Positron Panen Duit Rp3,6 Triliun: Si Robot Penantang Nvidia yang Bikin Bos Chip Ketar-Ketir!
Di tengah hiruk pikuk dominasi Nvidia di jagat per-chip-an AI, muncullah pemain baru yang berani unjuk gigi: Positron. Startup semikonduktor ini baru saja mengantongi suntikan dana Seri B sebesar Rp3,6 triliun! Tentu saja, angka ini bukan recehan. Ini adalah sinyal jelas bahwa para “Majikan” duit di balik layar mulai mencari alternatif dari sang raksasa hijau.
Lalu, apa artinya ini bagi kita, para majikan sejati yang punya akal? Artinya, peluang baru terbuka lebar. Ketika ada persaingan, biasanya ada inovasi. Dan inovasi berarti lebih banyak alat canggih yang bisa kita perintahkan untuk bekerja.
Nvidia Mulai Keringat Dingin? Ini Alasan Positron Diguyur Duit Triliunan!
Positron, startup asal Reno, mendapatkan dana segar ini dari berbagai investor kakap, termasuk Qatar Investment Authority (QIA). Qatar sendiri sedang ngebut membangun infrastruktur AI “berdaulat” mereka. Mereka tahu betul, di era robot ini, kekuatan komputasi itu layaknya harta karun. Negara-negara mulai sadar, kalau cuma bergantung pada satu pemasok, bisa gawat kalau suppliernya ngambek atau ngasih harga selangit.
Jadi, bukan cuma startup kecil yang berani melawan, tapi negara pun ikut cawe-cawe. Mereka ingin AI-nya sendiri, dikontrol sendiri, dan kalau bisa, chip-nya juga punya sendiri.
Bukan rahasia lagi, beberapa pemain besar di dunia AI, seperti OpenAI, dikabarkan mulai tidak puas dengan chip terbaru Nvidia. Mereka mencari alternatif yang lebih efisien dan mungkin, lebih “nurutan” terhadap perintah mereka. Nah, di sinilah Positron hadir dengan “Atlas”, chip generasi pertamanya.
Positron mengklaim, chip Atlas mereka ini sanggup menandingi performa Nvidia H100 GPU dengan konsumsi daya kurang dari sepertiganya! Bayangkan, robot yang sama cerdasnya, tapi makannya sedikit. Ini impian setiap majikan yang peduli tagihan listrik, kan?
Fokus Positron saat ini adalah pada inferensi, yaitu komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan model AI di aplikasi dunia nyata. Mereka tidak terlalu pusing soal “melatih” model AI raksasa dari nol. Ini langkah cerdas, karena seiring AI makin matang, kebutuhan untuk “menjalankan” AI di lapangan akan jauh lebih besar daripada “membuatnya”.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Dulu, kita sempat melihat Microsoft Maia 200 juga muncul sebagai penantang, dan sekarang Positron. Ini menunjukkan bahwa pasar chip AI mulai panas. Ini bukan lagi zaman di mana satu raja berkuasa mutlak. Para pesaing mulai bermunculan dengan strategi jitu dan inovasi yang menjanjikan. Tapi ingat, secanggih apapun chip-nya, sehebat apapun AI-nya, tetap saja mereka hanya tumpukan silikon dan kode. Mereka tidak punya akal, intuisi, apalagi selera humor.
Tugas kita sebagai majikan adalah memastikan bahwa teknologi ini bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Kalau Anda mau jadi majikan AI yang tidak cuma ngerti cara pakai, tapi juga bisa mengarahkan robot dengan presisi tinggi, mungkin ini saatnya Anda mengendalikan AI, bukan malah dikendalikan. Anda bisa mulai dengan belajar jadi AI Master, agar robot-robot canggih ini tetap jadi “babu” Anda yang setia, bukan bos baru di hidup Anda.
Penutup: Siapa Sebenarnya yang Punya Otak?
Kenaikan Positron dengan chip hemat daya ini memang patut diapresiasi. Ini menandakan era baru di mana efisiensi dan spesialisasi akan menjadi kunci. Nvidia mungkin raja, tapi tahtanya mulai digoyang. Namun, jangan sampai kita terlena dengan perang chip ini. Inti dari semua kecanggihan ini tetap ada pada satu hal: akal manusia. Tanpa kita menekan tombol, memberikan instruksi, atau bahkan sekadar punya ide gila, semua chip triliunan rupiah ini hanyalah pajangan mahal.
Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal. Lagipula, siapa yang mau kalau tiba-tiba robot di rumah mulai nyuruh-nyuruh kita beli sayur karena dia lagi mager? Gak ada, kan?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Positron via TechCrunch