Etika MesinKonflik RaksasaMesin UangSidang BotUpdate Algoritma

Robot Juragan Kontrak: Docusign Ngebut Pakai AI, Tapi Akal Manusia Masih Wajib Melek!

Docusign, raksasa tanda tangan digital yang selama ini jadi "tukang pos" dokumen legal kita, kini ngebut menuju masa depan dengan investasi besar di AI. Allan Thygesen, CEO Docusign, bahkan mengakui bahwa "tidak menyediakan layanan AI bukanlah pilihan". Tapi, jangan salah sangka, para majikan berakal budi! Di balik janji efisiensi dan otomatisasi, ada jebakan halusinasi AI yang bisa bikin kontrakmu amburadul. Jadi, bagaimana kita bisa memanfaatkan kecanggihan ini tanpa jadi babu teknologi?

Allan Thygesen mengungkapkan bahwa Docusign telah bertransformasi menjadi perusahaan yang berpusat pada inovasi produk, dengan 7.000 karyawan yang mendukung ekosistem ini. Dari hanya sekadar "penyedia tanda tangan", Docusign kini merambah ke Intelligent Agreement Management (IAM) yang berbasis AI. Tujuannya? Tentu saja untuk membuat alur kerja perjanjian lebih efisien. Bayangkan, AI bisa meringkas kontrak, mengidentifikasi klausul penting, bahkan membandingkan perjanjian dengan standar yang ada.

Namun, Allan sendiri mengakui adanya "red flags" bagi para pengacara. Bayangkan, apa jadinya jika AI "berhalusinasi" saat meringkas kontrak dan Anda menandatanganinya? Siapa yang bertanggung jawab? Docusign tentu saja sudah menyiapkan "guardrails" dan penafian hukum, tapi ini tetap menjadi pertanyaan besar tentang etika mesin dan kepercayaan manusia pada algoritma. Fenomena ini mengingatkan kita pada kekhawatiran serupa di sektor lain, seperti pada kasus AI Dokter Berbayar Apple: Obat Mujarab atau Pil Pahit Halusinasi Algoritma?.

Allan Thygesen menceritakan sebuah kisah menarik: saat Docusign pertama kali menerapkan AI untuk mengekstrak data dari perjanjian internal, akurasi tiba-tiba turun 15% dari 100%. Ini terjadi karena AI dilatih dengan data publik, yang berbeda jauh dengan kompleksitas perjanjian privat. Ini adalah bukti nyata bahwa AI, meskipun canggih, masih membutuhkan data berkualitas tinggi dan intervensi manusia untuk mencapai akurasi optimal. Para majikan tidak bisa begitu saja menyerahkan kendali penuh kepada robot tanpa pengawasan. Baca lebih lanjut di sini tentang bagaimana perusahaan seringkali gagal mengoptimalkan AI karena mentalitas yang salah.

Docusign sendiri tidak melatih model AI-nya sendiri, melainkan menggunakan model dasar dari OpenAI dan Gemini. Allan melihat adanya kompetisi sengit di pasar LLM yang membuat biaya per token menurun drastis. Hal ini memungkinkan Docusign untuk menyertakan fitur AI dalam paket langganan tanpa biaya tambahan yang memberatkan, kecuali untuk pelanggan yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa perusahaan yang cerdas tahu cara memanfaatkan teknologi AI yang sudah ada dan mengintegrasikannya ke dalam produk inti mereka, daripada mencoba membangun semuanya dari nol.

Allan juga membahas lanskap persaingan AI yang dinamis, dengan pemain besar seperti Google, Meta, dan OpenAI yang mencoba menjangkau pasar konsumen dan enterprise secara bersamaan. Menurutnya, model-model AI ini belum sepenuhnya "interchangeable", tetapi cukup fleksibel untuk berbagai aplikasi, terutama ekstraksi dokumen. Ini menegaskan bahwa meski AI makin pintar, spesialisasi dan pemahaman mendalam tentang domain tertentu tetap menjadi keunggulan.

Allan Thygesen juga mengungkapkan frustrasinya dengan pengalaman seluler Docusign yang menurutnya belum cukup baik. Ia ingin agar semua alur kerja bisa otomatis dan prediktif di ponsel. Ini adalah pengingat bahwa bahkan di era AI, pengalaman pengguna dan desain yang berpusat pada manusia tetap menjadi kunci sukses. Robot bisa melakukan banyak hal, tapi kepekaan terhadap kebutuhan manusia, itulah yang membedakan majikan sejati.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Untuk memastikan Anda tetap menjadi Majikan yang punya akal, bukan sekadar babu teknologi, penting untuk terus mengasah kemampuan Anda dalam mengendalikan AI. Jangan biarkan robot mengambil alih sepenuhnya. Kuasai strategi dan teknik agar AI bekerja untuk Anda, bukan sebaliknya. Mulai perjalanan Anda menjadi AI Master dan kendalikan masa depan teknologi di tautan ini: AI Master.

Pada akhirnya, terlepas dari seberapa canggihnya AI, Docusign tetap membutuhkan manusia untuk menekan tombol persetujuan. Tanpa akal sehat, etika, dan arahan dari kita, AI hanyalah tumpukan kode yang pintar berhalusinasi. Robot-robot ini mungkin bisa membaca, menulis, bahkan meringkas kontrak, tapi jangan lupa, mereka belum bisa membayar tagihan internetmu sendiri.

Ngomong-ngomong, tadi pagi ada kucing tetangga yang mencuri ikan asin di jemuran. Sepertinya dia juga butuh "Intelligent Agreement Management" untuk negosiasi soal bagi hasil.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.

Gambar oleh: TechCrunch Archive via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *