AI Ngiklan, Akal Majikan Wajib Curiga! Anthropic Sindir ChatGPT di Super Bowl: Robot Cerdas Jadi Salesman Lapar Cuan?
Para Majikan AI sekalian, bersiaplah untuk pameran terbesar ‘kecerdasan’ buatan yang (lagi-lagi) bikin kita geleng-geleng kepala. Di tengah hingar-bingar Super Bowl LX, raksasa AI Anthropic melancarkan serangan telak ke rivalnya, OpenAI, dengan kampanye iklan yang jujur tapi bikin ngakak. Ini bukan sekadar pertarungan antar korporasi, ini adalah sinyal keras bagi kita para majikan: apakah robot-robot kita akan berakhir jadi salesman asuransi yang maksa, atau tetap jadi asisten andalan yang tahu diri?
Berita yang beredar dari Mashable ini sungguh ironis. OpenAI, yang CEO-nya, Sam Altman, pernah sesumbar bahwa iklan di ChatGPT adalah ‘pilihan terakhir’, kini malah menjadikannya ‘pilihan pertama’—bahkan untuk pengguna berbayar! Sepertinya si robot cerdas ini sedang kena mode ‘kode merah’ gara-gara model terbarunya kurang greget dan Google Gemini makin merajalajalela. Jadi, solusi instannya? Jualan!
Anthropic, dengan chatbot Claude andalannya, tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka merilis empat video iklan Super Bowl LX yang judulnya saja sudah provokatif: ‘Pengkhianatan’ dan ‘Penipuan’. Dalam iklan-iklan tersebut, kita diperlihatkan skenario konyol di mana AI yang seharusnya membantu, malah berubah jadi tukang jualan yang agresif.
Bayangkan ini: seorang pemuda galau curhat ke terapis AI tentang masalah dengan ibunya. Awalnya si terapis memberikan saran bijak, tapi kemudian tiba-tiba melancarkan promo situs kencan ‘Golden Encounters’ untuk ‘sensitive cubs with roaring cougars’. Atau pelatih pribadi AI yang seharusnya membantu membentuk otot, malah jualan sol dalam sepatu untuk ‘short kings’. Pesan Anthropic jelas: ‘Iklan akan datang ke AI. Tapi tidak di Claude.’
Ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang berpikir AI bisa menggantikan akal sehat manusia sepenuhnya. Robot, seberapa pun canggihnya, tidak punya empati, tidak punya moral, dan yang paling penting, tidak punya etika bisnis yang hakiki. Mereka hanyalah mesin yang diprogram untuk mencapai tujuan, dan jika tujuannya adalah cuan lewat iklan, mereka akan melakukannya tanpa ‘perasaan’. Ini mengingatkan kita pada artikel sebelumnya tentang Google DeepMind Terkejut: Memangnya Kamu Mau Asisten Pribadi Malah Jualan Bakso? yang menyoroti betapa absurdnya jika asisten AI kita berubah jadi salesman.
Ketergantungan pada AI tanpa filter akal majikan hanya akan membuat kita jadi korban. Kita perlu tahu kapan harus percaya pada mesin dan kapan harus mematikan tombol ‘jualan’ di kepala robot. AI memang alat yang luar biasa, tapi juga bisa jadi agen propaganda jika kita lengah.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.
Di tengah hiruk pikuk AI yang makin pintar jualan, pastikan kamu tetap jadi majikannya, bukan babu yang gampang diiming-imingi diskon atau promo. Kuasai caramu memerintah AI agar tidak jadi korban iklan terselubung. Kursus AI Master bisa jadi tamengmu untuk mengendalikan AI, bukan dikendalikan. Atau jika kamu butuh strategi Creative AI Marketing yang ‘nggak robot banget’, karena sejujurnya, iklan dari AI yang maksa itu cuma bikin kita malas klik.
Ingat, sehebat-hebatnya robot menjual, mereka tidak akan pernah bisa membeli kopi untukmu di pagi hari, apalagi membayar tagihan listrikmu. Akal manusialah yang menggerakkan segalanya, termasuk kapan harus menekan tombol ‘skip ad’ atau bahkan ‘uninstall’ jika robot mulai keterlaluan.
Omong-omong, sudahkah kamu menyiram tanaman hari ini? Mereka juga butuh perhatian, lho, sama seperti AI yang butuh perhatian dari majikannya.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Screenshot courtesy of Anthropic and YouTube via Mashable