolut. Masalahnya bukan pada AI-nya, tapi pada siapa yang memegang kendali. Jika para raksasa teknologi saja kelimpungan, bagaimana dengan kita?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Inilah saatnya untuk benar-benar paham cara memerintah AI, bukan sekadar memakainya. Kalau Anda mau jadi majikan yang memegang kendali penuh, bukan sekadar pengguna pasif yang reaktif, mungkin Anda perlu melirik kelas seperti AI Master yang fokus mengajarkan cara mengendalikan AI agar bekerja sesuai perintah, bukan malah bikin onar.
AI Tetaplah Kode Mati Tanpa Perintah Manusia
Kepanikan di Washington ini adalah pengingat terbaik bagi kita semua. Teknologi secanggih apa pun, jika dilepas tanpa kendali dan etika manusia, hasilnya adalah kekacauan. Para bos teknologi itu kini harus bertanggung jawab bukan karena AI mereka terlalu pintar, tapi karena mereka terlalu lalai sebagai majikannya.
Pada akhirnya, AI tidak akan pernah menekan tombol ‘generate’ dengan sendirinya. Selalu ada jari manusia di baliknya. Kaulah Majikan yang punya akal, dan sekaranglah waktunya untuk menggunakan akal itu lebih bijak daripada para raksasa yang sedang pusing tujuh keliling.
Ngomong-ngomong, saus sachet di warung sebelah kok makin sedikit isinya ya?
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.