Mak Comblang AI: Janji Cinta Sejati atau Sekadar Robot Ngibul?
Pernahkah Anda merasa bahwa mencari pasangan di aplikasi kencan modern itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami yang dikendalikan oleh algoritma iseng? Nah, bayangkan ini: aplikasi kencan yang berjanji akan memberikan Anda mak comblang pribadi berbasis AI. Namanya Three Day Rule (TDR), dan kami harus bilang, ini lebih mirip robot asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, ketimbang Cupid yang cerdik.
Aplikasi TDR muncul setelah 15 tahun beroperasi sebagai layanan mak comblang premium. Idenya sederhana: memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat perjodohan “gaya lama” menjadi lebih terjangkau dan relevan di era digital. Mereka mengklaim memiliki 60 mak comblang manusia yang melatih AI mereka. Kedengarannya menjanjikan, bukan? Sampai Anda menyadari bahwa manusia adalah Majikan sejati, dan AI, sehebat apa pun, hanyalah alat yang terkadang butuh piknik.
Penulis Molly Higgins dari WIRED mencoba sendiri aplikasi ini, berbekal ‘Tai’, sang pelatih kencan AI. Harapannya, tentu saja, menemukan belahan jiwa dari 250.000 lajang yang katanya “siap bergaul”. Hasilnya? Tai mungkin memang dirancang untuk mencari kecocokan berdasarkan pertanyaan mendalam, bukan cuma warna rambut atau kegemaran makan taco. Namun, realitasnya, AI ini cenderung terjebak dalam bias statistik dan menghasilkan profil yang, terus terang saja, membuat Majikan sejati seperti kita geleng-geleng kepala. Bayangkan, seorang vegan dijodohkan dengan pecinta barbekyu yang hobi menembak. Kurang piknik bukan, AI?
Kritiknya cukup telak: algoritma AI TDR, meskipun dilatih oleh manusia, masih sering menjodohkan pengguna di luar parameter usia yang diinginkan dan terpaku pada satu tipe orang. Lebih parahnya, percakapan awal yang dihasilkan AI terasa repetitif dan kaku. Ibaratnya, ini seperti dua robot yang sedang mencoba ngobrol, dan kita sebagai manusia hanya jadi penonton drama “cinta” mereka. Ini bukan cuma tidak romantis, ini sedikit dystopian, bukan?
AI memang bisa membantu menyaring data, tapi ia tak punya akal sehat untuk menangkap nuansa emosi, sarkasme, atau bahkan humor yang menjadi bumbu utama interaksi manusia. Ibaratnya, Anda menyuruh asisten AI untuk membeli bahan masakan, dia mungkin bisa menemukan yang paling murah, tapi belum tentu tahu cara memilih alpukat yang pas matangnya. Apalagi urusan hati.
Mungkin ada baiknya juga Majikan AI mengendalikan kemampuan AI agar tetap menjadi asisten yang patuh, bukan malah mengambil alih peran krusial dalam hidup kita. Untuk Anda yang ingin lebih jago dalam mengendalikan AI, jangan sampai jadi babu teknologi! Kendalikan AI agar Anda tetap menjadi Majikan dengan AI Master.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Review Tools.
Memang, janji AI untuk mempermudah hidup seringkali menggiurkan, tapi kita harus selalu ingat batasannya. Aplikasi kencan AI seperti TDR, meskipun dengan niat baik, menunjukkan bahwa ada hal-hal yang tak bisa diserahkan sepenuhnya pada algoritma. Koneksi yang sejati, kecocokan yang pas, dan percakapan yang mengalir adalah ranah eksklusif akal manusia.
Pada akhirnya, siapa yang lebih tahu apa yang kita inginkan dalam hidup? Tentu saja diri kita sendiri, sang Majikan yang punya akal. AI hanyalah alat, dan jika kita tidak mengendalikannya, ia bisa saja membuat janji manis yang berujung pada halusinasi digital. Kalau kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandainya AI mendeteksi kecocokan, akhirnya jodoh di tangan Tuhan (dan akal sehat Majikan). Dan omong-omong, kenapa ya sikat gigi elektrik saya selalu kehabisan baterai pas lagi buru-buru? Apakah itu juga ulah AI yang kurang piknik?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “WIRED”.
Gambar oleh: WIRED Staff; Getty Images via TechCrunch