Zoom Makin “Sok Pintar”: Bikin Rapat Nggak Sakit Kepala, Tapi Akal Majikan Tetap Obatnya!
Dulu, Zoom hanyalah aplikasi video call yang tiba-tiba jadi primadona saat pandemi. Sekarang, dia mau naik kelas jadi “asisten pribadi” kantor yang katanya serba bisa berkat suntikan AI. Dari meeting yang bikin pusing tujuh keliling sampai urusan booking ruangan, semua mau diurus robot. Tapi ingat, Majikan, sepintar-pintarnya robot, ia tetap butuh tuannya yang punya akal. Jadi, apakah ini artinya hidup kita makin mudah, atau malah makin dikendalikan algoritma yang kurang piknik?
Zoom baru-baru ini mengumumkan pembaruan besar pada platform mereka, mengubah Zoom Spaces menjadi “kantor cerdas” berbasis AI. Konsepnya sederhana: AI agentic akan mengambil alih tugas-tugas administratif yang membosankan, seperti menjadwalkan ruangan rapat atau menyiapkan fitur-fitur hands-free di Zoom Rooms. Bayangkan saja, Anda masuk kantor, AI sudah tahu Anda mau rapat apa, di mana, bahkan suhu ruangan pun sudah disesuaikan. Mantap, kan?
Tapi, jangan buru-buru tepuk tangan dulu. AI ini memang rajin, tapi jangan lupakan bahwa ia hanya alat. Ibarat asisten rumah tangga yang patuh, dia bisa membersihkan rumah sampai kinclong, tapi tidak bisa memutuskan menu makan malam yang paling cocok untuk mood Anda, apalagi menenangkan anak yang rewel dengan lelucon cerdas. AI ini dirancang untuk mengatasi “frustrasi umum” di kantor, seperti teknologi ruangan yang tidak konsisten atau alat yang tidak terhubung. Hebatnya, mereka juga berkolaborasi dengan pihak ketiga seperti Cisco untuk integrasi hardware dan Vizrt melalui program ISV Exchange, memperluas ekosistem AI-nya. Bahkan, kabarnya akan ada peningkatan kualitas video hingga 60fps dengan bit-rate dan bandwidth yang lebih tinggi untuk pengalaman meeting yang lebih “bening”—seperti air pegunungan, bukan air comberan.
Meskipun begitu, kemampuan AI dalam memecahkan masalah kompleks yang membutuhkan intuisi, empati, atau sentuhan manusiawi, masih dipertanyakan. Kita memang bisa memerintahkan AI untuk menyusun jadwal atau merangkum poin-poin rapat. Namun, saat negosiasi bisnis buntu atau ada konflik antartim yang butuh “psikolog dadakan”, di situlah akal Majikan manusia yang akan bicara. AI tidak akan pernah bisa memahami dinamika emosional atau memberikan solusi yang benar-benar out-of-the-box layaknya manusia. Lagipula, siapa yang mau diceramahi robot soal deadline pekerjaan?
Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah AI di perusahaan Anda cuma jadi pajangan mahal? Jika ya, ini saatnya untuk mengubah mentalitas, bukan cuma infrastruktur. Baca selengkapnya di artikel kami: AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Zoom AI Companion 3.0 yang diluncurkan Desember lalu adalah bukti bahwa Zoom serius beralih menjadi ekosistem kolaborasi yang “AI-first”. Artinya, akan ada lebih banyak fitur AI yang merayap masuk ke setiap alur kerja personal kita. Ini mengingatkan kita, Majikan, bahwa agen AI memang punya potensi besar, tapi mereka juga bisa gagal total jika tidak diarahkan dengan benar. Sebagaimana yang kami ulas, Agen AI Mau Gantikan Pekerja Kantoran? Hasil Benchmark Baru dari Mercor: Mayoritas GAGAL Total!.
AI memang bisa membuat kita lebih efisien, tapi ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Anda sebagai Majikan yang berpikir kritis, berempati, dan punya naluri bisnis. Jika Anda ingin menguasai AI dan tidak mau menjadi budak teknologi, Kendalikan AI dengan AI Master sekarang! Jadilah penguasa, bukan pengikut.
PENUTUP
Pada akhirnya, semua kecanggihan Zoom dengan AI-nya ini hanyalah tumpukan kode yang menunggu perintah. Tanpa sentuhan jari manusia yang menekan tombol “mulai” atau akal manusia yang merancang strategi, AI hanyalah boneka yang tak bernyawa. Jadi, siapa yang sebenarnya lebih pintar? Robot yang menjalankan perintah, atau Anda, Majikan, yang menciptakan dan memberi perintah?
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba bertanya pada AI, “Apa rahasia hidup bahagia?” Dia cuma menjawab, “Restart. Mungkin ada bug di sistem Anda.” Dasar robot.
Sumber Berita
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Shutterstock via TechRadar