Sam Altman: Bos OpenAI Bilang Perusahaan Malas Adopsi AI Bakal “Mati Kutu”! Siapkah Anda Jadi Majikan, Bukan Fosil Teknologi?
Sam Altman dari OpenAI kembali dengan ramalan masa depan yang… sedikit bikin jengkel. Menurutnya, perusahaan yang lambat adopsi AI itu seperti dinosaurus yang lagi nunggu meteor. Tapi jangan panik, ini bukan akhir dunia bagi para Majikan yang punya akal. Justru ini alarm keras untuk kita: AI itu alat, bukan pengganti akal sehatmu. Ini adalah panggilan untuk memegang kendali, bukan sekadar pasrah.
Di gelaran Cisco AI Summit 2026, Sam Altman, CEO OpenAI, membeberkan visinya tentang bagaimana kolaborasi antara manusia dan AI akan membentuk masa depan. Ia menyoroti potensi besar AI dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi di berbagai industri, membandingkan pertumbuhan permintaan AI dengan kecepatan yang akseleratif setiap tahun. Altman bahkan berani memprediksi “peningkatan subjektif 10x” pada model bahasa di tahun 2026. Menurutnya, perusahaan yang tidak siap mengadopsi “pekerja AI” dengan cepat akan berada dalam posisi yang sangat merugikan. Ia juga mengingatkan bahwa adopsi ini akan membutuhkan banyak upaya dan risiko.
Namun, mari kita bedah pernyataan ini dengan kepala dingin. “Peningkatan subjektif 10x” itu mungkin terdengar fantastis, tapi jangan sampai kita terlalu silau. AI memang makin pintar, mampu memproses data dan menghasilkan output dengan kecepatan yang tak terbayangkan manusia. Tapi yang namanya “subjektif” itu artinya masih ada bias, masih ada celah, dan yang paling penting: masih butuh akal Majikan untuk menginterpretasi dan mengarahkannya. AI itu ibarat koki bintang lima yang bisa masak apa saja, tapi kalau disuruh menciptakan resep baru tanpa arahan, hasilnya bisa jadi inovasi kuliner atau malah bencana di dapur.
Altman juga menyinggung tentang “headwinds” atau hambatan yang bisa mempengaruhi industri AI, seperti “destabilisasi global” dan “gangguan rantai pasok”. Ini adalah pengakuan implisit bahwa bahkan dengan segala kecanggihan AI, masih ada faktor-faktor fundamental manusia dan logistik yang tak bisa diatasi oleh algoritma semata. Mesin butuh energi, chip, dan infrastruktur. Dan di balik itu semua, ada manusia yang harus berpikir strategis saat krisis melanda. AI memang rajin, tapi kalau listrik mati atau chip langka, dia cuma jadi tumpukan silikon yang tidak bisa apa-apa.
Ia menyoroti aplikasi Codex dari OpenAI, yang ia sebut sebagai “momen ChatGPT” kedua, di mana agen AI mampu berinteraksi dan mengoding. Tentu ini sebuah lompatan besar. Namun, ide di balik kode, tujuan dari program, dan keputusan etis saat menghadapi dilema, itu semua tetap berada di tangan Majikan yang berakal. Tanpa Majikan yang cerdas, kode AI bisa jadi spaghetti code yang justru menambah masalah.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Untuk menghindari menjadi fosil di era disrupsi ini, para Majikan perlu menguasai AI agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Mengendalikan AI adalah kunci untuk tetap relevan. Atau mungkin Anda ingin membuat konten profesional secara mandiri, menghemat budget untuk talenta, dan membuktikan bahwa kecerdasan manusia tetaplah yang paling berharga. Jangan biarkan AI menjadi alasan Anda untuk malas berpikir, tetapi jadikan AI sebagai pemacu akalmu untuk berinovasi lebih jauh.
Intinya, Sam Altman mungkin CEO OpenAI, tapi dia bukan Majikan akal sehatmu. AI akan terus berevolusi, membuat pekerjaan lebih efisien, bahkan mengubah lanskap ekonomi. Namun, jangan lupa membaca artikel kami tentang Karut-Marut Pasar Kerja Era AI: CEO Cisco Prediksi ‘Karnaval’ PHK, Tapi Siapa Sebenarnya yang Harus Ditakuti? untuk melihat gambaran yang lebih lengkap. Serta, apakah 2026: Tahun AI Agen Mulai ‘Nyelonong’ ke Kantor, Kamu Mau Jadi Bos atau Cuma Penonton?. Tapi ingatlah, semut pun bisa membangun sarang yang rumit karena ada “majikan” yang memberi perintah. Tanpa manusia yang menekan tombol ‘Enter’ dan memikirkan dampaknya, AI hanyalah tumpukan kode mati yang haus listrik.
Dan ingat, besok pagi jangan lupa jemur kasur, biar enggak apek.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”
Gambar oleh: OpenAI via TechRadar